Pemuda-pemuda berpenampilan punk di Gunungkidul ini memilih jalan yang tak banyak diambil anak muda hari ini: kembali ke tanah, dan bertani secara organik.
Di Padukuhan Kalangan, langkah itu dimulai sejak 2018 oleh komunitas yang dipimpin SiBagz. Awalnya hanya 15 orang, sebagian di antaranya mantan anak jalanan yang nekat mengolah lahan 1.500 meter persegi dengan meminjam sertifikat tanah senilai Rp25 juta.
Tak ada latar belakang pertanian. Namun mereka justru memilih metode yang lebih menantang: sistem organik. Urine kambing, air leri, hingga empon-empon diolah menjadi pupuk dan pestisida alami.
Pilihan itu lahir dari kegelisahan yang sederhana, tapi nyata. Mereka melihat petani-petani tua bekerja sendirian, tanpa generasi penerus.

Sejak 2022, kegelisahan itu berkembang menjadi gerakan. Sekitar 120 anak muda telah mereka latih untuk terlibat dalam pertanian, membudidayakan padi hingga berbagai sayuran seperti cabai, terong, bawang merah, kangkung, dan tomat.
Hasil panen tak hanya dijual, tetapi juga dibagikan ke warga. Pendapatan yang diperoleh diputar untuk kegiatan sosial, mulai dari berbagi takjil hingga membangun dua rumah warga.
“Tujuan kita bukan untuk kita sendiri, tetapi agar petani ada regenerasi,” ujar SiBagz, dilansir dari Kompas.
Di tengah tren anak muda yang menjauh dari sektor pertanian, langkah komunitas ini justru bergerak ke arah sebaliknya—menghidupkan kembali hubungan dengan tanah, sekaligus membuka kemungkinan baru bagi regenerasi petani.
