Jakarta, Greenmind — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Kementerian Kehutanan melakukan penandatanganan nota kesepahaman sebagai implementasi dari pengukuhan sinergi untuk upaya melindungi hutan Indonesia dari berbagai risiko kerusakan alam, terutama akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kegiatan tersebut dilakukan pada Rabu (22/4/2026) di Gedung D Command Center Multi-Hazards Early Warning System (MHEWS), Kantor Pusat BMKG, Jakarta.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani memaparkan bahwa langkah pencegahan harus dikukuhkan demi mengendalikan dan mengurangi risiko kebakaran hutan. Terlebih, Indonesia diprediksi akan dilanda kemarau yang kering akibat El Nino.
“Kami sepakat untuk menguatkan perlindungan hutan melalui upaya preventif serta kuratif. Telah dibahas beberapa kerja sama potensial mulai dari pemasangan alat sensor hingga integrasi data dan informasi prediksi untuk upaya pencegahan, pengurangan, atau pengendalian karhutla,” ujar Faisal dilansir dari Siaran Pers BMKG pada Kamis (23/4/2026).
Mengacu pada data BMKG, sebagian wilayah di Indonesia saat ini mulai memasuki musim kemarau. Sedangkan pada semester kedua tahun 2026, fenomena El Nino lemah hingga moderat berpeluang 70-90 persen terjadi.
Di samping itu, per 21 April 2026, jumlah titik api Indonesia mencapai 1.777 titik dengan Riau dan Kalimantan Barat menjadi yang paling banyak. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sehingga risiko kebakaran hutan harus menjadi perhatian bersama.
“Potensi kebakaran hutan dan lahan sangat bergantung pada akurasi data serta optimalisasi upaya preventif, salah satunya melalui intervensi atmosfer pada Operasi Modifikasi Cuaca (OMC),” imbuh Faisal.
Saat ini, OMC tengah dilakukan di Riau dan Kalimantan dengan tujuan untuk meningkatkan tinggi muka air tanah gambut. Sehingga, lahan-lahan gambut akan tahan dari kebakaran ketika terjadi penurunan curah hujan.
BMKG juga dalam tahap melakukan koordinasi dengan pemangku kepentingan di Jambi dan Sumatera Selatan untuk kegiatan membasahi kembali lahan (rewetting) melalui OMC sebagai langkah pencegahan meningkatnya titik panas.
Rewetting merupakan kunci untuk mempertahankan tingkat kesulitan terbakar atau kesulitan dibakar pada lahan gambut.
Lebih lanjut, Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni menilai bahwa BMKG memiliki peran penting dalam upaya melindungi hutan Indonesia melalui berbagai upaya pencegahan karhutla. Hal tersebut tidak lepas dari ilmu pengetahuan yang menjadi dasar setiap kebijakan sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara saintifik.
“Kejadian karhutla tahun ini berpotensi meningkat seiring dengan adanya El Nino. Maka dari itu, intervensi melalui OMC dan ketepatan data sangat menentukan apakah karhutla ini akan bisa ditekan, termasuk penegakan hukum dan disiplin masyarakat kita untuk tidak membakar lahan,” tutur Raja Juli.
Kolaborasi BMKG dan Kemenhut mencakup penyediaan, pemanfaatan, dan penyebarluasan informasi meteorologi, klimatologi, geofisika (MKG), serta kehutanan; pertukaran dan integrasi data dan/atau informasi; penyelenggaraan modifikasi cuaca; penguatan kapasitas sumber daya manusia; serta dukungan pelaksanaan program strategis nasional.
Kesepakatan yang tercipta turut mencakup penyusunan kajian dan analisis risiko di bidang MKG dan kehutanan; serta pemanfaatan sarana dan prasarana pendukung kerja sama sesuai peraturan perundang-undangan.
Kolaborasi ini diharapkan mampu menekan angka karhutla dan memberikan dampak yang positif bagi ekonomi, pendidikan, serta kesehatan masyarakat.
Sumber:
Siaran Pers Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Diakses dari https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/lindungi-hutan-indonesia-bmkg-dan-kemenhut-perkuat-akurasi-data-prediksi-dan-omc
Editor: Inesia Dian
