Novita Tan sedang berbicara dengan seorang pengepul daur ulang dari salah satu universitas di Indonesia pada 2018 ketika tantangan itu dilontarkan: “Coba lakukan sesuatu dengan sampah plastik saset ini.” Saat itu, tidak ada satu pun pelaku industri di Indonesia yang menyentuh jenis sampah tersebut. Bukan karena tidak ada, melainkan karena tidak ada nilainya.
Plastik kemasan berlapis (multilayer) seperti, bungkus mie instan, saset kopi, kemasan sampo adalah jenis plastik yang terdiri dari kombinasi lapisan polimer plastik dan aluminium foil. Konstruksi itulah yang membuatnya kuat dan tahan kelembapan, sekaligus menjadikannya mustahil diolah kembali dengan teknologi daur ulang konvensional.
Pemulung tidak mengambilnya karena tidak ada harga jualnya. Bank sampah menolaknya karena tidak ada pembelinya. Ujungnya, sampah-sampah itu berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), atau lebih buruk, di sungai dan laut. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2023 mencatat bahwa hanya 9 persen dari total sampah plastik Indonesia yang berhasil didaur ulang setiap tahunnya, dan sampah multilayer tidak masuk dalam angka itu.
Dari pertemuan dengan pengepul berlatar belakang universitas negeri di Indonesia itulah Novita dan rekannya Ovy Sabrina mulai melihat celah yang selama ini dibiarkan kosong. Kalau tidak ada yang memberi harga pada sampah saset, mereka bisa menetapkan harganya sendiri, sesuai kebutuhan produksi. Kalau pasokannya tidak ada yang mau, bahan baku justru bisa didapat hampir tanpa biaya.
Ovy sudah punya bekal. Keluarganya menjalankan bisnis produksi paving block konvensional selama puluhan tahun, sehingga pemahaman soal mesin, komposisi material, dan alur produksi sudah ada. Yang belum ada adalah formulanya: bagaimana mencampur cacahan plastik multilayer dengan semen dan agregat sehingga menghasilkan bahan bangunan yang kuat, aman, dan layak jual.

Novita, yang berlatar belakang psikologi, harus belajar mengenai dunia concrete dan kilogram per sentimeter persegi dari nol. Setiap percobaan membutuhkan waktu dua minggu hanya untuk menunggu semen matang sebelum bisa diuji kekuatannya. Satu variabel salah, semuanya diulang. Seorang dosen teknik membantu mereka mengakses laboratorium kampus dan menganalisis komposisi material, namun percobaan tetap harus dilakukan satu per satu. Novita bahkan memberi dirinya sendiri batas waktu: kalau sampai November 2019 belum ketemu formula yang tepat, proyek ini dihentikan. Sebelum batas itu tiba, mereka menemukan komposisi yang bekerja.
Pada November 2019, Rebricks resmi meluncurkan produk pertamanya: paving block berbahan sampah plastik multilayer. Setiap paving block mengandung 20 persen sampah plastik secara volume. Angka itu bukan sembarangan, konsistensi kekuatan struktural sulit dijaga; kurang dari itu, serapan sampah tidak signifikan secara ekonomi. Produk ini kemudian lolos uji di Badan Bahan dan Barang Teknik (B4T) Kementerian Perindustrian dengan kategori SNI kelas B, kekuatan tekan 250 kilogram per sentimeter persegi, standar yang memadai untuk lapangan parkir dan jalur pedestrian. Uji di laboratorium TÜV SÜD PSB Singapura memastikan produk ini tidak mudah terbakar.
Perusahaan yang mereka dirikan, PT Dua Mitra Gemilang dengan merek dagang Rebricks.id, kemudian menghadapi situasi yang tidak mereka duga. Begitu Rebricks mulai dipublikasikan, perusahaan-perusahaan FMCG mulai menghubungi mereka menawarkan sampah kemasan dalam jumlah besar. Sebagian bahkan bersedia menanggung biaya pengiriman sendiri. Saat ini Rebricks menerima hampir 50 kilogram sampah plastik per hari. Volume sampah yang diolah tumbuh dari sekitar 1.000 kilogram pada 2020 menjadi 5.000 kilogram pada 2021.
Kapasitas produksi ikut berkembang. Dari satu lini mesin, Rebricks kini mengoperasikan empat lini dengan enam mesin, termasuk pengembangan di Semarang yang difungsikan sebagai pusat pemulihan bahan baku. Lini produk meluas dari paving block ke hollow block, roster ventilasi, dan tiles. Seluruh proses produksi dirancang tanpa pembakaran dan tanpa menghasilkan limbah berbahaya lainnya. Plastik multilayer yang tadinya menumpuk dan menggunung di TPA, kini terkunci di dalam struktur bangunan dengan umur pakai setara infrastruktur tempat ia dipasang.
“Kalau tidak diapa-apakan, sampah itu tetap akan ada di sana,” kata Novita. “Lebih baik diberdayakan menjadi salah satu agregrat untuk bahan bangunan bersama infrastruktur yang dibangun.”
Rebricks bukan satu-satunya perusahaan yang kini bergerak di segmen sampah plastik tertolak. Tapi pada 2018, ketika mereka memulai, tidak ada yang mendahului mereka untuk jenis sampah spesifik ini. Posisi itu memberi keuntungan yang tidak kecil: ketika kebijakan penggunaan bahan bangunan hijau mulai didorong pemerintah dan permintaan material bangunan ramah lingkungan mulai tumbuh di kalangan korporasi, Rebricks sudah punya sertifikasi, rekam jejak produksi, dan jaringan pemasok yang tidak perlu dibangun dari nol.
Selama industri makanan dan minuman masih menggunakan kemasan saset, dan selama pembangunan masih terus dilakukan, Rebricks punya dua hal yang tidak akan habis: bahan baku dan pasar. Yang berubah hanya status sampah saset itu sendiri — dari sesuatu yang tidak ada harganya, menjadi fondasi yang orang injak setiap hari.
