Banjir Bandang dan Longsor di Perbatasan Nepal-China Tewaskan 160 Orang

Foto ilustrasi banjir bandang Nepal yang menerjang kawasan pegunungan di wilayah perbatasan Nepal-China. Sumber foto: Pixabay/Hans

Greenmind.id — Banjir bandang dan longsor menerjang wilayah perbatasan Nepal dan China pada Rabu, 26 Agustus 2026, menyebabkan sedikitnya 160 orang meninggal dunia dan lebih dari 680 orang dilaporkan hilang. Bencana tersebut melanda wilayah Nepal bagian utara serta kawasan Tibet bagian selatan di China dan menimbulkan kerusakan besar pada infrastruktur.

Dilansir dari Anadolu Agency (Anadolu), tim penyelamat di Nepal telah menemukan 157 jenazah dan menyelamatkan 54 orang dari wilayah yang terdampak banjir. Sementara itu, media pemerintah China melaporkan tiga orang meninggal dunia dan 265 lainnya masih hilang di wilayah Tibet bagian selatan, yang disebut Beijing sebagai Daerah Otonomi Xizang.

Kantor Perdana Menteri Nepal menyebut orang-orang yang hilang terdiri atas 44 personel militer, 28 polisi, 13 personel kepolisian bersenjata, serta 60 pekerja sipil yang terlibat dalam proyek pembangkit listrik tenaga air. Sebelumnya, sebanyak 484 wisatawan dan pelancong juga dilaporkan hilang, terdiri atas 391 warga negara asing dan 93 warga Nepal.

Banjir Bandang Nepal-China Rusak Infrastruktur

Dampak bencana meluas ke berbagai fasilitas penting. Sedikitnya 19 jembatan dilaporkan tersapu banjir, sementara sekitar 40 kilometer jalan mengalami kerusakan. Sebanyak 13 proyek pembangkit listrik tenaga air turut terdampak dan sekitar 200 truk dilaporkan hanyut akibat derasnya aliran banjir.

Menteri Luar Negeri Nepal Sishir Khanal mengatakan bencana tersebut menyebabkan sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air, kantor pemerintahan, serta fasilitas jalan mengalami kerusakan. Wilayah Rasuwa, Dhading, dan Chitwan menjadi beberapa daerah yang terdampak cukup parah akibat bencana.

Di sisi China, longsor terjadi di sekitar Pelabuhan Gyirong, salah satu jalur perbatasan utama antara kedua negara. Bencana tersebut menyebabkan akses jalan menuju pelabuhan di sisi China terputus. Gangguan juga terjadi pada jaringan komunikasi dan pasokan listrik di kawasan tersebut.

Presiden China Xi Jinping memerintahkan pelaksanaan operasi pencarian dan penyelamatan secara maksimal. Ia juga meminta warga yang berada di lokasi berisiko segera dievakuasi serta korban luka mendapatkan penanganan medis untuk menekan jumlah korban.

Operasi Pencarian Korban Terus Berlangsung

Operasi pencarian dan penyelamatan dalam skala besar dilakukan di kedua sisi perbatasan. Di Nepal, personel dari kepolisian, kepolisian bersenjata, dan angkatan darat dikerahkan ke wilayah terdampak dengan menggunakan helikopter, drone, dan peralatan untuk menjangkau kawasan yang sulit dilalui.

Orang-orang yang masih hilang berasal dari sejumlah negara, termasuk Nepal, India, Inggris, Afrika Selatan, Malaysia, Australia, dan Belanda. Pemerintah Korea Selatan juga menyatakan delapan warganya belum diketahui keberadaannya, sedangkan 10 warga Korea Selatan lainnya dilaporkan masih terjebak setelah banjir menerjang wilayah tersebut.

Kawasan Rasuwagadhi yang terdampak bencana merupakan salah satu jalur yang sering dilewati wisatawan. Sejumlah wisatawan mendatangi wilayah tersebut untuk melakukan pendakian di kawasan Langtang. Jalur yang sama juga digunakan pelancong yang hendak menuju Gunung Kailash dan Danau Mansarovar di China.

Pemerintah Nepal telah menyiapkan rumah sakit milik pemerintah dan fasilitas kesehatan yang dikelola badan keamanan di Kathmandu untuk menampung korban yang mengalami luka akibat bencana.

India Kirim Bantuan untuk Nepal

India menyatakan kesiapan membantu Nepal dalam menghadapi dampak bencana. Perdana Menteri India Narendra Modi menyampaikan belasungkawa kepada Perdana Menteri Nepal Balendra Shah atas korban jiwa yang ditimbulkan banjir dan longsor tersebut.

India juga mengirimkan 10 ton bantuan kemanusiaan, bantuan penanggulangan bencana, serta obat-obatan untuk mendukung upaya Nepal menangani dampak bencana. Pemerintah India juga menyatakan timnya berkoordinasi dengan pihak Nepal dalam proses penyelamatan dan pemberian bantuan.

Di wilayah Bihar, India, masyarakat yang tinggal di daerah rendah turut diminta meningkatkan kewaspadaan dan berpindah ke tempat yang lebih aman apabila diperlukan. Pemerintah setempat juga meningkatkan pemantauan tanggul dan melakukan patroli malam sebagai langkah antisipasi terhadap dampak banjir dari Nepal.

Longsor Diduga Memicu Banjir Bandang

Penyebab bencana masih dikaji oleh otoritas terkait. Analisis awal citra satelit Planet Labs menunjukkan adanya longsor yang membawa material salju dan batuan di dekat perbatasan Nepal-China. Material tersebut diduga memicu aliran banjir yang membawa banyak material ke Sungai Lhende.

Banjir kemudian menerjang kawasan di sepanjang Sungai Lhende dan Bhotekoshi. Otoritas Nepal masih melakukan penilaian terhadap bencana tersebut untuk mengetahui dampak keseluruhannya.

Sebelumnya, aktivitas seismik sempat dikaitkan dengan gempa berkekuatan 4,4 magnitudo yang diduga memicu longsor dan banjir bandang. Namun, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebut aktivitas tersebut berkaitan dengan longsor berkekuatan 5,2 dan bukan gempa bumi sebagai penyebab bencana.

Hingga Rabu, 26 Agustus 2026, operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di kedua sisi perbatasan. Pemerintah Nepal dan China terus mengerahkan personel untuk menemukan orang-orang yang masih hilang, mengevakuasi warga dari wilayah berbahaya, serta memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak.

Sumber: Anadolu Agency (Anadolu)

Bagikan ke :

Leave a Reply