Di tengah upaya Indonesia mendorong pembangunan yang lebih berkelanjutan, konsep green economy (ekonomi hijau) semakin sering menjadi bagian dari berbagai kebijakan pembangunan. Namun, ekonomi hijau tidak selalu hadir dalam bentuk pembangkit listrik tenaga surya atau industri teknologi ramah lingkungan. Di kawasan transmigrasi Tanjung Banon, Rempang, Kepulauan Riau, ekonomi hijau justru mulai tumbuh dari sesuatu yang sederhana: pohon alpukat.
Kementerian Transmigrasi tengah menyiapkan proyek percontohan budidaya alpukat di kawasan transmigrasi tersebut sebagai bagian dari pengembangan ekonomi masyarakat. Program ini terinspirasi dari keberhasilan Desa Wisata Jambu di Kabupaten Kediri yang berhasil menjadikan alpukat sebagai komoditas unggulan sekaligus sumber peningkatan kesejahteraan warga.
Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menyebut pengembangan Tanjung Banon tidak hanya bertumpu pada sektor kelautan dan pertanian, tetapi juga pada berbagai potensi ekonomi lain yang dimiliki kawasan tersebut. Menurutnya, kawasan transmigrasi perlu berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Pohon yang Menghasilkan Buah dan Menjaga Lingkungan
Berbeda dengan tanaman musiman yang membutuhkan pengolahan lahan berulang kali, alpukat merupakan tanaman tahunan yang mampu menghasilkan manfaat ekonomi dalam jangka panjang. Satu pohon dapat berproduksi selama bertahun-tahun dan memberikan hasil panen secara berkelanjutan.
Dari perspektif ekonomi hijau, karakteristik tersebut menjadi nilai penting. Pohon alpukat tidak hanya menghasilkan komoditas bernilai ekonomi, tetapi juga membantu menjaga tutupan vegetasi, meningkatkan penyerapan karbon, serta menjaga kualitas tanah dan tata air di kawasan sekitarnya.
Dengan kata lain, masyarakat memperoleh pendapatan tanpa harus mengorbankan fungsi lingkungan.
Model seperti inilah yang menjadi salah satu prinsip dasar green economy: pertumbuhan ekonomi yang tetap memperhatikan keberlanjutan sumber daya alam.
Menciptakan Ekonomi Baru dari Kawasan Transmigrasi
Program budidaya alpukat di Rempang juga sejalan dengan arah baru pembangunan transmigrasi yang saat ini tengah didorong pemerintah. Kementerian Transmigrasi menempatkan kawasan transmigrasi bukan lagi sekadar lokasi persebaran penduduk, melainkan sebagai pusat ekonomi baru yang berbasis potensi lokal, investasi, hilirisasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui program-program seperti Tim Ekspedisi Patriot dan revitalisasi kawasan transmigrasi, pemerintah berupaya mengidentifikasi komoditas unggulan yang dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Alpukat di Rempang merupakan salah satu contoh bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi sumber pertumbuhan baru.
Keberhasilan Desa Jambu di Kediri menunjukkan bahwa komoditas sederhana dapat menciptakan dampak ekonomi yang besar apabila dikelola secara kolektif. Warga yang memiliki beberapa pohon alpukat mampu memperoleh tambahan penghasilan yang signifikan setiap tahunnya. Model serupa diharapkan dapat berkembang di Tanjung Banon.
Dari Kebun Menuju Agrowisata
Potensi alpukat Rempang tidak berhenti pada penjualan buah segar. Kementerian Transmigrasi juga mendorong pengembangan kawasan berbasis agrowisata, sentra kuliner, hingga homestay berbasis masyarakat.
Apabila budidaya alpukat berhasil berkembang, peluang ekonomi yang tercipta akan semakin luas. Masyarakat tidak hanya memperoleh pendapatan dari hasil panen, tetapi juga dari sektor wisata, pengolahan produk turunan, hingga jasa akomodasi berbasis komunitas.
Pendekatan ini penting karena ekonomi hijau tidak hanya berbicara mengenai lingkungan, tetapi juga tentang menciptakan lapangan kerja yang inklusif dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Masa Depan Green Economy Bisa Dimulai dari Rempang

Sering kali ekonomi hijau dipahami sebagai konsep yang jauh dari kehidupan masyarakat desa. Padahal kenyataannya, ekonomi hijau justru dapat tumbuh dari aktivitas sehari-hari yang memanfaatkan sumber daya alam secara bijak.
Budidaya alpukat di kawasan transmigrasi Tanjung Banon menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Keduanya dapat tumbuh bersama melalui pengelolaan komoditas lokal yang berkelanjutan.
Jika berhasil, Rempang tidak hanya akan dikenal sebagai kawasan transmigrasi baru. Lebih dari itu, Rempang dapat menjadi contoh bagaimana ekonomi hijau tumbuh dari akar rumput dari kebun-kebun masyarakat yang menghasilkan buah, menjaga lingkungan, dan membuka peluang kesejahteraan bagi generasi mendatang.
