Isu pembangunan berkelanjutan sering dibahas dalam konteks energi bersih atau ruang hijau. Padahal, ada persoalan mendasar yang tak kalah penting dalam kehidupan sehari-hari: ke mana limbah toilet kita pergi setelah disiram.
Di banyak tempat, pengelolaan sanitasi berhenti di septic tank. Padahal, air limbah yang keluar dari sana masih berpotensi mencemari lingkungan jika tidak diolah lebih lanjut. Sungai yang kualitasnya menurun, tanah yang terkontaminasi, atau bau tak sedap di sekitar fasilitas umum sering kali berkaitan dengan sistem yang belum sepenuhnya tuntas.
Zyclonic hadir sebagai tahap lanjutan setelah septic tank. Teknologi ini mengolah limbah cair melalui proses biologis, aerasi, dan penyaringan hingga kualitas airnya lebih aman sebelum dilepas ke lingkungan. Air hasil olahannya bahkan bisa dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan non-konsumsi seperti flushing toilet atau menyiram taman.
Di Indonesia, distribusi teknologi Zyclonic dilakukan oleh Gocement yang bekerja sama dengan SCG sebagai pengembang teknologinya. Dengan kapasitas yang cocok untuk fasilitas publik kecil hingga menengah, Zyclonic dirancang agar lebih mudah diterapkan di berbagai kondisi.
Dari Toilet Umum ke Agenda Global

Pengolahan limbah yang lebih baik berarti risiko pencemaran air dapat ditekan. Ini berkaitan langsung dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya akses air bersih dan sanitasi yang layak, kesehatan masyarakat, inovasi infrastruktur, serta pembangunan kota yang lebih berkelanjutan.
Artinya, dampaknya tidak hanya berhenti pada aspek teknis. Pengolahan limbah cair yang lebih baik membantu menekan risiko penyakit berbasis air, sekaligus menjaga kualitas lingkungan sekitar. Air hasil olahan yang bisa dimanfaatkan kembali juga membuat penggunaan sumber daya menjadi lebih efisien. Bagi fasilitas publik, sistem seperti ini berarti sanitasi yang lebih aman dan pengelolaan lingkungan yang lebih tertata.
Lebih dari Sekadar Teknologi
Menariknya, Zyclonic tidak hanya menawarkan sistem pengolahan, tetapi juga pendekatan yang berbeda terhadap limbah. Bukan sekadar dibuang, limbah perlu diolah dan dikendalikan agar dampaknya terhadap lingkungan bisa ditekan.
Teknologi ini bahkan telah mendapat pengakuan internasional, termasuk iF Design Award 2022 kategori desain sosial dan penghargaan inovasi dari United Nations’ Innovation Recognition atas kontribusinya pada sanitasi berkelanjutan. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa solusi sanitasi bisa menjadi bagian dari inovasi sosial, bukan sekadar proyek teknis.
Namun pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Dampaknya bergantung pada bagaimana ia diterapkan dan diterima. Ketika fasilitas publik mulai memikirkan pengolahan limbah lanjutan dan masyarakat mulai melihat sanitasi sebagai bagian dari kesehatan lingkungan, di situlah perubahan perlahan terjadi.
Pembangunan berkelanjutan tidak selalu rumit. Langkahnya bisa dimulai dari hal sederhana, seperti mengelola limbah toilet umum agar tidak menjadi beban bagi lingkungan.
