Partisipasi Publik dan Peran Anak Muda dalam Mengawal Transisi Energi Indonesia

Sumber: Solum.id

Transisi energi tidak hanya berbicara tentang pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan atau pengurangan emisi karbon. Di balik berbagai target dan kebijakan yang telah ditetapkan, terdapat satu faktor penting yang turut menentukan keberhasilannya, yaitu keterlibatan masyarakat.

Dalam forum Indonesia International Environment Technology and Innovation Expo & Conference 2026 yang berlangsung pada Sabtu, 14 Juni lalu, isu keterlibatan masyarakat dalam agenda transisi energi mendapat perhatian khusus. Ari Wijanarko Adipratomo, Policy Advocacy Manager The Climate Reality Project Indonesia, menilai bahwa keberhasilan transisi energi tidak hanya bergantung pada kebijakan dan teknologi, tetapi juga pada sejauh mana publik dapat berpartisipasi secara aktif.

Menurutnya, masyarakat tidak seharusnya hanya menjadi penerima dampak dari berbagai kebijakan energi, tetapi juga perlu diberikan ruang untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan.

Partisipasi Publik Masih Menjadi Tantangan

Meski energi terbarukan terus berkembang di Indonesia, ruang partisipasi masyarakat dalam proses transisi energi dinilai masih menghadapi berbagai tantangan.

Ari menilai masyarakat sering kali diminta untuk mendukung energi bersih, tetapi belum selalu mendapatkan kesempatan yang cukup untuk terlibat dalam perencanaan maupun pengambilan keputusan. Padahal, partisipasi yang bermakna merupakan salah satu fondasi utama dalam konsep transisi energi berkeadilan.

Keterlibatan masyarakat menjadi penting karena kebijakan dan proyek energi pada akhirnya akan berdampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun lingkungan.

“Kalau memang pemerintah ingin mendorong partisipasi publik, ruangnya harus dibuka terlebih dahulu,” kata Ari.

PLTS Atap dan Tantangan Keterlibatan Masyarakat

Salah satu contoh yang disoroti adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap. Teknologi ini dinilai memiliki potensi besar untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam transisi energi karena memungkinkan warga berperan langsung sebagai produsen sekaligus pengguna energi.

Melalui PLTS atap, masyarakat dapat memanfaatkan energi matahari untuk memenuhi sebagian kebutuhan listrik rumah tangga maupun usaha mereka. Model seperti ini juga berpotensi mendorong sistem energi yang lebih terdesentralisasi dan mandiri.

Namun dalam praktiknya, berbagai tantangan regulasi dan keterbatasan kuota masih menjadi hambatan bagi masyarakat yang ingin mengadopsi teknologi tersebut. Akibatnya, peluang untuk meningkatkan partisipasi publik dalam sektor energi belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan secara optimal.

Pandangan tersebut sejalan dalam dokumen Just Energy Transition Partnership (JETP) Indonesia tahun 2022 yang menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, dan komunitas lokal untuk mempercepat transisi energi yang inklusif.

Energi Terbarukan Harus Menciptakan Nilai Tambah

Selain membuka ruang partisipasi, Ari juga menekankan bahwa proyek energi terbarukan seharusnya mampu menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat sekitar.

Menurutnya, manfaat energi bersih tidak berhenti pada produksi listrik semata. Jika dirancang dengan baik, proyek energi terbarukan dapat membuka peluang ekonomi baru yang mendukung kesejahteraan masyarakat lokal.

Pada kawasan panas bumi misalnya, potensi energi yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wisata air panas, usaha mikro, hingga berbagai aktivitas ekonomi berbasis sumber daya lokal. Dengan pendekatan seperti ini, masyarakat tidak hanya menjadi lokasi pembangunan proyek, tetapi juga menjadi penerima manfaat langsung.

Keberadaan manfaat ekonomi yang nyata juga dapat memperkuat dukungan masyarakat terhadap pengembangan energi terbarukan. Ketika warga merasakan dampak positif secara langsung, rasa memiliki terhadap proyek dan agenda transisi energi cenderung tumbuh lebih kuat.

Peran Anak Muda dalam Mengawal Transisi Energi

Di tengah berbagai tantangan tersebut, generasi muda memiliki posisi yang semakin penting dalam mengawal arah transisi energi Indonesia.

Menurut Ari, anak muda dapat berperan sebagai pengingat terhadap berbagai target energi yang telah ditetapkan pemerintah. Selain itu, generasi muda juga dapat menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas lokal, dan masyarakat luas.

Peran lain yang tidak kalah penting adalah meningkatkan literasi energi dan perubahan iklim. Hingga saat ini, isu energi masih sering dianggap sebagai persoalan teknis yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, dampaknya dapat dirasakan secara langsung melalui kualitas udara, biaya energi, hingga meningkatnya risiko bencana akibat perubahan iklim.

Melalui edukasi, kampanye publik, produksi konten, maupun advokasi kebijakan, anak muda memiliki peluang besar untuk mendorong pemahaman masyarakat mengenai pentingnya transisi energi yang inklusif dan berkeadilan.

Mewujudkan Transisi Energi yang Inklusif

Transisi energi yang berhasil membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. Pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, komunitas lokal, hingga generasi muda memiliki peran yang saling melengkapi dalam proses perubahan tersebut.

Karena itu, pembangunan energi bersih tidak cukup hanya berfokus pada teknologi dan infrastruktur. Ruang partisipasi yang terbuka, distribusi manfaat yang adil, serta keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan juga perlu menjadi perhatian utama.

Pada akhirnya, masa depan energi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat pembangkit energi terbarukan dibangun, tetapi juga oleh seberapa besar masyarakat dilibatkan dalam perjalanan tersebut.

Ketika setiap orang memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dan merasakan manfaatnya, transisi energi dapat menjadi lebih dari sekadar agenda lingkungan—ia menjadi jalan menuju pembangunan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan bagi semua.

Bagikan ke :

Leave a Reply