Rebricks dan Pembuktian Perempuan di Industri Konstruksi 

Novita Tan, salah satu pendiri Rebricks Indonesia, mendorong pengembangan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan sampah plastik menjadi bahan bangunan. Foto: Dina Shafira/Greenmind.id

Industri konstruksi dan manufaktur di Indonesia selama ini jarang dikaitkan dengan kepemimpinan perempuan. Data World Economic Forum dalam laporan Global Gender Gap 2021 menempatkan Indonesia di peringkat 101 dari 156 negara dalam hal kesetaraan gender. Ketimpangan itu terasa lebih tajam di sektor manufaktur dan konstruksi, di mana perempuan lebih banyak berada di lapisan bawah rantai kerja dibanding posisi pengambil keputusan.

Sementara data Kemenko PMK 2023 mencatat 64 persen UMKM di Indonesia dikelola perempuan, angka itu terkonsentrasi di sektor perdagangan dan pertanian, jauh dari industri manufaktur berat maupun konstruksi.

Rebricks masuk tepat ke celah itu. Perusahaan yang didirikan Novita Tan dan Ovy Sabrina pada 2019 ini memproduksi bahan bangunan dari sampah plastik berlapis (multilayer), sebuah irisan antara industri daur ulang, konstruksi, dan keberlanjutan lingkungan. Tidak satu pun dari ketiga bidang itu dikenal sebagai ruang yang terbuka lebar bagi perempuan. Namun keduanya justru memilih membangun bisnis di sana.

Kini, Rebricks mulai diperhitungkan oleh sejumlah pengembang kawasan besar sebagai pemasok material bangunan berkelanjutan. Tetapi perjalanan menuju titik itu tidak selalu berjalan mulus.

Novita Tan sudah terbiasa menjadi satu dari sedikit perempuan di ruang rapat. Ketika Rebricks berkembang dan pertemuan bisnis semakin sering dilakukan, pola yang ia hadapi hampir selalu sama: mayoritas peserta laki-laki, kecuali dirinya dan Ovy Sabrina.

“Di kepala saya sudah tidak terbentuk lagi bedanya apa,” kata Novita. “Yang saya lihat adalah wawasan dari orang-orang ini, apa yang mereka sampaikan.”

Cara pandang itu terbentuk sejak lama. Novita menghabiskan masa SMA di sekolah khusus perempuan, lingkungan yang tanpa disadari membentuk keyakinannya bahwa tidak ada perbedaan kapasitas antara perempuan dan laki-laki yang perlu dipersoalkan. Ketika kemudian ia masuk ke dunia manufaktur dan konstruksi yang secara historis didominasi laki-laki, perspektif itu sudah terlanjur mengakar.

Meski begitu, tantangan tetap muncul dalam bentuk yang kadang samar. Dalam sebuah presentasi bisnis yang dihadiri mayoritas laki-laki, Novita pernah menjawab pertanyaan teknis yang kemudian tidak diterima. Tak lama setelah itu, kolega laki-laki yang hadir menyampaikan jawaban serupa, dan kali ini diterima.

“Kontennya sama,” kata Novita. “Tapi mungkin caranya berbeda.”

Ia memilih tidak mempersoalkan pengalaman itu secara terbuka. Sebaliknya, ia mengubah pendekatannya. “Pake data aja, pake sertifikat aja.”

Bagi Novita, kredibilitas di ruang yang didominasi laki-laki tidak dibangun melalui konfrontasi, melainkan lewat bukti yang sulit dibantah: angka produksi, hasil uji laboratorium, hingga sertifikasi SNI. Strategi itu pula yang digunakan Rebricks untuk menghadapi skeptisisme pasar terhadap produk berbahan dasar sampah plastik.

Kesadaran Novita soal isu gender justru datang belakangan. Beberapa kali ia diundang sebagai pembicara dalam forum yang menempatkan perempuan pengusaha bersama kelompok yang dianggap rentan secara sosial dan ekonomi. Awalnya, ia merasa tidak nyaman dengan kategorisasi tersebut.

“Ego saya terusik,” akunya.

Namun seiring waktu, ia mulai memahami bahwa kerentanan perempuan di dunia kerja bukan semata soal kemampuan individual, melainkan persoalan struktural yang bekerja secara tidak kasat mata, mulai dari akses modal hingga kepercayaan investor.

Menariknya, di tengah pembahasan mengenai gender dalam dunia usaha, Novita mengaku tidak selalu memandang tantangan yang ia hadapi sebagai persoalan gender semata. Ia lebih melihatnya sebagai persoalan kemampuan, konsistensi, dan proses membangun kepercayaan. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman perempuan di dunia bisnis dapat dimaknai secara berbeda-beda, bahkan ketika berada dalam konteks industri yang serupa.

Yang Novita sepakati adalah pentingnya konsistensi. “Mau perempuan, mau laki-laki, menurut saya konsistensi,” kata Novita.

Di tengah industri yang cenderung meragukan perempuan di posisi pimpinan manufaktur, Rebricks menjawab keraguan itu lewat pertumbuhan bisnis. Dari satu lini mesin pada awal operasi, perusahaan kini memiliki empat lini dengan enam mesin produksi. Di fasilitas terbaru mereka di Cikupa, satu mesin mampu memproduksi hingga 500 meter persegi material per hari.

Bahwa Rebricks kini mulai diperhitungkan sebagai pemasok material bangunan berkelanjutan menjadi bukti lain dari strategi tersebut. Bukan semata karena pendirinya perempuan, tetapi karena produknya bekerja, tersertifikasi, dan kompetitif. Pada akhirnya, itulah bahasa yang dipahami di ruang rapat mana pun.

Bagikan ke :

Leave a Reply