Puncak Musim Hujan, Kemenkes Tekankan Kewaspadaan terhadap Dengue

Ketua Tim Kerja Penyakit Akibat Tular Vektor, Zoonotik, Gigitan Hewan Berbisa, dan Tanaman Beracun, Kementrian Kesehatan RI dr. Fadjar SM Silalahi dalam acara Konferensi Pers Dengue Awareness Campaign Musim Hujan, Risiko Dengue Meningkat: Saatnya Perkuat Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak dan Dewasa di Novotel Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2026). ANTARA/Niswah Qintara Rahmani

Memasuki puncak musim hujan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai peningkatan risiko penyakit dangue. Hal ini dijelaskan dalam Konferensi Pers Dengue Awareness pada Rabu (4/2/2026).

Ketua Tim Penyakit Akibat Tular Vektor, Zoonotik, Gigitan Hewan Berbisa, dan Tanaman Beracun Kemenkes, Fadjar SM Silalahi, mengatakan bahwa penularan dengue sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Oleh karena itu, upaya pencegahan tidak hanya dilakukan secara individu, tetapi juga melalui pengendalian lingkungan agar bebas dari sarang nyamuk.

Dalam konferensi pers Dengue Awareness, Fadjar menegaskan bahwa gerakan 3M Plus merupakan pilar utama pengendalian dengue, terutama pada musim hujan ketika banyak genangan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti.

Gerakan 3M meliputi menguras secara rutin tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air hujan. 

Sementara itu, gerakan Plus dilakukan melalui berbagai langkah tambahan, seperti menggunakan kelambu, obat antinyamuk, serta menanam tanaman pengusir nyamuk sesuai anjuran petugas kesehatan. 

Ketua Satuan Tugas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Hartono Gunardi, mengingatkan bahwa dengue masih menjadi ancaman serius bagi anak-anak, terutama apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.

“Pada dengue, anak sering datang sudah terlambat. Ketika demamnya turun, orang tua mengira anak sudah membaik, padahal itu justru fase kritis yang paling berbahaya,” ujar Hartono, dilansir dari ANTARA, Rabu (4/2/2026).

Ia menjelaskan, gejala awal dengue pada anak antara lain demam tinggi mendadak yang disertai lemas, nyeri perut, muntah, hingga tanda-tanda perdarahan. 

Oleh karena itu, ketelitian dan kesiapsiagaan orang tua berperan penting untuk mencegah komplikasi hingga kematian.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Adityo Susilo, menyampaikan bahwa dengue tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga remaja dan orang dewasa. Risiko komplikasi dapat meningkat apabila penanganan tidak dilakukan secara cepat.

Fadjar menegaskan bahwa vaksin dengue merupakan bagian dari upaya pencegahan, namun bukan pengganti gerakan 3M Plus. Vaksinasi diharapkan dapat memperkuat perlindungan berkelanjutan bagi anak maupun orang dewasa.

Kemenkes mengimbau masyarakat untuk rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk selama musim hujan, meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala dengue pada semua kelompok usia, serta memanfaatkan berbagai metode pencegahan guna menekan angka penularan dan kematian akibat dengue.

Sumber:

Antara News. (2026, 4 Februari). Kemenkes ingatkan lonjakan risiko dengue saat puncak musim hujan. ANTARA News. Diakses dari https://www.antaranews.com/berita/5395318/kemenkes-ingatkan-lonjakan-risiko-dengue-saat-puncak-musim-hujan 

Editor: Dina Shafira

Bagikan ke :

15 thoughts on “Puncak Musim Hujan, Kemenkes Tekankan Kewaspadaan terhadap Dengue

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *