BMKG Nyatakan Peringatan Dini Tsunami Pascagempa Bumi di Filipina Telah Resmi Berakhir

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) saat memberikan keterangan di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta pada Senin (8/6/2026). Foto: BMKG.

Peringatan dini tsunami pascagempa bumi di Mindanao, Filipina dinyatakan telah resmi berakhir oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Sebelumnya, gempa yang terjadi pada Senin (8/6/2026) pukul 06.37 WIB memiliki dampak berupa tsunami di beberapa wilayah Indonesia.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa gempa bumi ini terjadi pada koordinat 1,25° LU; 126,27° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 244 km barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara pada kedalaman 47 km.  

Gempa tersebut merupakan jenis gempa dangkal yang disebabkan oleh akibat aktivitas subduksi lempeng dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

“Hasil pemantauan BMKG, terjadi kenaikan tinggi muka air laut di sejumlah wilayah, di antaranya Loloda pada 07.20 WIB dengan ketinggian 0,09 m, serta pada pukul 07.27 WIB di Ulu Siau setinggi 0,18 m dan Melonguane setinggi 0,32 m,” tutur Faisal dilansir dari Siaran Pers BMKG pada Senin (8/6).

Sensor tide gauge di Tahuna mendeteksi ketinggian air setinggi 0,3 m pada pukul 06.58 WIB, disusul wilayah Paleleh yang mencatat ketinggian 0,45 m pada pukul 07.34 WIB, serta Tanjung Sidupa yang merekam 0,32 m pada pukul 07.39 WIB.  

Kemudian pada pukul 07.51 WIB, alat pemantau melihat kenaikan tinggi muka air laut di Bitung setinggi 0,29 m dan Ternate setinggi 0,14 m. Sementara itu, gelombang tsunami setinggi 0,75 m menerjang wilayah Talengan pada pukul 08.20 WIB. 

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida R. menjelaskan bahwa gempa bumi tersebut terasa kuat dan berdampak pada bangunan dan fasilitas lainnya di sejumlah wilayah Indonesia.

Seperti di daerah Miangas dan Melonguane, warga merasakan gempa bumi dengan intensitas VI MMI yang menyebabkan plester dinding jatuh dan cerobong asap pada pabrik rusak. 

Warga Siau dan Tagulandang juga merasakan getaran dengan intensitas V MMI yang mengakibatkan barang-barang di sekitar terpelanting dan bergoyang. Selain itu, getaran IV MMI terasa di Morotai, Halmahera Utara, dan Manado.

Serupa dengan beberapa wilayah tersebut, di daerah Toli-Toli dan Kab. Gorontalo juga terjadi getaran dengan intensitas III-IV MMI yang dirasakan hampir semua warga dan membuat warga yang sedang tidur terbangun.

Sementara warga di Batang dua, Ternate, Halmahera Barat, Gorontalo, Halmahera Selatan, Halmahera Timur, Parigi Moutong, Manado, Minahasa, Palu, Bitung, Bolaang Mongondow Timur, dan Halmahera Tengah merasakan getaran dengan intensitas III MMI, yakni getaran yang terasa nyata dalam rumah dan seakan-akan sedang ada truk yang berlalu.

“Hingga pukul 10.00 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 20 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar 3,9–6,7,” papar Nelly. 

Adapun Direktur Gempabumi dan Tsunami, Wijayanto, mengimbau masyarakat untuk memastikan keselamatan dan keamanan bangunan sebelum kembali beraktivitas. BMKG mengimbau masyarakat di daerah terdampak untuk melakukan pemeriksaan struktur bangunan sebelum memasuki rumah atau gedung. 

“Apabila masih terdapat kerusakan atau retakan-retakan, perlu menjadi perhatian dan tidak langsung masuk ke dalam ruangan,” ujar Wijayanto.

Setelah memperhatikan kondisi terkini terkait hasil observasi di beberapa wilayah terdampak, tidak ada lagi kenaikan muka air laut signifikan yang membahayakan. 

“BMKG menyatakan bahwa Peringatan Dini Tsunami dinyatakan berakhir pada 10:15:51 WIB. BMKG berterima kasih kepada pemerintah daerah yang sudah membantu diseminasi dan melakukan langkah evakuasi secepatnya,” tutur Faisal. 

Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, juga memastikan BMKG akan menurunkan tim ahli untuk melakukan pemetaan makroseismik (sebaran kerusakan) dan mikroseismik (gempa susulan).

“Seluruh UPT BMKG di daerah telah berkoordinasi dengan stakeholder terkait untuk survei gempa bumi merusak dan monitoring dampak dari gempa tersebut,” ujar Ayu.

Faisal mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan terus waspada dengan melakukan langkah antisipasi, mitigasi, serta perlindungan diri terhadap gempa bumi dan tsunami demi mewujudkan nol korban (zero victim) pascaperistiwa gempa bumi yang terjadi.

BMKG akan bersiaga selama 24 jam seraya memperkuat pemantauan dengan memasang ribuan sensor di seluruh Indonesia agar informasi peringatan dini dapat tersampaikan dengan cepat kepada masyarakat. 

“Kami mengajak masyarakat menerapkan struktur tahan gempa. Masyarakat dapat berdiskusi dan konsultasi dengan para ahli, perguruan tinggi setempat, dan kantor BMKG yang tersebar di 191 lokasi di Indonesia,” pungkas Faisal. 

Sumber:

Siaran Pers Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Senin, 8 Juni 2026, diakses dari https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/bmkg-akhiri-peringatan-dini-tsunami-gempa-m77-filipina-kenaikan-tinggi-muka-air-laut-terpantau-di-sejumlah-wilayah 

Editor: Inesia Dian

Bagikan ke :

Leave a Reply