Jika Anda mengikuti berita bisnis atau membaca laporan perusahaan belakangan ini, ada satu istilah yang hampir selalu muncul: ESG.
Mulai dari bank, perusahaan tambang, produsen barang konsumsi, hingga startup teknologi, banyak yang berlomba menunjukkan komitmen ESG mereka. Di Indonesia, istilah ESG juga semakin sering muncul dalam diskusi tentang investasi, keberlanjutan, hingga strategi bisnis.
Lalu sebenarnya, apa itu ESG? Mengapa ESG yang dulu hanya dikenal di kalangan investor kini menjadi perbincangan luas di dunia bisnis?
Apa Itu ESG?
ESG adalah singkatan dari Environmental, Social, and Governance atau lingkungan, sosial, dan tata kelola.
Secara sederhana, ESG merupakan kerangka yang digunakan untuk menilai bagaimana sebuah perusahaan mengelola dampak lingkungan, hubungan sosial, dan tata kelola bisnisnya. Namun sejak awal, ESG bukan sekadar alat untuk mengukur seberapa “hijau” sebuah perusahaan. ESG lahir sebagai cara untuk melihat risiko dan ketahanan bisnis dalam jangka panjang.
Dengan kata lain, ESG muncul dari pertanyaan sederhana: apakah sebuah perusahaan dapat terus berkembang jika mengabaikan isu lingkungan, konflik sosial, atau tata kelola yang buruk?
ESG Ternyata Bukan Konsep Baru
Meski baru ramai dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir, ESG sebenarnya sudah berusia lebih dari dua dekade.
Istilah ESG pertama kali diperkenalkan secara luas pada tahun 2004 melalui laporan Who Cares Wins: Connecting Financial Markets to a Changing World yang didukung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Laporan tersebut mengajak pelaku pasar keuangan untuk mulai mempertimbangkan faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam pengambilan keputusan investasi.
Saat itu, gagasan tersebut dianggap cukup revolusioner. Selama bertahun-tahun, keberhasilan perusahaan umumnya dinilai hampir sepenuhnya dari laba, pertumbuhan bisnis, dan kinerja keuangan. Faktor lingkungan atau sosial sering dipandang sebagai isu terpisah dari urusan bisnis.
Namun para investor mulai menyadari bahwa masalah lingkungan, konflik dengan masyarakat, atau kasus tata kelola dapat berujung pada kerugian finansial yang besar.
Dari Ruang Investor ke Ruang Rapat Direksi
Perjalanan ESG semakin cepat setelah lahirnya inisiatif Principles for Responsible Investment (PRI) pada tahun 2006.
PRI didukung oleh PBB dan mendorong investor untuk memasukkan faktor ESG ke dalam analisis investasi mereka. Dua puluh tahun kemudian, jaringan PRI telah berkembang menjadi lebih dari 5.000 lembaga keuangan dan investor dengan aset kelolaan sekitar US$139,6 triliun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa ESG bukan lagi isu pinggiran. Ketika investor yang mengelola triliunan dolar mulai memperhatikan ESG, perusahaan pun ikut memperhatikannya.
Sederhananya, ESG menjadi penting karena investor mulai bertanya bukan hanya “berapa keuntungan perusahaan?”, tetapi juga “seberapa siap perusahaan menghadapi risiko masa depan?”
Mengapa ESG Semakin Populer Saat Ini?
Ada beberapa alasan mengapa ESG menjadi semakin relevan dalam dunia bisnis.
- Pertama, perubahan iklim semakin nyata. Banjir, cuaca ekstrem, kekeringan, dan gangguan rantai pasok kini dapat memengaruhi operasional perusahaan secara langsung. Risiko lingkungan yang dulu dianggap isu jangka panjang kini mulai muncul dalam laporan risiko bisnis sehari-hari.
- Kedua, regulasi terus berkembang. Banyak negara mulai memperketat aturan terkait pelaporan keberlanjutan, emisi karbon, hingga transparansi rantai pasok. Perusahaan tidak lagi hanya dituntut menghasilkan keuntungan, tetapi juga menjelaskan dampak aktivitas bisnisnya.
- Ketiga, ekspektasi pasar berubah. Investor, konsumen, hingga lembaga keuangan semakin ingin mengetahui bagaimana perusahaan mengelola risiko lingkungan dan sosial sebelum mengambil keputusan bisnis.
Karena itulah ESG berkembang dari sekadar istilah teknis menjadi bagian dari strategi perusahaan modern.
ESG Bukan Sekadar Tren Sustainability
Banyak orang menganggap ESG hanyalah tren terbaru dalam dunia sustainability. Padahal, alasan ESG bertahan selama lebih dari dua dekade justru karena ia berbicara dalam bahasa yang dipahami dunia bisnis: risiko dan nilai ekonomi.
Bagi investor, ESG membantu mengidentifikasi risiko yang mungkin tidak terlihat dalam laporan keuangan. Bagi perusahaan, ESG menjadi cara untuk menunjukkan kesiapan menghadapi tantangan jangka panjang, mulai dari perubahan iklim hingga tuntutan transparansi.
Itulah sebabnya ESG terus berkembang meski tren bisnis datang dan pergi. ESG bukan sekadar tentang menjadi lebih ramah lingkungan, tetapi tentang bagaimana perusahaan dapat tetap relevan dan bertahan di tengah perubahan dunia yang semakin cepat.
Pada akhirnya, popularitas ESG hari ini bukan terjadi karena perusahaan tiba-tiba menjadi lebih idealis. ESG menjadi penting karena semakin banyak pelaku bisnis menyadari bahwa keberlanjutan dan keberlangsungan usaha kini tidak bisa dipisahkan. Sebuah perusahaan mungkin bisa mengabaikan isu lingkungan atau sosial untuk sementara waktu, tetapi semakin sulit mengabaikan risiko yang muncul akibatnya. Dan di situlah ESG menemukan relevansinya.
