Lubang raksasa akibat tanah amblas di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, terus meluas dan menyebabkan jalan alternatif warga kembali terputus. Pergerakan tanah dilaporkan semakin masif sejak 2021 hingga awal 2026.
Berdasarkan laporan Aceh Journal National Network (AJNN), luas area yang terdampak amblas hingga Februari 2026 mencapai sekitar 3.000 meter persegi atau hampir 3 hektare. Longsoran terjadi secara bertahap dan mendekati lahan pertanian serta bekas permukiman warga.
Jurnalis AJNN, Eri Tanara, yang melihat langsung kondisi di lapangan, mengatakan pergerakan tanah terus terjadi dari hari ke hari.
“Semakin hari semakin meluas. Dalam satu kejadian bisa bertambah sekitar 3 sampai 5 meter,” ujarnya saat diwawancarai Greenmind Selasa, (24/2).
Ia menjelaskan, fenomena tanah bergerak di wilayah tersebut sebenarnya sudah terdeteksi sejak awal 2000-an. Pada 2004, pergerakan tanah menyebabkan akses jalan terputus. Tahun 2014, perluasan longsoran membuat warga yang tinggal di sekitar lokasi mulai direlokasi.
“Sekarang sudah tidak ada lagi warga yang tinggal dekat lubang itu. Tahun 2013–2014 masih ada pemukiman di sekitarnya,” katanya.
Dua akses jalan yang menghubungkan wilayah Bener Meriah–Aceh Tengah dilaporkan telah terputus akibat amblasnya badan jalan. Pemerintah daerah sempat menyediakan jalur alternatif melalui Kampung Belang Paku–Segenap Balik, namun jalan tersebut kini juga mengalami kerusakan dan tidak dapat dilintasi kendaraan roda empat.
“Sudah ada respons pemerintah daerah, tapi solusi permanen belum ada. Jalan alternatif pun sekarang sudah amblas,” tambahnya.
Selain akses transportasi, dampak juga dirasakan sektor pertanian. Kampung Pondok Balik yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi cabai merah di Aceh Tengah turut terdampak. Lubang raksasa disebut telah mendekati lahan pertanian cabai dan perkebunan kopi warga.

Warga juga melaporkan suara gemuruh yang kerap terdengar dari sekitar lokasi longsor. Kondisi ini menambah kekhawatiran, terlebih wilayah tersebut berada di kawasan material vulkanik yang tidak padat dan dekat dengan aktivitas Gunung Burni Telong. Status kawasan sekitar disebut waspada, dengan gempa-gempa vulkanik yang kerap terasa pada sore hingga malam hari.
Dinas ESDM Aceh sebelumnya menyebut tanah amblas di Ketol diduga akibat erosi bawah permukaan. Struktur tanah yang labil serta aliran drainase di sekitar lokasi diduga mempercepat proses penggerusan.
“Harusnya sejak awal sudah diantisipasi, karena ada aliran drainase di sekitar situ,” kata Eri.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mendekati lokasi lubang raksasa karena berisiko tinggi terjadi longsoran susulan.
“Di sekitar lubang sering terdengar suara gemuruh. Tanahnya tidak padat. Sewaktu-waktu bisa terjadi longsor lagi. Jadi sebaiknya warga tidak mendekat, apalagi hanya untuk melihat atau berfoto,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tanah yang terus bergerak membuat tepi lubang rawan runtuh tanpa tanda yang jelas. Jarak amblas bisa bertambah dalam hitungan meter dalam waktu singkat.
Kementerian PUPR dilaporkan telah meninjau lokasi dan mengambil sampel tanah untuk kajian teknis. Sementara itu, pihak PLN juga melakukan penanganan terhadap jaringan listrik di sekitar area terdampak, termasuk rencana pemadaman sementara demi keselamatan.
Meski sejumlah instansi telah turun meninjau, warga berharap ada langkah konkret untuk menghentikan perluasan longsor dan memulihkan akses jalan.
“Yang dibutuhkan masyarakat itu penanganan yang nyata, bukan hanya datang melihat,” ujar Eri menyampaikan keluhan warga.
Warga berharap pemerintah pusat dan daerah segera menetapkan solusi permanen, mengingat pergerakan tanah terus berlangsung dan mengancam lahan pertanian serta infrastruktur vital di kawasan tersebut.
Sumber:
Lubang raksasa di Aceh Tengah dekati pemukiman warga, tanah longsor setiap hari lima meter. (2026, Februari). Aceh Journal National Network. Diakses dari https://www.ajnn.net/news/lubang-raksasa-di-aceh-tengah-dekati-pemukiman-warga-tanah-longsor-setiap-hari-lima-meter/index.html
ESDM Aceh sebut tanah amblas di Ketol akibat erosi bawah permukaan. (2026, Februari). Aceh Journal National Network. Diakses dari https://www.ajnn.net/news/esdm-aceh-sebut-tanah-amblas-di-ketol-akibat-erosi-bawah-permukaan/index.html
