Zyclonic dan Upaya Mengolah Limbah Toilet Umum Lebih Aman

Zyclonic, sistem pengolahan limbah cair lanjutan yang ringkas dan efisien. Sumber: SCGC

Sanitasi sering kali berhenti di septic tank. Padahal, limbah cair yang keluar dari septic tank belum tentu aman jika langsung dilepas ke lingkungan. Di sejumlah wilayah, limbah toilet umum bahkan masih mengalir ke sungai tanpa pengolahan lanjutan.

Melihat persoalan ini, Gocement mendistribusikan teknologi pengolahan air limbah bernama Zyclonic di Indonesia. Sistem ini bukan pengganti septic tank, melainkan tahap lanjutan untuk mengolah limbah cair sebelum dibuang atau dimanfaatkan kembali.

Cara Kerja Singkat

Secara teknis, Zyclonic bekerja seperti instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dalam versi yang lebih ringkas. Air limbah dari septic tank masuk ke unit, lalu melalui beberapa tahap: proses biologis dengan bakteri baik (anaerob dan aerob), sedimentasi, aerasi, hingga disinfeksi menggunakan klorin. Seluruh proses berlangsung sekitar dua hingga tiga jam.

Menurut Intan, Business Development Zyclonic di Gocement, air hasil olahan telah memenuhi parameter kualitas seperti bebas patogen serta memenuhi standar BOD, COD, dan TSS. BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand) merupakan indikator jumlah zat organik dalam air, sedangkan TSS (Total Suspended Solids) mengukur kandungan partikel padat tersuspensi. Semakin rendah nilainya, semakin kecil potensi air tersebut mencemari lingkungan.

Jika ketiga parameter ini rendah dan sesuai standar, artinya air limbah telah jauh lebih bersih dan aman untuk digunakan kembali pada kebutuhan non-konsumsi, seperti flushing toilet atau penyiraman taman.

Satu unit Zyclonic dapat melayani sekitar lima bilik toilet dengan kapasitas 1.500 – 2.000 liter, sehingga cocok untuk fasilitas publik skala kecil hingga menengah.

Implementasi di Indonesia

Teknologi ini telah dipasang di Pasir Luyu (Bandung) dan Aceh Tamiang. Di Pasir Luyu, instalasi tersebut mendukung program Citarum Harum, mengingat sebelumnya limbah sanitasi warga banyak yang langsung mengalir ke Sungai Citarum.

Melalui kerja sama dengan lembaga seperti UN-Habitat dan BRIN, sistem ini juga diterapkan di kawasan pasca bencana seperti Lombok serta di beberapa sekolah dan komunitas di Yogyakarta. 

Warga di Pasir Luyu disebut menyambut baik instalasi ini karena kondisi sanitasi sebelumnya masih terbatas. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengolahan limbah lanjutan tidak harus berskala besar untuk memberi dampak.

Sanitasi mungkin jarang menjadi sorotan, tetapi kualitas pengelolaannya menentukan kualitas air dan lingkungan di sekitarnya. Ketika limbah cair tidak lagi langsung dibuang, melainkan diolah hingga lebih aman, risiko pencemaran dapat ditekan secara nyata.

Bagikan ke :

Leave a Reply