Pascabanjir Aceh, Gocement Dorong Pemulihan Sanitasi Lewat Teknologi Zyclonic

Pelatihan teknologi pengolahan limbah air Zyclonic Aceh di RSUD Langsa oleh Gocement pada Sabtu, 9 Mei 2026. Foto: Dok. Gocement.

Di tengah proses pemulihan pascabanjir di Aceh, persoalan sanitasi masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya selesai. Sejumlah fasilitas publik, terutama layanan kesehatan dan ruang komunal, masih menghadapi keterbatasan akses serta pengelolaan air limbah yang aman. Dalam konteks itu, Gocement memilih hadir bukan sekadar lewat bantuan fisik, tetapi melalui edukasi teknologi pengolahan limbah air.

Pada tanggal 8–11 Mei 2026, Gocement menggelar pelatihan dan sharing penggunaan teknologi Zyclonic di empat wilayah terdampak, yakni Aceh Tamiang, Kota Langsa, Aceh Timur, dan Pidie Jaya. Program tersebut menyasar berbagai fasilitas publik, mulai dari RSUD Muda Sedia, RSUD Langsa, RSUD Sultan Abdul Aziz Syah, dan RSUD Dr. Zubir Mahmud, hingga Pondok Pesantren Darul Mukhlisin, Kantor Bupati Tamiang, serta titik lokasi di Meunasah Raya dan Mayang Cut.

Program ini tidak hanya berfokus pada pemasangan fasilitas, tetapi juga memberikan edukasi kepada para penerima manfaat mengenai cara kerja pengolahan dan daur ulang limbah air melalui sistem Zyclonic

Pelatihan penggunaan teknologi Zyclonic untuk pengolahan limbah air yang diselenggarakan Gocement di Aceh Tamiang pada Jumat, 8 Mei 2026. Foto: Dok. Gocement.

Melalui sesi pelatihan tersebut, penerima manfaat diperkenalkan pada proses bagaimana limbah air dapat diolah kembali agar aman digunakan untuk kebutuhan sanitasi non-konsumsi, sekaligus memahami pengoperasian sistem secara mandiri untuk penggunaan jangka panjang. Pada 15 Mei 2026, fasilitas Zyclonic di seluruh titik dilaporkan telah dapat berfungsi secara optimal.

Zyclonic sendiri merupakan teknologi pengolahan limbah cair yang dikembangkan oleh SCG Chemicals Group (SCGC), bagian dari SCG atau Siam Cement Group, perusahaan industri dan material asal Thailand yang selama beberapa tahun terakhir aktif mengembangkan inovasi berbasis keberlanjutan. Di Indonesia, Gocement menjadi salah satu distributor yang memperkenalkan solusi tersebut melalui pendekatan edukasi dan implementasi lapangan.

Teknologi ini memungkinkan limbah air domestik diolah kembali untuk kebutuhan sanitasi non-konsumsi, seperti flushing toilet dan keperluan operasional lainnya. Pendekatan tersebut dinilai relevan di wilayah pasca bencana, ketika akses air bersih masih terbatas sementara kebutuhan sanitasi tetap tinggi.

Menurut Intan, Business Development Gocement, sistem Zyclonic mampu menghemat penggunaan sumber air existing hingga 42 persen. “Tanpa sistem daur ulang, air yang sudah digunakan biasanya langsung terbuang. Padahal, masih ada potensi untuk dimanfaatkan kembali melalui proses pengolahan,” ujarnya kepada Greenmind.id (25/5).

Ia menjelaskan, teknologi Zyclonic memungkinkan limbah air diproses kembali untuk kebutuhan sanitasi non-konsumsi, sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien dan berkelanjutan, terutama bagi fasilitas publik dengan kebutuhan air tinggi seperti rumah sakit.

Sebelumnya, teknologi Zyclonic juga telah diterapkan di berbagai negara, termasuk Arab Saudi, Bangladesh, dan Afrika Selatan, sebagai bagian dari solusi pengelolaan air dan sanitasi berkelanjutan di berbagai fasilitas publik maupun kawasan dengan keterbatasan akses air bersih. 

Langkah yang dilakukan di Aceh menunjukkan bahwa isu pemulihan bencana kini mulai bergeser ke arah yang lebih berkelanjutan. Tidak hanya berfokus pada bantuan jangka pendek, tetapi juga pada bagaimana fasilitas publik dapat memiliki sistem sanitasi yang lebih adaptif, efisien, dan ramah lingkungan untuk jangka panjang.

Bagikan ke :

Leave a Reply