Tiga Hektare Lahan Pertanian Terdampak, Lubang Raksasa di Aceh Tengah Terus Meluas

Karung berisi cabai merah hasil panen petani Aceh Tengah yang terdampak perluasan lubang raksasa. Rusaknya akses jalan membuat distribusi hasil pertanian terhambat dan meningkatkan kerugian warga. Foto: ANTARA

Perluasan lubang raksasa akibat tanah amblas di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, terus terjadi hingga Februari 2026. Area terdampak kini mencapai sekitar 3 hektare dan berdampak langsung pada lahan pertanian warga.

Sekitar tiga hektare lahan pertanian dilaporkan mengalami kerugian akibat pergerakan tanah tersebut. Lahan cabai dan perkebunan kopi yang berada di sekitar lokasi tidak lagi dapat dimanfaatkan secara optimal karena risiko longsor yang terus meluas.

Dampak lain yang dirasakan petani adalah terputusnya akses jalan utama penghubung Bener Meriah–Aceh Tengah. Akibatnya, petani harus menempuh jarak hingga 20 kilometer melalui jalur memutar demi menjual hasil panen.

Jurnalis AJNN, Eri Tanara, yang memantau langsung kondisi di lapangan, mengatakan distribusi hasil pertanian kini jauh lebih sulit dibandingkan kondisi normal.

“Biasanya petani bisa mendistribusikan cabai dari kebun itu sekitar satu jam sudah sampai. Sekarang karena jalan putus, mereka harus berjalan kaki berjam-jam melewati medan yang rusak untuk bisa membawa hasil panen keluar,” ujarnya ketika dihubungi langsung oleh Greenmind pada Selasa (24/2)

Sebagian petani bahkan terpaksa mengangkut hasil panen secara manual sebelum mendapatkan kendaraan di titik tertentu yang masih bisa dilalui. Kondisi ini meningkatkan biaya distribusi sekaligus memperbesar risiko kerusakan hasil panen.

Lubang raksasa akibat tanah amblas di Aceh Tengah terlihat membentang di tengah area pertanian dan menghentikan jalur transportasi. Dok: AJNN

Kampung Pondok Balik yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi cabai merah di Aceh Tengah menjadi wilayah yang terdampak langsung. Hasil panen yang seharusnya dapat segera dipasarkan kini tertahan akibat hambatan akses.

Menurut Eri, meski tidak ada lagi warga yang tinggal tepat di sekitar lubang karena telah direlokasi beberapa tahun lalu, lahan pertanian tetap berada dalam zona rawan.

“Sekarang sudah tidak ada lagi warga yang tinggal dekat lubang itu. Tapi lahan pertanian masih ada di sekitarnya,” katanya.

Warga juga kerap mendengar suara gemuruh dari sekitar lokasi, yang menandakan aktivitas pergerakan tanah masih berlangsung.

“Respons ada, tapi penanganan konkret belum ada. Tanah terus bergerak,” ujar Eri menyampaikan keluhan warga.

Masyarakat berharap pemerintah pusat dan daerah segera mengambil langkah teknis yang jelas untuk menghentikan perluasan longsor serta memulihkan akses jalan. Bagi para petani, persoalan ini bukan sekadar kerusakan infrastruktur, melainkan ancaman langsung terhadap keberlangsungan usaha dan pendapatan keluarga mereka.

Sumber:

Lubang raksasa di Aceh Tengah dekati pemukiman warga, tanah longsor setiap hari lima meter. (2026, Februari). Aceh Journal National Network. Diakses dari https://www.ajnn.net/news/lubang-raksasa-di-aceh-tengah-dekati-pemukiman-warga-tanah-longsor-setiap-hari-lima-meter/index.html

ESDM Aceh sebut tanah amblas di Ketol akibat erosi bawah permukaan. (2026, Februari). Aceh Journal National Network. Diakses dari https://www.ajnn.net/news/esdm-aceh-sebut-tanah-amblas-di-ketol-akibat-erosi-bawah-permukaan/index.html

Bagikan ke :

Leave a Reply