London, Greenmind.id — Komitmen pemerintah Indonesia untuk mentransformasi pendekatan konservasi dari sekadar pembiayaan perlindungan alam menjadi investasi strategis bagi masa depan pembangunan berkelanjutan ditegaskan oleh Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni pada sesi pembukaan tingkat tinggi “Nature and Finance” dalam acara “London Climate Action Week 2026” yang diselenggarakan di London, Inggris, pada Selasa (23/6/2026).
Raja Juli menegaskan bahwa Indonesia memandang alam sebagai aset strategis nasional yang menjadi fondasi ketahanan ekonomi, ketahanan pangan, ketahanan air, stabilitas iklim, serta kesejahteraan generasi mendatang.
“Indonesia meyakini bahwa alam bukan hanya sesuatu yang harus dilindungi, tetapi merupakan modal pembangunan yang harus dikelola dan diinvestasikan secara berkelanjutan. Karena itu, kita perlu beralih dari paradigma financing conservation menuju investing in conservation,” ujar Raja Juli dilansir dari siaran pers Kementerian Kehutanan pada Senin (23/6).
Indonesia merupakan negara megabiodiversitas dengan kekayaan hayati terbesar di dunia, sehingga konservasi harus mampu menghasilkan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi yang seimbang.
Metode tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan perlindungan sumber daya alam sambil memberikan peluang pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Raja Juli turut memperkenalkan “Presidential Task Force for Innovative Financing for National Parks”, sebuah satuan tugas khusus yang memiliki tujuan untuk memperkuat perlindungan dan pemulihan taman nasional, menjaga spesies langka dan terancam punah, serta mengembangkan sumber-sumber pembiayaan berkelanjutan bagi konservasi.
Satuan tugas tersebut mendukung upaya Indonesia dalam menjaga bentang alam hutan yang penting, mempertahankan keanekaragaman hayati, meningkatkan ketahanan ekosistem, serta mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.
Raja Juli menegaskan, kesuksesan konservasi bergantung pada partisipasi masyarakat. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memastikan bahwa masyarakat hukum adat dan masyarakat lokal berperan sebagai mitra dan penerima manfaat dalam pengelolaan kawasan konservasi.
“Pengetahuan, pengalaman, dan hubungan yang telah terbangun selama berabad-abad antara masyarakat dengan alam merupakan modal yang sangat berharga untuk mewujudkan keberhasilan konservasi jangka panjang,” tegasnya.
Untuk mendukung agenda tersebut, sejumlah tinjauan telah dilakukan di beberapa taman nasional di Indonesia untuk menemukan peluang pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik ekologi, prioritas konservasi, dan kemampuan pengelolaan.
Kredit karbon, kredit biodiversitas, obligasi konservasi spesies, ekowisata, dan debt-for-nature swap merupakan beberapa instrumen yang sedang dikembangkan.
Inisiatif “One Species, One Company”, yang bertujuan mendorong partisipasi sektor swasta dalam mendukung perlindungan satwa ikonik Indonesia seperti badak, orangutan, gajah, harimau, dan cenderawasih turut diperkenalkan dalam forum tersebut.
Dari segi kelembagaan, guna meningkatkan fleksibilitas pengelolaan keuangan dan menjamin keberlanjutan pendanaan konservasi dalam jangka panjang, pemerintah Indonesia tengah memperkuat tata kelola pembiayaan konservasi melalui pengembangan skema Badan Layanan Umum (BLU) pada kawasan taman nasional.
Salah satu prioritas utama yang saat ini sedang dikembangkan adalah penyusunan prospektus investasi berbasis sains untuk tiga belas taman nasional prioritas di Indonesia.
Prospektus tersebut dirancang untuk menunjukkan nilai nyata kawasan konservasi melalui jasa ekosistem, perlindungan keanekaragaman hayati, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, pariwisata berkelanjutan, perlindungan daerah aliran sungai, serta pembangunan masyarakat.
Indonesia berupaya menerjemahkan hasil-hasil konservasi menjadi peluang investasi yang kredibel, transparan, dan dapat direplikasi dalam skala yang lebih luas melalui metode tersebut.
Di akhir sambutannya, Raja Juli mengajak mengajak seluruh pemangku kepentingan global untuk memperkuat sinergi untuk mengatasi ketimpangan pendanaan konservasi global yang masih besar.
“Tidak ada satu negara pun yang mampu menutup kesenjangan pembiayaan alam global sendirian. Diperlukan aksi kolektif, kemitraan inovatif, dan tanggung jawab bersama. Indonesia mengundang pemerintah, lembaga pembangunan, organisasi filantropi, lembaga keuangan, dan investor swasta untuk bersama-sama membangun model pembiayaan konservasi yang praktis, terukur, dan berdampak nyata,” pungkas Raja Juli.
Dengan kekayaan sumber daya alamnya yang luar biasa, inovasi kebijakan, dan komitmen kuat terhadap hasil konservasi yang dapat diukur, Indonesia menegaskan kesiapan untuk menjadi mitra strategis dalam pengembangan solusi pembiayaan alam global.
Sumber:
Siaran Pers Kementerian Kehutanan Republik Indonesia pada Selasa, 23 Juni 2026, diakses dari https://www.kehutanan.go.id/pers/london-climate-action-week-2026-menhut-gencarkan-innovative-financing-energi-baru-pendanaan-taman-nasional
Editor: Inesia Dian
