Purwokerto, Greenmind — Peningkatan suhu kawah Gunung Slamet pada beberapa waktu terakhir membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah meningkatkan kesiapsiagaan.
Keterangan tersebut dikonfirmasi oleh Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas, Dwi Irawan Sukma di Purwokerto, Banyumas pada Senin (20/4/2026).
“Kami terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik tersebut, terutama terkait kenaikan suhu kawah dan indikator lainnya. Kami tetap meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, meskipun untuk wilayah Banyumas bagian selatan relatif masih aman,” tutur Dwi Irawan Sukma dilansir dari ANTARA pada Senin (20/4/2026).
Dwi mengatakan bahwa aktivitas Gunung Slamet sempat mengalami penurunan, namun kembali menunjukkan kecenderungan peningkatan, termasuk dari sisi suhu kawah.
Berdasarkan pengukuran suhu yang dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, setelah sempat mengalami penurunan dalam beberapa hari sebelumnya, suhu kawah Gunung Slamet pada Sabtu (18/4) kembali meningkat dari 461 derajat Celcius menjadi 478 derajat Celcius.
Menurut Dwi, kondisi tersebut menjadi atensi BPBD serta instansi terkait untuk menentukan tindakan preventif yang akan dilakukan nantinya.
Pihak BPBD bersama pemangku kepentingan terkait seperti Badan Geologi serta BPBD dari wilayah sekitar Gunung Slamet lainnya seperti Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes berencana menggelar rapat koordinasi di Purwokerto pada hari Kamis (23/4) untuk membahas langkah-langkah kewaspadaan serta memperkuat upaya mitigasi jika aktivitas Gunung Slamet terus meningkat.
“Kami akan melakukan pembahasan lebih lanjut terkait langkah-langkah yang harus dilakukan, khususnya dalam meningkatkan kesiapsiagaan jika terjadi peningkatan aktivitas yang signifikan,” ujar Dwi.
Dwi mengakui bahwa secara geografis, wilayah Kabupaten Banyumas yang berada di sisi selatan Gunung Slamet masih tergolong aman dibanding wilayah di lereng utara.
Meski demikian, masyarakat diimbau untuk tidak lengah dan terus mengikuti perkembangan informasi resmi dari otoritas terkait.
Sejumlah wilayah di Banyumas yang paling dekat dengan Gunung Slamet seperti Kecamatan Baturraden, Sumbang, Kedungbanteng, dan Cilongok pun menjadi fokus pemantauan.
Menurut Dwi, hingga kini, aktivitas wisata di kawasan Baturraden masih dinilai aman untuk dilakukan karena berada jauh dari kawah puncak Gunung Slamet.
Dwi juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terbukti kebenarannya dan tetap mengikuti arahan pemerintah daerah dan instansi terkait.
Masyarakat juga diminta untuk meningkatkan kewaspadaan secara mandiri, seperti dengan memahami jalur evakuasi dan langkah yang harus dilakukan apabila terjadi kondisi darurat.
Dwi berharap, kondisi Gunung Slamet kembali stabil sehingga tak menimbulkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat di sekitarnya.
“Kami berharap situasi segera membaik, namun kewaspadaan tetap harus dijaga,” pungkas Dwi.
Sebelumnya, pada 4 April 2026, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi memperluas batas aman di sekitar kawah puncak Gunung Slamet di Jawa Tengah dari dua kilometer menjadi tiga kilometer seiring meningkatnya aktivitas vulkanik gunung yang sejak 19 Oktober 2023 berstatus Waspada (Level II) tersebut.
Peningkatan aktivitas ditandai oleh perubahan visual dan data instrumental. Salah satunya, berdasarkan hasil analisis citra termal menunjukkan kenaikan suhu kawah yang signifikan, dari sekitar 247,4 derajat Celcius pada September 2024 menjadi 463 derajat Celcius pada 3 April 2026, yang disertai perluasan area anomali panas membentuk pola melingkar di sekitar dinding kawah.
Sumber:
Sumarwoto & Triono Subagyo. (2026, April 20). BPBD Banyumas siaga hadapi potensi erupsi Gunung Slamet. ANTARA News. Diakses pada Senin, 20 April 2026, dari https://www.antaranews.com/berita/5533900/bpbd-banyumas-siaga-hadapi-potensi-erupsi-gunung-slamet
Editor: Inesia Dian
