Mengenal RDF, Inisiatif SCG Mengubah Sampah Jadi Energi

Sumber: Adobe Stock

Indonesia masih menghadapi persoalan serius dalam pengelolaan sampah. Data terbaru menunjukkan timbulan sampah nasional mencapai sekitar 33,79 juta ton per tahun, dengan sekitar 40% di antaranya belum terkelola dengan baik. Kondisi ini membuat beban tempat pembuangan akhir (TPA) terus meningkat dan mendorong pencarian solusi alternatif.

Salah satu pendekatan yang mulai dikembangkan adalah pemanfaatan Refuse-Derived Fuel (RDF). SCG (Siam Cement Group), sebagai bagian dari pengembangan green product, turut memanfaatkan RDF sebagai bahan bakar alternatif berbasis sampah.

RDF merupakan bahan bakar yang dihasilkan dari sampah kering dengan nilai kalor tinggi. Jenis sampah yang digunakan umumnya terdiri dari plastik, kertas, tekstil, dan material sejenis yang sulit didaur ulang namun masih memiliki potensi energi. Sampah ini dipilih karena mampu menghasilkan panas saat dibakar, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Dalam proses pengolahannya, sampah terlebih dahulu melalui tahap pemilahan untuk memisahkan material yang tidak dapat digunakan, seperti logam dan kaca. Setelah itu, sampah dicacah menjadi ukuran lebih kecil agar lebih mudah diproses. Tahap penting berikutnya adalah pengeringan untuk menurunkan kadar air dan meningkatkan nilai kalor.

Material yang telah dikeringkan kemudian diproses lebih lanjut hingga menjadi RDF dalam bentuk padat yang stabil dan siap digunakan. Hasil akhir ini memungkinkan sampah yang sebelumnya tidak termanfaatkan menjadi bahan bakar alternatif.

Di sektor industri, RDF banyak digunakan sebagai substitusi sebagian bahan bakar fosil, terutama di industri semen yang membutuhkan energi dalam jumlah besar. Penggunaan RDF memungkinkan industri mengurangi ketergantungan pada batu bara sekaligus memanfaatkan limbah yang tersedia.

Selain itu, pemanfaatan RDF juga mulai dikembangkan dalam skala yang lebih luas. Pemerintah Indonesia mendorong pembangunan fasilitas pengolahan RDF di beberapa daerah sebagai bagian dari strategi pengelolaan sampah. Salah satu fasilitas bahkan dirancang mampu mengolah hingga 2.500 ton sampah per hari, menunjukkan potensi penerapan teknologi ini dalam skala besar.

Proses pengolahan RDF. Dok. Greenmind.id

Meski demikian, RDF tetap menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah yang lebih luas. Dalam hierarki pengelolaan sampah, pemanfaatan energi seperti RDF berada setelah upaya pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang.

Pengembangan RDF, termasuk yang dilakukan SCG, menjadi salah satu alternatif dalam mengelola sampah sekaligus mendukung kebutuhan energi. Perannya akan sangat bergantung pada bagaimana teknologi ini diintegrasikan dengan upaya lain, seperti pengurangan dan daur ulang, agar pengelolaan sampah bisa berjalan lebih efektif dan menyeluruh.

Bagikan ke :

Leave a Reply