Bukan Dongeng, “Ikan Duyung” Itu Nyata di Laut Indonesia

Seekor dugong (Dugong dugon) terlihat berenang di kawasan padang lamun perairan dangkal. Satwa laut yang dikenal sebagai “ikan duyung” ini sangat bergantung pada lamun sebagai sumber makanan utama dan habitat hidupnya di ekosistem pesisir Indonesia.

Sejak kecil, banyak orang mengenal putri duyung sebagai makhluk dongeng setengah manusia, setengah ikan, hidup di laut dan hanya ada dalam cerita. Namun, di perairan Indonesia, “ikan duyung” itu sebenarnya nyata.

Ia bukan sosok magis bermahkota kerang, melainkan mamalia laut bernama Dugong dugon, yang hidup diam-diam di padang lamun pesisir. Berbeda dari gambaran dalam dongeng, dugong tidak bernyanyi di atas karang. Ia berenang perlahan, merumput di dasar laut, lalu sesekali muncul ke permukaan untuk bernapas.

Ironisnya, ketika banyak orang masih menganggapnya sekadar legenda, dugong justru berada di ambang ancaman kepunahan.

Mamalia Laut yang Bergantung pada Lamun

Dugong merupakan satu-satunya mamalia laut herbivora sejati di Indonesia. Sekitar 90 persen makanannya adalah lamun, seperti Thalassia hemprichii, Halodule, dan Halophila. Ketergantungan ini membuat dugong sangat rentan terhadap kerusakan habitat pesisir.

Lamun sendiri merupakan tumbuhan berbunga yang hidup di perairan laut dangkal dan sering membentuk hamparan luas di wilayah pesisir. Padang lamun memiliki fungsi penting sebagai tempat mencari makan, berkembang biak, hingga tempat berlindung berbagai biota laut. Bagi dugong, lamun bukan sekadar tumbuhan laut biasa, melainkan sumber makanan utama sekaligus ruang hidup untuk bertahan.

Karena kebiasaannya merumput, dugong sering dijuluki “sapi laut”. Namun perannya jauh lebih penting dari sekadar julukan. Aktivitas makannya membantu menjaga keseimbangan ekosistem lamun, yang menjadi habitat berbagai biota laut.

Kehadiran dugong bahkan menjadi indikator bahwa suatu wilayah laut masih sehat. Ketika dugong menghilang, itu bisa menjadi tanda bahwa ekosistem pesisir sedang bermasalah.

Ada di Indonesia, Tapi Terancam

Di perairan Indonesia, dugong masih dapat ditemukan, salah satunya di wilayah Bangka. Penelitian Farhaby dan Supratman 2021 mencatat sedikitnya 14 titik kemunculan dugong, terutama di daerah dengan padang lamun yang luas dan produktif.

Namun, habitat yang sama juga menjadi ruang aktivitas manusia. Dugong sering berada di area penangkapan ikan, sehingga berisiko terjerat jaring, tertabrak kapal, atau bahkan diburu.

Padahal, dugong telah dilindungi oleh negara melalui Permen LHK No. P.20 Tahun 2018 dan juga masuk dalam daftar merah IUCN Red List dengan status rentan.

Masalahnya, dugong berkembang biak sangat lambat. Seekor induk membutuhkan waktu lama untuk melahirkan dan membesarkan anak. Artinya, kehilangan satu individu saja bisa berdampak besar bagi keberlangsungan populasinya.

Ancaman yang Sering Tak Terlihat

Ancaman terbesar dugong justru datang dari rusaknya padang lamun. Penelitian Dewi dkk. 2018 pada 15 pulau kecil di Indonesia menunjukkan bahwa sedimentasi, reklamasi pesisir, pencemaran laut, lalu lintas kapal, dan konversi lahan menjadi ancaman utama habitat dugong.

Ketika lamun hilang, dugong kehilangan sumber makanan sekaligus tempat hidup. Mereka terpaksa berpindah, kelaparan, atau mati tanpa banyak disadari.

Dugong tidak punah karena predator, tetapi karena ruang hidupnya terus menyusut akibat aktivitas manusia.

Lebih Nyata dari Dongeng

Hari ini, masyarakat mungkin lebih mengenal putri duyung dalam cerita dibanding dugong yang benar-benar hidup di laut Indonesia.

Padahal, dugong adalah “ikan duyung” yang nyata, bukan legenda, melainkan makhluk hidup yang sedang berjuang bertahan.

Menjaga dugong bukan hanya soal melindungi satu spesies langka, tetapi juga menjaga ekosistem pesisir dan masa depan laut Indonesia.

Jika kita terus abai, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya akan mengenal “ikan duyung” dari buku cerita, bukan dari laut tempat ia seharusnya hidup.

Dan saat itu terjadi, kita bukan hanya kehilangan seekor hewan langka, tetapi juga kehilangan bukti bahwa dongeng itu pernah nyata.***

Penulis : Ratna Sahari Nur Rizkiani Nasution – Mahasiswa Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pakuan

Bagikan ke :

Leave a Reply