Dulu Dianggap Tak Bernilai, Kini Sampah Plastik Berlapis Menjadi Bahan Bangunan Ramah Lingkungan

Tumpukan sampah plastik yang telah dipilah di Bank Sampah Yayasan Wihdatul Muslimat, Jatinegara, Jakarta Timur, siap disetorkan untuk didaur ulang menjadi bahan bangunan ramah lingkungan. Foto: Dina Shafira/Greenmind.id

Jakarta Timur – Bungkus kopi, kemasan mi instan, sachet sabun, hingga kantong plastik sekali pakai selama ini identik dengan sampah yang sulit didaur ulang. Berbeda dengan botol plastik PET yang sudah memiliki pasar, plastik multilayer (multi-layer packaging/MLP) kerap berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) atau bahkan mencemari sungai karena minimnya fasilitas pengolahan.

Di Jatinegara, Jakarta Timur, kondisi tersebut mulai berubah. Melalui Program Bank Sampah Binaan PT Sirkular Karya Indonesia (SKI), warga kini mengumpulkan sampah plastik yang sebelumnya dianggap tidak bernilai untuk kemudian diproses menjadi bahan bangunan bernilai tambah.

Program yang diluncurkan SKI pada 2024 ini mengusung konsep ekonomi sirkular, yakni mengembalikan limbah plastik ke dalam rantai produksi agar tidak berakhir sebagai sampah. Berbeda dengan bank sampah pada umumnya yang berhenti pada tahap pengumpulan, SKI mengintegrasikan proses edukasi, pengumpulan, hingga pengolahan di fasilitas perusahaan di Karawang.

Dari Rumah Warga Menuju Industri

Manajer Keberlanjutan (Sustainabillity Manager) PT Sirkular Karya Indonesia, Michelle, mengatakan program ini lahir dari persoalan sederhana yang selama ini dihadapi masyarakat.

“Banyak sampah seperti plastik saset atau multilayer yang masyarakat tidak tahu harus dibuang ke mana. Padahal kalau tidak dikumpulkan, ujung-ujungnya bisa menjadi polusi atau bahkan masuk ke sungai,” ujarnya.

Untuk itu, SKI menerima berbagai jenis sampah plastik rumah tangga yang masih dapat dimanfaatkan kembali. Plastik multilayer dihargai sekitar Rp300 per kilogram, plastik PE seperti kantong kresek sekitar Rp500 per kilogram, sedangkan botol PET bening mencapai sekitar Rp4.000 per kilogram.

Setelah ditimbang, sampah tidak dijual ke pihak lain, melainkan dikirim ke fasilitas SKI di Karawang untuk dipilah berdasarkan karakteristik material sebelum diproses lebih lanjut. Michelle menjelaskan proses tersebut dilakukan setelah volume material mencukupi agar kualitas hasil daur ulang tetap terjaga.

Diolah Menjadi Produk Bernilai Tinggi

Yang membedakan Bank Sampah Binaan SKI dari program sejenis adalah penekanan kuat pada aspek edukasi yang dipadukan dengan sistem daur ulang yang terintegrasi.

Di fasilitas pengolahan Karawang, botol PET diolah menjadi bahan baku atap transparan ECOLITE, kantong plastik HDPE dan LDPE diproses menjadi material komposit untuk lapisan inti panel aluminium komposit (ACP) DECOBOND dan ALCOTUFF, sementara plastik multilayer atau plastik saset diolah menjadi bahan baku produk atap ALDURO yang dibuat dari 100 persen limbah plastik daur ulang. Seluruh teknologi pengolahan dikembangkan melalui Impack Research and Innovation Center (IRIC).

Sistem tersebut menciptakan siklus yang utuh, mulai dari pengumpulan sampah di tingkat masyarakat hingga menjadi produk bangunan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Selain mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA, model ini juga membantu mencegah kebocoran sampah plastik ke sungai dan laut.

Kepercayaan Warga Menjadi Kunci

Membangun sistem ternyata bukan tantangan terbesar. Michelle mengungkapkan, pada awal program sebagian warga masih meragukan apakah sampah yang mereka kumpulkan benar-benar akan dibeli.

“Awalnya ada beberapa yang masih skeptis. Mereka bertanya apakah program ini benar. Setelah melihat hasilnya, sekarang mereka percaya dan pengumpulannya terus meningkat,” katanya.

Kepercayaan tersebut tercermin dari peningkatan volume sampah yang berhasil dikumpulkan. Jika pada awal program jumlahnya hanya sekitar 100 kilogram, kini pengumpulan mencapai sekitar 450 kilogram dalam satu periode.

Menurut Michelle, keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya sampah yang terkumpul, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mengelola bank sampah secara mandiri.

“Indikator keberhasilan pertama adalah masyarakat sudah mandiri. Dulu kami mendampingi hampir seluruh proses, sekarang mereka sudah bisa menjalankannya sendiri,” ujarnya.

Mengubah Cara Pandang terhadap Sampah

Pembina Bank Sampah, Virie, mengatakan perubahan terbesar justru terjadi pada cara pandang warga terhadap sampah plastik. Jika sebelumnya bungkus kopi, kemasan sabun, dan plastik saset langsung dibuang, kini warga menyimpannya untuk dipilah dan disetorkan setiap jadwal penimbangan.

Menurutnya, edukasi yang dilakukan secara rutin membuat masyarakat memahami bahwa sampah bukan sekadar limbah, melainkan sumber daya yang masih memiliki nilai apabila dikelola dengan benar.

Antusiasme warga pun terus meningkat. Dalam beberapa kali pengumpulan, volume sampah bahkan melebihi perkiraan sehingga proses pengangkutan harus dilakukan lebih dari satu kali.

Program Bank Sampah Binaan SKI menunjukkan bahwa persoalan sampah plastik tidak selalu berakhir di TPA. Ketika masyarakat, komunitas, dan industri terhubung dalam satu sistem yang berkelanjutan, limbah yang semula dianggap tidak bernilai dapat kembali menjadi bahan baku, menciptakan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.

Bagikan ke :

Leave a Reply