Jakarta Utara, Greenmind.id — Di sudut permukiman padat Cilincing, berdiri sebuah bangunan mungil yang jauh lebih bermakna dari ukurannya. Luasnya hanya 12 meter persegi. Dindingnya terbuat dari susunan hebel dan plastik daur ulang. Lantainya berkilau tipis di bawah sinar matahari, memantulkan serpihan kecil yang tampak seperti mika, padahal itu adalah cangkang kerang hijau yang telah berubah wujud.
Toilet komunal yang baru diresmikan di RT14 RW04, Cilincing, pada Senin (27/4) ini bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah hasil dari pertemuan dua dunia: keahlian arsitektur yang memikirkan kenyamanan, dan kearifan seorang nelayan yang belajar memberi nilai pada limbah.
Dirancang untuk Manusia, Bukan Sekadar Fungsi

Yogi, arsitek dari PT Impack Pratama yang mendesain fasilitas ini, menceritakan bahwa rancangan toilet ini lahir dari pemahaman mendalam terhadap kebutuhan warga. Bukan hanya soal tersedianya tempat buang air, tetapi soal siapa yang menggunakannya dan bagaimana pengalaman mereka.
“Ibu-ibu yang ya kebutuhannya kan pasti lebih spesifik,” ujar Yogi kepada Greenmind.id (27/4). Dari kesadaran itu, ia merancang tiga bilik dalam satu bangunan kompak: dua toilet jongkok untuk kebutuhan umum, dan satu toilet duduk yang diperuntukkan khusus bagi ibu hamil. Sebuah detail kecil yang mencerminkan perhatian besar.
Fasilitas seluas 12 meter persegi ini menggunakan material yang cermat. Dinding bagian bawah dibangun dari hebel, sementara bagian atasnya menggunakan panel Alduro — material inovatif berbahan limbah plastik saset hasil kerja sama dengan PT Sirkular Karya Indonesia. Ringan, tahan, dan sekaligus menjadi bukti bahwa bangunan layak bisa lahir dari sesuatu yang sebelumnya terbuang.
Yang membedakan toilet ini dari kebanyakan fasilitas serupa adalah sistem pengolahan air limbahnya. Dengan memanfaatkan biotank, air yang keluar dari fasilitas ini telah melalui proses pengolahan sebelum dibuang ke saluran. “Air langsung di overflow-nya udah air yang layak buang,” jelas Yogi. Sanitasi yang benar-benar tuntas, bukan hanya memindahkan masalah.
Komitmen pembangunan ini pun unik: seluruh proses pengerjaan dilakukan oleh warga sendiri secara gotong royong. PT Impack Pratama hanya menyiapkan material dan pendampingan. “Komitmennya dari awal kayak gitu,” kata Yogi. “Mereka harus yang buat juga, biar mereka lebih akrab. Nanti juga mereka yang pakai.”
Lantai yang Punya Cerita
Namun ada satu elemen yang membuat fasilitas ini benar-benar istimewa: paving block yang menghampar di sekitarnya. Di sinilah cerita Trisno masuk.
Nelayan berusia 48 tahun dari Kalibaru ini telah lama bergelut dengan persoalan yang kerap luput dari perhatian: limbah cangkang kerang hijau yang terus menumpuk di sepanjang pesisir Cilincing. Sebagai nelayan sekaligus pembudidaya, ia tahu persis betapa massifnya volume limbah itu. Hanya dagingnya yang dimanfaatkan; cangkangnya ditinggal begitu saja.
“Dari keluh kesah saya, limbah yang gak baik ini menjadi pencemaran lingkungan,” tutur Trisno. Sejak 2019, dorongan itu menggerakkannya untuk mencari jalan lain — mengurai, menghancurkan, lalu mengubah cangkang-cangkang itu menjadi cacahan, lalu menjadi material menyerupai pasir, hingga akhirnya menjadi produk beton yang fungsional.
Paving block yang kini menghiasi area toilet Cilincing adalah tipe A2, yakni varian khusus yang dirancang Trisno untuk area dengan kebutuhan resapan air tinggi. Pori-porinya lebih terbuka, cocok untuk halaman, area berkumpul, atau tempat parkir. “Kalau dipakai di sini, karena tempatnya kan udaranya sejuk, bukan tipe jalan yang lalu-lalang kendaraan. Lebih efisien,” jelasnya.
Yang menarik, komposisi paving block ini berbeda dari produk konvensional. Semen yang biasanya mendominasi campuran hingga 50 persen, dalam produk Trisno cukup ditekan menjadi 30 persen. Sisanya adalah campuran cangkang muda dan cangkang sedang yang ia pilah sendiri. “Cangkang muda untuk produk beton, penyeimbang perekat,” katanya. Hasilnya: material yang lebih ramah lingkungan, lebih ekonomis, dan tetap kuat menopang aktivitas sehari-hari.
Ketika Dua Dunia Bertemu
Yang menjadikan toilet ini lebih dari sekadar fasilitas sanitasi adalah pertemuan dua perspektif yang saling melengkapi: Yogi dengan keahlian desain yang memanusiakan ruang, dan Trisno dengan inovasi yang lahir dari lautan dan pengalaman bertahun-tahun.
Keduanya percaya bahwa sanitasi layak dan keberlanjutan lingkungan bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya bisa hadir bersama dalam satu bangunan 12 meter persegi, di sudut Cilincing, yang lantainya berkilau dari cangkang kerang hijau.
“Harapannya untuk pengembangan di bidang sosial masyarakat seperti ini terus maju,” ujar Trisno. Baginya, yang paling penting adalah agar produk-produk lokal berbasis inovasi masyarakat terus mendapat ruang untuk tumbuh dan dimanfaatkan, bukan hanya oleh warga Cilincing, tetapi oleh siapa pun yang membutuhkan solusi serupa.
Di atas lantai cangkang kerang yang ia buat, warga kini bisa berdiri dengan lebih nyaman. Dan itu, bagi seorang nelayan yang dulu hanya ingin limbahnya tidak lagi mencemari pantai, sudah menjadi pencapaian yang luar biasa.
