Greenmind, Jakarta – Ratusan perahu berhias bendera merah putih memenuhi perairan Kalibaru, Jakarta Utara, Minggu (30/8/2026). Di antara warna-warni hiasan dan kemeriahan Festival Kalibaru, para nelayan membawa pesan yang lebih dari sekadar perayaan: menunjukkan bahwa kehidupan nelayan kecil masih ada di tengah kawasan pesisir yang terus berkembang.
Trisno, pengurus Koperasi Nelayan Kalimaur Timur, mengatakan keterlibatan nelayan dalam festival tahun ini menjadi momentum untuk memperlihatkan keberadaan nelayan dari Kalibaru, Cilincing, dan Marunda yang tergabung dalam KCM.
Menurutnya, para nelayan bahkan ingin menghadirkan lebih dari 200 perahu dalam parade. Jumlah tersebut menjadi simbol keberadaan nelayan kecil di pesisir utara Jakarta.
“Masih ada nelayan kecil di utara,” ujar Trisno.
Ia mengatakan, perkembangan pembangunan di kawasan pesisir membuat keberadaan nelayan perlu kembali diperhatikan. Bagi Trisno, festival menjadi kesempatan untuk memperlihatkan bahwa di balik perkembangan kawasan tersebut masih terdapat masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada laut.

Festival dan Cerita yang Selama Ini Kurang Terlihat
Festival Kalibaru bukan kegiatan yang baru digelar. Menurut Trisno, festival telah menjadi agenda rutin selama beberapa tahun. Namun, keterlibatan dan cerita nelayan belum banyak terekspos.
Karena itu, kehadiran nelayan dalam festival tahun ini diharapkan dapat membuat kehidupan masyarakat pesisir lebih terlihat, terutama di tengah pembangunan yang berlangsung di kawasan tersebut.
Bagi nelayan, perhatian tersebut bukan hanya soal pengakuan. Mereka juga membutuhkan fasilitas yang dapat menunjang aktivitas sehari-hari.
Trisno menyebut kebutuhan terhadap dermaga dan sentra penjualan ikan sebagai salah satu hal yang ingin diperjuangkan. Menurutnya, keberadaan tempat tersebut dapat membantu nelayan menjual hasil tangkapan dengan lebih baik sekaligus menyediakan ruang untuk menyimpan peralatan melaut.
Dengan adanya sentra penjualan, ia berharap hasil tangkapan nelayan dapat memperoleh nilai jual yang lebih baik dan nelayan dari berbagai wilayah dapat memiliki ruang untuk bertemu serta menjual hasil lautnya.
Ketika Laut Sulit Diandalkan
Kebutuhan terhadap fasilitas tersebut juga tidak dapat dilepaskan dari kondisi kehidupan nelayan yang masih menghadapi berbagai tantangan.
Trisno mengatakan kondisi ekonomi nelayan belum sepenuhnya memadai. Perbedaan alat tangkap, kondisi air yang keruh, hingga perubahan kondisi lingkungan dapat memengaruhi hasil tangkapan. Ia juga menyinggung budidaya kerang hijau yang dapat terdampak ketika kondisi lingkungan dan kualitas air memburuk.
Karena itu, menurut Trisno, pemberdayaan masyarakat pesisir tidak cukup hanya diarahkan pada aktivitas melaut. Ketika hasil tangkapan berkurang, keluarga nelayan juga membutuhkan alternatif penghasilan di darat.
Ia mendorong pengembangan usaha mikro, kuliner, serta pengelolaan limbah yang dapat menjadi bagian dari program pemberdayaan masyarakat pesisir.
Agar Festival Tidak Berhenti sebagai Perayaan
Trisno berharap perhatian terhadap nelayan berlanjut setelah festival selesai. Menurutnya, edukasi yang diberikan pemerintah perlu diikuti program yang benar-benar berjalan di lapangan.
Ia mendorong adanya program berkelanjutan untuk pengelolaan lingkungan, pengolahan limbah, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.
“Jangan cuma edukasi cerita doang.”
Baginya, pembangunan kawasan pesisir dan kehidupan nelayan seharusnya dapat berjalan beriringan. Ketika kawasan terus berkembang, kebutuhan masyarakat yang hidup dari laut juga perlu menjadi bagian dari perencanaan.
Pada akhirnya, parade ratusan perahu di Festival Kalibaru bukan hanya pemandangan meriah di atas air. Bagi nelayan, perahu-perahu tersebut menjadi penanda bahwa di tengah wajah pesisir Jakarta Utara yang terus berubah, masih ada kehidupan yang bergantung pada laut dan membutuhkan ruang untuk tetap bertahan.
