Jakarta Timur – Setiap bulan, halaman Yayasan Wihdatul Muslimat di Jatinegara dipenuhi ibu-ibu yang membawa karung berisi botol plastik, bungkus kopi, kemasan deterjen, hingga kantong kresek. Pemandangan itu nyaris tidak pernah terlihat beberapa tahun lalu. Kini, aktivitas memilah dan menyetorkan sampah telah menjadi rutinitas baru bagi sekitar 250 ibu rumah tangga yang mengikuti Program Bank Sampah Binaan PT Sirkular Karya Indonesia (SKI).
Bagi sebagian warga, program ini bukan sekadar tempat menjual sampah. Bank sampah telah mengubah kebiasaan mereka dalam mengelola limbah rumah tangga, sekaligus memberikan tambahan penghasilan dari sampah yang sebelumnya langsung dibuang.
Salah seorang peserta bank sampah mengaku kini lebih memilih menyimpan sampah plastik di rumah daripada membuangnya. Menurutnya, setiap kilogram sampah yang dikumpulkan memang tidak langsung menghasilkan uang dalam jumlah besar, tetapi jika dilakukan secara rutin nilainya terus bertambah.
“Daripada dibuang begitu saja, sekarang kami kumpulkan. Lama-lama jadi tabungan juga. Yang paling terasa justru lingkungan jadi lebih bersih karena sampah plastik tidak lagi berserakan,” ujarnya.
Perubahan serupa dirasakan oleh Virie, Ketua Yayasan Wihdatul Muslimat yang menjadi penggerak kegiatan bank sampah di lingkungan tersebut. Ia mengatakan, ketika program pertama kali diperkenalkan, banyak warga belum memahami pentingnya memilah sampah. Bungkus kopi, plastik saset, hingga kantong kresek biasanya langsung bercampur dengan sampah rumah tangga lainnya.
Setelah mendapat pendampingan, warga mulai memahami bahwa sampah memiliki nilai ekonomi apabila dipisahkan berdasarkan jenisnya. Menurut Virie, tambahan pendapatan yang diperoleh memang belum besar, tetapi cukup menjadi motivasi bagi warga untuk terus memilah sampah dari rumah.
Ia juga melihat perubahan lain yang lebih penting, yaitu tumbuhnya kesadaran lingkungan di tengah masyarakat. Jika sebelumnya hanya segelintir warga yang ikut mengumpulkan sampah, kini para peserta mulai mengajak tetangga dan keluarga untuk ikut menyetor plastik yang masih dapat didaur ulang. Semakin banyak warga yang terlibat, semakin banyak pula sampah plastik yang dapat dicegah agar tidak berakhir di tempat pembuangan akhir maupun mencemari saluran air.
Manajer Keberlanjutan PT Sirkular Karya Indonesia, Michelle, mengatakan perubahan perilaku masyarakat memang menjadi tujuan utama program ini. Karena itu, SKI tidak hanya menyediakan tempat penampungan sampah, tetapi juga melakukan edukasi dan pendampingan agar masyarakat mampu mengelola bank sampah secara mandiri.
“Indikator keberhasilan bukan hanya banyaknya sampah yang terkumpul. Yang lebih penting adalah ketika masyarakat sudah bisa menjalankan program ini sendiri dan kesadaran untuk memilah sampah tumbuh dari dalam komunitas,” kata Michelle.
Pendekatan tersebut mulai menunjukkan hasil. Dalam beberapa bulan terakhir, volume sampah yang berhasil dikumpulkan meningkat dari sekitar 100 kilogram menjadi sekitar 450 kilogram setiap periode pengumpulan. Peningkatan ini mencerminkan bertambahnya partisipasi warga sekaligus meningkatnya kesadaran untuk tidak lagi membuang sampah plastik secara sembarangan.
Seluruh sampah yang dikumpulkan kemudian dikirim ke fasilitas SKI di Karawang untuk diolah menjadi berbagai bahan bangunan berbasis plastik daur ulang. Botol PET dimanfaatkan sebagai bahan baku atap ECOLITE, kantong plastik PE diolah menjadi material komposit untuk aluminium composite panel (ACP), sementara plastik multilayer diproses menjadi bahan baku produk atap ALDURO. Dengan demikian, sampah yang dikumpulkan masyarakat tidak berhenti di bank sampah, tetapi kembali masuk ke rantai produksi sebagai produk baru yang memiliki nilai tambah.
Bagi Virie, dampak terbesar program ini bukan hanya tambahan penghasilan yang diterima warga setiap bulan. Ia menilai, perubahan pola pikir masyarakat menjadi pencapaian yang jauh lebih berarti. Kini, semakin banyak keluarga yang terbiasa memilah sampah dari rumah dan menganggap plastik bekas bukan lagi limbah yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang masih bisa dimanfaatkan.
Di tengah meningkatnya persoalan sampah plastik di perkotaan, perubahan yang terjadi di Jatinegara menunjukkan bahwa solusi tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit. Ketika masyarakat diberi pengetahuan, pendampingan, dan ruang untuk terlibat, kebiasaan sederhana seperti memilah sampah mampu menciptakan dampak lingkungan sekaligus manfaat ekonomi bagi komunitas.
