Peran Ayah dalam Krisis Lingkungan: Melampaui Stereotip Maskulinitas

Sumber: Pinterest.com/waleedmohamad892

Permasalahan lingkungan di Indonesia, khususnya sampah rumah tangga, masih menjadi tantangan yang signifikan. Pencemaran lingkungan sering kali berakar pada pengelolaan sampah yang belum optimal di tingkat keluarga. Dalam hal ini, keluarga berperan penting sebagai unit dasar dalam membentuk perilaku peduli lingkungan.

Namun, pembagian peran dalam keluarga menunjukkan bahwa tanggung jawab pengelolaan lingkungan domestik masih lebih banyak dibebankan kepada perempuan. Aktivitas seperti memilah sampah dan menjaga kebersihan lingkungan kerap dipersepsikan sebagai ranah domestik, sehingga keterlibatan ayah relatif terbatas.

Di tengah krisis lingkungan yang semakin kompleks, keterlibatan ayah menjadi semakin relevan. Selain sebagai pengambil keputusan, ayah juga berperan sebagai teladan dalam membentuk perilaku anak. Dengan melampaui konstruksi maskulinitas tradisional, peran ayah dapat memperkuat nilai-nilai keberlanjutan dalam keluarga.

Maskulinitas dan Jarak dengan Isu Lingkungan

Dalam banyak keluarga, aktivitas seperti memilah sampah, mengurangi plastik, atau menjaga kebersihan lingkungan masih dianggap sebagai bagian dari pekerjaan domestik. Padahal, menurut penelitian Melia Anisa Putri,dkk. (2023) pengelolaan sampah rumah tangga membutuhkan keterlibatan seluruh anggota keluarga agar prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dapat berjalan efektif.

Kurangnya keterlibatan laki-laki dalam aktivitas ini tidak hanya berdampak pada efektivitas pengelolaan sampah, tetapi juga memperkuat stereotip bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan bagian dari peran maskulin. Padahal, persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan jika hanya dibebankan pada satu pihak dalam keluarga.

Ayah sebagai Agen Perubahan dalam Keluarga

Di sisi lain, ayah memiliki potensi besar sebagai agen perubahan. Dalam konteks pendidikan lingkungan, keluarga merupakan ruang belajar pertama bagi anak. Menurut penelitian Ajeng Putri Cahyani (2022) edukasi lingkungan yang dilakukan secara langsung dan praktis terbukti mampu meningkatkan kesadaran serta membentuk kebiasaan ramah lingkungan.

Keterlibatan ayah dalam aktivitas sederhana seperti mengajak anak memilah sampah, menghemat listrik, atau mengurangi penggunaan plastik tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membentuk karakter anak. Anak cenderung meniru perilaku yang mereka lihat secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, ayah juga memiliki peran dalam pengambilan keputusan penting di rumah tangga. Keputusan terkait konsumsi, penggunaan energi, hingga gaya hidup keluarga turut menentukan besar kecilnya dampak lingkungan yang dihasilkan.

Menggeser Makna Maskulinitas ke Arah Berkelanjutan

Sumber: Pinterest.com/AltusDiscipline

Perubahan sosial membuka peluang untuk menggeser makna maskulinitas menjadi lebih inklusif dan adaptif. Kepedulian terhadap lingkungan tidak lagi dapat dipandang sebagai aktivitas domestik semata, melainkan sebagai tanggung jawab bersama dalam keluarga.

Dalam kajian yang dilakukan oleh Kastana Sapanli dan tim, pengelolaan sampah di Indonesia masih didominasi oleh pola “buang akhir”. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan sistem tidak hanya membutuhkan kebijakan, tetapi juga partisipasi aktif masyarakat, termasuk dari lingkup keluarga.

Keterlibatan ayah dalam praktik ramah lingkungan dapat menjadi bagian dari solusi tersebut. Dengan mengambil peran aktif, ayah tidak hanya berkontribusi terhadap lingkungan, tetapi juga menunjukkan bentuk tanggung jawab yang relevan dengan tantangan zaman.

Dampak Jangka Panjang bagi Generasi Mendatang

Perilaku yang dibentuk di dalam keluarga memiliki dampak jangka panjang. Kebiasaan sederhana seperti memilah sampah atau mengurangi penggunaan plastik, jika dilakukan secara konsisten, dapat membentuk kesadaran ekologis pada anak.

Masalah lingkungan seperti pencemaran air akibat sampah rumah tangga juga masih menjadi tantangan di berbagai daerah. Penelitian oleh Adi Mustika bersama Imelda Amelia Simbolon (2022) menunjukkan bahwa pembuangan sampah rumah tangga ke sungai masih sering terjadi dan menjadi salah satu penyebab utama pencemaran lingkungan.

Dalam konteks ini, peran keluarga menjadi sangat penting. Ketika ayah turut terlibat aktif, pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan menjadi lebih kuat dan konsisten. Hal ini dapat membantu membentuk generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan.

Pada akhirnya, perubahan menuju gaya hidup berkelanjutan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Ia dapat tumbuh dari kebiasaan kecil di dalam rumah. Ketika ayah mengambil peran aktif dan melampaui batasan stereotip maskulinitas lama, upaya menjaga lingkungan menjadi gerakan bersama yang berakar dari keluarga.

Referensi

Putri, M. A., Janah, Z., & Erinaldi. (2025). Implementasi kebijakan pengelolaan sampah rumah tangga dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(3), 35762–35768. https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/33858

Parma Dewi, I., Harmi, B. A., Lestari, G. A., Putri, A. M., Ilahi, K., Mardisi, P., … Zahratul. (2025). Pemberdayaan masyarakat melalui edukasi pengelolaan sampah rumah tangga. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(3), 30577–30586. https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/31864

Mustika, A., Simbolon, I. A., Yuliani, V., Alifiana, S. R., & Sari, R. N. I. (2025). Pengelolaan sampah rumah tangga dalam konteks pencegahan pencemaran air. JERNIH: Journal of Environmental Engineering and Hygiene, 3(1), 45–55. https://doi.org/10.31537/jernih.v3i1.2392

Supinganto, A., Haris, A., Utami, K., Aswati, A., Ariendha, D. S. R., Sadakah, S., & Hardani. (2021). Pengelolaan sampah berbasis zero waste skala rumah tangga secara mandiri. Jurnal Masyarakat Mandiri, 5(4). https://journal.ummat.ac.id/index.php/jmm/article/view/5092

Mahpudin, E., Lumban Batu, R., & Putri, Z. A. N. (2022). Pengelolaan sampah rumah tangga di Kabupaten Karawang. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6(1), 87–93. https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/3392

Bagikan ke :

Leave a Reply