Tidak semua sampah plastik bisa masuk ke Rebricks. Perusahaan yang berbasis di Ciputat, Jakarta Selatan ini hanya menerima satu kategori spesifik: plastik berlapis (multilayer) sekali pakai. Bungkus mi instan, kemasan kopi saset, sabun cair, kresek, bubble wrap, dan label plastik pada botol minuman masuk dalam daftar yang diterima.
Botol plastik, kaleng, dan kertas tidak ikut diolah, bukan karena tak memiliki nilai, melainkan karena membutuhkan proses berbeda yang belum dapat ditangani mesin Rebricks. Jika sampah yang diterima belum terpilah dengan baik dan masih mengandung material bernilai daur ulang, sampah tersebut akan disalurkan ke fasilitas pengolahan lain yang lebih sesuai.
Bahan baku datang dari komunitas pengirim sukarela yang Rebricks sebut Rebrickers. Mereka mengirim sampah yang sudah dipilah dari rumah, rata-rata satu kali per bulan, ada yang dua minggu sekali. Tidak ada kompensasi finansial, semuanya berbasis kesadaran. “Sukarela aja,” kata Dini, Project Manager Rebricks Indonesia. Kapasitas cacahan yang masuk saat ini sekitar dua ton sampah plastik per bulan dari jalur komunitas ini.
Begitu sampah tiba di Ciputat, proses pertama adalah pencacahan. Plastik multilayer dimasukkan langsung ke mesin pencacah dan keluar dalam bentuk serpihan halus. Prosesnya hanya satu tahap — tidak ada sortasi ulang, tidak ada pencucian, tidak ada pemanasan. Tiga orang pekerja menangani lini ini, dengan kapasitas sekitar 80 kilogram per orang per hari. Hasil cacahan kemudian ditimbang dan dimasukkan ke karung dengan berat standar 17,5 kilogram, standarisasi yang baru diberlakukan sejak Februari 2026 untuk menyesuaikan spesifikasi mesin produksi di Cikupa.

Tantangan terbesar di tahap ini bukan dari materialnya, melainkan dari kontaminan yang tidak terlihat: per pulpen, klip kertas, atau potongan logam kecil yang ikut masuk bersama sampah. Benda-benda itu tidak bisa dicacah dan langsung membebani pisau mesin. “Otomatis mesinnya lebih cepat rusak kalau banyak besi kecil yang masuk,” kata Dini. Sejauh ini belum pernah ada kerusakan total, tapi perawatan darurat dua sampai tiga hari sudah cukup sering terjadi akibat kontaminan jenis ini.
Setelah dikarungkan, cacahan plastik dikirim ke fasilitas produksi Conblock Internusa (CI) di Cikupa, Tangerang — mitra manufaktur Rebricks sejak awal 2026. Di sana, cacahan plastik dicampur dengan pasir khusus, semen, dan gipsum sebagai perekat.
Perpindahan produksi ke CI menandai lompatan kapasitas yang signifikan. Di Ciputat, kapasitas cetak maksimal hanya sekitar 50 meter persegi per hari per lini mesin. Di Cikupa, satu mesin CI bisa menghasilkan minimal 500 meter persegi per hari. Lokasi Ciputat kini difungsikan murni untuk pencacahan dan pengiriman cacahan ke Cikupa, plus produksi roster ventilasi skala kecil yang masih bisa dikerjakan secara manual untuk pesanan tertentu.

Produk akhir yang keluar dari Cikupa mengandung 20 persen sampah plastik secara volume. Paving block ini sudah lolos uji di Badan Bahan dan Barang Teknik Kementerian Perindustrian dengan kategori SNI kelas B, kekuatan tekan 300 kilogram per sentimeter persegi — standar yang memadai untuk lapangan parkir dan jalur pedestrian. Uji di laboratorium TÜV SÜD PSB Singapura memastikan produk tidak mudah terbakar. Umur pakainya mengikuti standar paving block konvensional dengan kekuatan tekan setara: 20 sampai 30 tahun.
Seluruh proses berlangsung tanpa pembakaran dan tidak menghasilkan gas beracun. Plastik multilayer yang sebelumnya nyaris tak memiliki jalur daur ulang kini diubah menjadi bagian dari struktur bangunan. Bukan sekadar solusi sementara, material ini dirancang memiliki masa pakai yang lebih panjang dibanding sebagian besar hasil daur ulang plastik lainnya.
