Ikan Oarfish Terdampar di Pantai Pink Lombok, Benarkah Tanda Bencana?

Ikan oarfish ditemukan mati di kawasan Pantai Pink, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Selasa (25/8/2026). Sumber: Facebook @Baiq Kolby

Greenmind.id — Kemunculan ikan oarfish yang dikenal dengan sebutan “ikan kiamat” di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Selasa, 25 Agustus 2026, menarik perhatian masyarakat. Seekor ikan yang diidentifikasi sebagai oarfish tersebut ditemukan dalam kondisi mati oleh pengunjung sekitar pukul 07.30 WITA. Ikan dengan panjang sekitar empat meter itu kemudian menjadi perhatian setelah video penemuannya dibagikan di Facebook oleh akun @Baiq Kolby dan ramai diperbincangkan di media sosial.

Dikutip dari ANTARA, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Muslim mengatakan kemunculan oarfish di wilayah NTB tergolong sangat langka. Ia menduga perubahan suhu di perairan Samudra Hindia dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan kemunculan ikan yang hidup di laut dalam tersebut ke wilayah pesisir.

Muslim juga menyebut perubahan suhu air laut dapat dipengaruhi oleh kondisi cuaca maupun aktivitas gempa bumi. Ia mengaitkan kemungkinan tersebut dengan gempa yang sebelumnya terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), mengingat wilayah selatan NTB dan NTT berada di kawasan Samudra Hindia dan berada pada satu lempeng.

Meski demikian, Muslim menekankan bahwa dugaan hubungan antara kemunculan oarfish dan gempa tersebut masih sebatas asumsi. Menurutnya, diperlukan kajian ilmiah dan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan apakah terdapat keterkaitan antara kedua peristiwa tersebut.

Foto ilustrasi ikan oarfish yang ditemukan terdampar di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Sumber: Pinterest/ GabruPawPixels

Oarfish Terdampar Disebut Fenomena Alamiah

Berbeda dari dugaan tersebut, Kepala Brida NTB I Gede Putu Aryadi menjelaskan bahwa terdamparnya oarfish di pesisir merupakan fenomena alamiah dan bukan penanda bencana. Menurut Aryadi, ikan laut dalam dapat mencapai wilayah pesisir ketika kondisi fisiknya mengalami penurunan sehingga tidak lagi mampu bertahan di habitatnya.

Ia menyebut sejumlah faktor biologis dapat menyebabkan kondisi tersebut, antara lain masalah kesehatan, cedera fisik seperti patah tulang, hingga usia ikan yang sudah tua. Kondisi tersebut dapat membuat kemampuan ikan untuk berenang secara optimal menurun.

Selain kondisi biologis, arus laut juga dapat berperan dalam membawa ikan yang sudah lemah menuju perairan dangkal. Ikan yang tidak lagi mampu melawan arus laut dalam dapat terbawa perlahan hingga akhirnya mencapai kawasan pesisir dan terdampar di pantai.

Menurut Aryadi, jasad ikan yang masih memiliki struktur fisik cukup kuat dapat tetap mengapung dan terbawa gelombang hingga ke tepi. Sebaliknya, ikan yang mati di tengah laut umumnya akan mengalami kerusakan sebelum mencapai pantai, kecuali kondisi fisiknya masih cukup kuat untuk bertahan selama perjalanan.

Masyarakat Diminta Tak Kaitkan Oarfish dengan Bencana

Aryadi mengimbau masyarakat agar tidak panik ataupun mengaitkan kemunculan oarfish dengan mitos mengenai hari kiamat maupun bencana alam besar, termasuk gempa di NTT. Ia mengatakan sejumlah studi ilmiah, termasuk penelitian dari Jepang yang disebut dalam keterangannya, menunjukkan bahwa sebagian besar kasus terdamparnya ikan laut dalam merupakan peristiwa biologis.

Faktor lingkungan seperti suhu air laut yang rendah, arah arus, serta kondisi gelombang juga dapat menentukan apakah jasad ikan dapat terbawa hingga ke pantai. Karena itu, kemunculan oarfish di Pantai Pink perlu disikapi secara rasional dengan mengacu pada penelitian dan publikasi ilmiah yang valid.

Aryadi juga membandingkan fenomena tersebut dengan kasus terdamparnya paus di Bima yang menurutnya dapat menjadi bagian dari dinamika alam biasa. Ia menegaskan bahwa klaim yang bersifat mistis ataupun anggapan bahwa kemunculan ikan tersebut merupakan pertanda bencana perlu diuji melalui penelitian dan pemantauan ilmiah.

Dengan demikian, kemunculan oarfish di Pantai Pink Lombok Timur pada Selasa, 25 Agustus 2026 belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan akan terjadi bencana alam. Dugaan mengenai pengaruh perubahan suhu maupun gempa masih membutuhkan pembuktian melalui kajian ilmiah, sementara Brida NTB meminta masyarakat menyikapi fenomena tersebut secara rasional dan tidak mengaitkannya dengan mitos atau bencana tanpa dasar penelitian.

Sumber:

Bagikan ke :

Leave a Reply