Pasar Bogor Dibongkar: Penyalur Sampah atau Penopang Ekosistem?

Situasi Pasar Bogor Pasca Pembongkaran, Foto: Armansyah

Pembongkaran Pasar Bogor sempat dianggap sebagai bagian biasa dari penataan kota. Bangunan lama dirapikan, kawasan menjadi lebih terbuka, terlihat lebih bersih, dan dinilai lebih nyaman dipandang. Namun, jika dilihat dari sudut pandang biologi lingkungan, perubahan yang terjadi ternyata tidak hanya menyangkut bentuk fisik bangunan. Ada ekosistem kecil yang ikut berubah bersama hilangnya aktivitas pasar tradisional tersebut.

Pasar tradisional bukan sekadar ruang transaksi ekonomi. Aktivitas harian di dalamnya menciptakan lingkungan yang kompleks. Sisa sayur, buah, ikan, daging, air bekas cucian, saluran limbah, hingga kepadatan manusia dalam ruang sempit membentuk kondisi yang ideal bagi berbagai organisme untuk hidup dan berkembang. Lalat, tikus, kecoa, nyamuk, hingga mikroorganisme memanfaatkan keberadaan makanan, air, dan tempat berlindung yang tersedia secara terus-menerus.

Fenomena ini membentuk apa yang dikenal sebagai ekosistem mikro perkotaan, yakni ekosistem kecil yang terbentuk secara alami akibat aktivitas manusia yang berlangsung dalam waktu lama.

Sebelum Dibongkar: Ramai Aktivitas, Ramai Kehidupan

Berdasarkan hasil wawancara dengan Pak Wawan, pedagang yang telah berjualan lebih dari 40 tahun di Gedung Pasar Bogor, kondisi pasar memang identik dengan lalat yang beterbangan, tikus di sekitar selokan, serta aroma dari tumpukan sampah organik. Volume sampah yang dihasilkan setiap hari sangat besar, terutama dari sisa dagangan yang cepat membusuk.

Meskipun terdapat petugas kebersihan, tingginya aktivitas perdagangan membuat pengelolaan sampah sulit dikendalikan secara maksimal. Saluran air menjadi salah satu titik yang paling sering dipenuhi organisme. Air yang bercampur dengan limbah organik menciptakan habitat yang sesuai bagi berbagai makhluk hidup kecil, sehingga kondisi sanitasi pasar sering dianggap kurang baik.

Namun, kondisi tersebut tidak sepenuhnya sama di seluruh kawasan sekitar pasar. Pedagang di kawasan Surya Kencana mengaku lingkungannya relatif lebih bersih. Mereka jarang menemukan lalat atau tikus, sementara saluran air masih berfungsi dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa kepadatan aktivitas perdagangan dan pengelolaan sampah organik memiliki pengaruh besar dalam membentuk kondisi ekosistem mikro yang berbeda di setiap area.

Setelah Dibongkar: Lingkungan Lebih Bersih, tetapi Ekosistem Berubah

Setelah Pasar Bogor dibongkar, kawasan tersebut menjadi lebih terbuka. Tumpukan sampah organik berkurang, bangunan padat menghilang, dan secara visual lingkungan tampak lebih bersih. Organisme seperti lalat dan tikus yang sebelumnya mudah ditemukan kini mulai jarang terlihat karena sumber makanan mereka ikut hilang.

Menurut Pak Heru selaku petugas kebersihan, sebelum pembongkaran dilakukan, sekitar 60–70 persen sampah di Pasar Bogor didominasi oleh sampah organik. Jenis sampah tersebut berasal dari sayur layu, buah busuk, daun-daunan, hingga sisa ikan, ayam, dan daging dari lapak basah. Tingginya volume sampah terjadi karena bahan dagangan mudah rusak, terutama ketika tidak terjual atau terpapar panas terlalu lama.

Selain sampah organik, pasar juga menghasilkan banyak sampah plastik dari aktivitas jual beli, meskipun kebijakan pengurangan plastik sudah mulai diterapkan. Kardus dan karung dari aktivitas bongkar muat barang turut menambah volume sampah. Kondisi sampah yang tercampur sering menimbulkan bau, mengundang lalat, dan berpotensi mengganggu kesehatan apabila tidak dikelola dengan baik.

Selama proses pembongkaran, volume sampah organik memang berkurang di lokasi lama. Namun, sampah tersebut tidak benar-benar hilang, melainkan berpindah lokasi dan sebagian tergantikan oleh sampah konstruksi.

Muncul Potensi Lingkungan Baru

Perubahan fisik kawasan ternyata memunculkan kondisi lingkungan baru yang sebelumnya kurang diperhatikan. Ketika hujan turun, beberapa titik di area bekas pasar mulai mengalami genangan air. Meskipun saluran drainase masih berfungsi, permukaan tanah yang lebih terbuka membuat air lebih mudah tertahan.

Kondisi ini berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Artinya, interaksi biologis di kawasan tersebut sebenarnya tidak hilang, melainkan berubah bentuk. Jika sebelumnya ekosistem didominasi oleh lalat dan tikus akibat keberadaan sampah organik, kini muncul potensi dominasi nyamuk akibat genangan air.

Dampak Ekonomi yang Dirasakan Pedagang

Selain perubahan lingkungan, dampak besar juga dirasakan para pedagang. Pedagang di kawasan Surya Kencana mengaku tidak terlalu terdampak karena lokasi berjualan mereka tidak berpindah jauh. Pendapatan mereka masih relatif stabil, sekitar Rp250 ribu pada hari biasa dan dapat mencapai Rp500 ribu saat hari libur.

Namun kondisi berbeda dialami pedagang yang sebelumnya berjualan di dalam Gedung Pasar Bogor. Setelah direlokasi, jumlah pembeli mengalami penurunan drastis. Suasana pasar yang dulu ramai hingga sore hari tidak lagi dirasakan. Bahkan, beberapa pedagang mengaku pernah tidak memperoleh keuntungan sama sekali dan harus menutup kerugian menggunakan modal pribadi.

Dari hasil wawancara dengan Pak Ujang Nurdin juga ditemukan bahwa sebagian pedagang kehilangan mata pencaharian setelah pembongkaran berlangsung. Situasi ini menunjukkan bahwa kondisi pasar yang sebelumnya dianggap padat, sumpek, dan kotor ternyata memiliki peran besar dalam menciptakan interaksi ekonomi yang tinggi.

Pasar Bukan Hanya Ruang Ekonomi

Pembongkaran Pasar Bogor memperlihatkan bahwa pasar tradisional bukan hanya ruang ekonomi, tetapi juga ruang ekologi. Ketika ruang tersebut diubah, yang berubah bukan hanya bangunan fisiknya, melainkan juga keseimbangan biologis serta pola kehidupan manusia di dalamnya.

Pasar yang sering dianggap sebagai “penyalur sampah” ternyata juga berfungsi sebagai penopang ekosistem mikro sekaligus sumber penghidupan masyarakat. Ketika sampah organik berkurang, populasi lalat dan tikus ikut menurun. Namun ketika pusat aktivitas ekonomi berpindah, pendapatan pedagang juga ikut terdampak.

Di sisi lain, lingkungan yang lebih terbuka menghadirkan potensi persoalan baru, seperti genangan air dan berkembangnya nyamuk. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan ruang kota selalu membawa konsekuensi ekologis dan sosial yang saling berkaitan.

Penulis : Armansyah – Mahasiswa Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pakuan

Bagikan ke :

Leave a Reply