Greenmind, Lampung – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat Gunung Anak Krakatau mengalami enam kali erupsi pada Senin pagi hingga siang. Rangkaian erupsi berlangsung mulai pukul 09.41 WIB hingga 11.22 WIB.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 09.41 WIB dengan tinggi kolom abu mencapai 250 meter di atas puncak. Dua menit kemudian, erupsi kembali terjadi dengan ketinggian kolom abu yang sama. Aktivitas berikutnya tercatat pada pukul 10.11 WIB, 10.24 WIB, 10.48 WIB, dan terakhir pada pukul 11.22 WIB.
Pada erupsi keenam, kolom abu mencapai sekitar 200 meter di atas puncak atau 357 meter di atas permukaan laut. Kolom abu dalam rangkaian erupsi tersebut teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat serta barat laut.
Aktivitas Vulkanik Masih Dipantau
Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlangsung ketika laporan dibuat. Gunung api yang berada di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, tersebut juga masih berstatus Level III atau Siaga.
Status tersebut telah ditetapkan sejak peningkatan aktivitas vulkanik pada awal Juli 2026. Pemantauan dilakukan melalui pengamatan visual dan instrumental untuk mengetahui perkembangan aktivitas gunung secara berkelanjutan. Beberapa hari sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) juga mencatat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih fluktuatif.
Dengan status Siaga, Badan Geologi Kementerian ESDM mengimbau masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda juga diminta mengikuti perkembangan informasi resmi dan memperhatikan rekomendasi dari otoritas vulkanologi.
Erupsi yang kembali terjadi menunjukkan aktivitas gunung api masih perlu dipantau secara berkelanjutan. Masyarakat di sekitar kawasan terdampak diimbau tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan menjadikan informasi resmi dari Badan Geologi Kementerian ESDM sebagai rujukan.
Bagi kawasan sekitar gunung api, pemantauan aktivitas vulkanik menjadi bagian penting dari mitigasi bencana. Informasi mengenai perubahan aktivitas dan rekomendasi zona bahaya diperlukan agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitasnya dengan kondisi terbaru.
Sumber:
