Tidak ada yang namanya “sungai” di sini. Yang ada adalah kantong kresek hitam yang menggelembung di atas gabus styrofoam. Plastik-plastik berdesakan dengan kardus basah dan potongan kayu. Di bawah semua itu, entah di mana, seharusnya ada air mengalir. Tapi Kali Baru di bawah Jembatan Villa Asia, Bojonggede, pada 5 Juni 2026, tidak mengalir ke mana-mana. Permukaannya tertutup sampah dari tepi ke tepi.
Pagi itu, dunia sedang memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Namun bagi Ramasusanti, perayaan semacam itu terasa jauh dari pemandangan yang ada di depan rumahnya.
Perempuan 58 tahun itu berdiri di tepi Kali Baru di Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, memandangi sungai yang nyaris hilang dari pandangan. Yang tampak hanyalah tumpukan styrofoam, kantong plastik, dan berbagai jenis sampah rumah tangga yang menghampar dari tepi ke tepi, menutup permukaan air sepenuhnya. Di hari ketika berbagai pesan tentang pelestarian lingkungan kembali beredar, sungai di depan rumahnya justru tak terlihat.
Padahal sehari sebelumnya, kondisinya masih berbeda. Kamis pagi, air masih mengalir normal. Menjelang siang, kiriman datang dari arah hulu. Styrofoam, kantong kresek, dan bermacam sampah rumah tangga terbawa debit yang naik setelah hujan. Di bawah Jembatan Villa Asia, bentang beton yang melintang rendah itu menangkap semuanya seperti jaring. Sampah tersangkut, lalu terus bertambah, memadat sedikit demi sedikit hingga aliran air tertutup seluruhnya.
“Enggak lama siangnya sudah penuh gabus-gabus sampah, sampai penuh banget,” kata Ramasusanti.
Ketika pagi berikutnya tiba, tumpukan itu masih berada di tempat yang sama. Sejumlah petugas datang membawa karung dan alat angkut untuk membersihkannya. Mereka berjibaku mengurai sampah yang menyumbat aliran sungai. Pekerjaan itu bahkan dijadwalkan berlanjut hingga Sabtu karena volume sampah yang terlalu besar untuk diselesaikan dalam sehari.
Bagi Ramasusanti, sampah kiriman sebenarnya bukan cerita baru. Selama bertahun-tahun tinggal di bantaran Kali Baru, ia sudah terbiasa melihat berbagai jenis sampah datang setiap musim hujan. Namun kali ini berbeda.
“Ini paling parah selama saya tinggal di sini. Biasanya ada sampah juga, tapi airnya masih kelihatan. Kalau yang sekarang bener-bener ga kelihatan airnya, ketutup sampah semua.”
Yang hilang bukan hanya pemandangan sungai. Ketika aliran tersumbat, air mencari jalan lain. Dan jalan itu sering kali berakhir di halaman rumah warga.
“Kadang kita juga di sini kena, sampai suka banjir di depan rumah.”
Apa yang terjadi di Kali Baru sebenarnya tidak lahir di Kali Baru. Sungai ini hanya menjadi tempat berkumpulnya sampah yang gagal dikelola di tempat lain. Sampah dari pasar, rumah tangga, dan berbagai titik pembuangan di wilayah hulu bergerak mengikuti gravitasi dan arus setiap kali hujan deras turun.
Perjalanan itu kemudian berhenti di bawah Jembatan Villa Asia. Jembatan tersebut bukan penyebab sampah muncul, tetapi bentuknya yang melintang rendah membuat berbagai material mudah tersangkut. Lama-kelamaan, jembatan itu berubah menjadi semacam filter raksasa yang menahan sampah dari seluruh daerah aliran sungai. Ketika tumpukan terus bertambah, aliran air pun perlahan menghilang di bawah lapisan plastik, styrofoam, dan limbah rumah tangga.
Ramasusanti tidak meminta banyak. Ia hanya berharap jembatan itu ditinggikan agar air dapat mengalir lebih leluasa dan sampah tidak lagi mudah menumpuk setiap kali hujan datang.
“Harapannya jembatannya bisa ditinggikan supaya aliran air lebih maksimal dan sampah tidak mudah menumpuk seperti sekarang.”
Permintaan itu terdengar sederhana. Namun dari tepi Kali Baru yang tertutup sampah pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, harapan untuk sekadar bisa melihat aliran sungai kembali ternyata belum menjadi perkara yang mudah diwujudkan.
