Waspada Virus Nipah: Kenali Cara Penularan, Gejala, dan Cara Mencegahnya

Ilustrasi Virus Nipah. Foto: Vietnam.vn

Ancaman penyakit menular kembali menjadi perhatian masyarakat global. Pada awal 2026, temuan kasus virus Nipah di India memicu kewaspadaan sejumlah negara. Dua kasus suspek di negara bagian West Bengal dilaporkan terkonfirmasi melalui pemeriksaan National Institute for Virology (NIV) Pune pada 13 Januari 2026.

Sejumlah negara di Asia seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura meningkatkan kewaspadaan dengan memperketat pemantauan kesehatan, termasuk pada pintu masuk perbatasan. Indonesia juga mengambil langkah antisipasi untuk mencegah masuknya virus tersebut.

Pada Jumat (30/1/2026), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menerbitkan Surat Edaran Kewaspadaan Terhadap Penyakit Virus Nipah. Selain edukasi singkat, surat itu menekankan peningkatan pemantauan terhadap pelaku perjalanan luar negeri yang masuk ke Indonesia.

Langkah ini diharapkan diikuti semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, rumah sakit, puskesmas, laboratorium kesehatan, hingga masyarakat umum. Lalu, apa sebenarnya Virus Nipah?

Apa Itu Virus Nipah?

Mengacu pada Surat Edaran Kemenkes, Virus Nipah (NiV) merupakan virus RNA dari keluarga Paramyxoviridae, genus Henipavirus, yang dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia dan hewan.

Virus ini memiliki reservoir alami pada kelelawar buah (Pteropus sp.). Penularan ke manusia dapat terjadi secara langsung maupun melalui perantara hewan lain, misalnya babi. Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, seperti buah atau nira (cairan manis dari tanaman seperti kelapa, aren, atau tebu) yang telah terpapar virus.

Virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada 1998–1999 di Malaysia, dengan dampak penularan hingga Singapura. Saat itu, tercatat 276 kasus terkonfirmasi dengan 106 kematian, atau Case Fatality Rate (CFR) sebesar 38,41%.

Sejak pertama kali dilaporkan, beberapa negara seperti Bangladesh, India, Malaysia, Filipina, dan Singapura pernah melaporkan penularan. Pada periode 2001–2025 di Bangladesh dan India, penularan dilaporkan terjadi secara sporadis atau tidak teratur.

Sebagian besar kasus dan kematian dilaporkan di Bangladesh, yakni 341 kasus konfirmasi dengan 243 kematian (CFR 71%). Sementara di dua negara bagian India (West Bengal dan Kerala), sejak 2001 hingga 2026 tercatat 106 kasus terkonfirmasi dengan 74 kematian (CFR 69,8%).

Kasus terbaru dilaporkan pada 13 Januari 2026, dengan dua kasus konfirmasi dan tiga kasus suspek di West Bengal. Seluruh kasus dilaporkan terjadi pada tenaga kesehatan. Peristiwa ini juga menjadi kasus pertama di West Bengal sejak terakhir kali dilaporkan pada 2007.

Bagaimana Cara Penularan dan Gejalanya?

Penularan Virus Nipah dapat terjadi melalui beberapa cara, antara lain:

  • Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, termasuk melalui darah, air liur, lendir, atau cairan tubuh lainnya;
  • Mengonsumsi daging mentah atau produk makanan/minuman mentah yang terkontaminasi cairan tubuh hewan terinfeksi, misalnya nira atau buah yang telah terpapar kelelawar pembawa virus;
  • Kontak langsung dengan orang yang terinfeksi, termasuk melalui droplet, darah, atau urine. Penularan antarmanusia umumnya terjadi pada keluarga atau tenaga kesehatan yang merawat pasien.

Gejala infeksi Virus Nipah bervariasi, mulai dari tanpa gejala (asimptomatis), infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) ringan hingga berat, sampai ensefalitis atau radang otak yang fatal.

Mengacu pada laman Infeksi Emerging Kemenkes, gejala yang dapat muncul antara lain:

  • demam;
  • sakit kepala;
  • mialgia (nyeri otot);
  • mual dan muntah;
  • nyeri tenggorokan.

Pada kondisi yang berkembang, virus dapat menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan:

  • pusing;
  • mudah mengantuk;
  • penurunan kesadaran;
  • ensefalitis yang cepat berkembang;
  • komplikasi pernapasan berat.

VOI Indonesia juga menyebutkan bahwa apabila tidak tertangani, gejala neurologis dapat berkembang menjadi kejang dan disfungsi otak. Pada sebagian kasus, pasien dapat mengalami koma dalam waktu 24 hingga 48 jam setelah gejala neurologis berat muncul.

Kemenkes melalui BB Labkesmas Makassar menegaskan bahwa Virus Nipah memiliki tingkat kematian tinggi, bervariasi sekitar 40% hingga lebih dari 70%. Perbedaan ini dipengaruhi lokasi, respons kesehatan masyarakat, serta kecepatan deteksi layanan medis.

Hingga kini, belum ada vaksin resmi maupun obat antivirus khusus yang terbukti efektif secara luas. Penanganan medis umumnya berfokus pada perawatan suportif, yaitu membantu fungsi tubuh dan mencegah komplikasi berat.

Perlu diketahui, gejala tidak langsung muncul setelah terpapar virus. Masa inkubasi (waktu dari paparan hingga timbul gejala) umumnya berkisar 4–14 hari, meski dalam beberapa kasus dapat lebih lama.

Apabila seseorang mengalami gejala yang mengarah pada infeksi Virus Nipah, terutama setelah kontak dengan hewan berisiko atau orang yang terinfeksi, disarankan segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Bagaimana Cara Mencegah Penularan Virus Nipah?

Pencegahan dasar dapat dilakukan melalui langkah berikut:

  • tidak mengonsumsi nira/aren langsung dari pohon karena berisiko terkontaminasi kelelawar; jika ingin mengonsumsi, nira/aren sebaiknya dimasak terlebih dahulu;
  • mencuci dan mengupas buah secara menyeluruh sebelum dikonsumsi;
  • membuang buah yang menunjukkan tanda gigitan kelelawar;
  • mengonsumsi daging yang sudah matang;
  • menerapkan protokol kesehatan seperti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menggunakan hand sanitizer, menerapkan etika batuk dan bersin, serta memakai masker saat sakit atau bepergian;
  • menghindari kontak dengan hewan yang berpotensi menjadi sumber infeksi, seperti kelelawar dan babi;
  • bagi tenaga kesehatan maupun keluarga yang merawat pasien terinfeksi, wajib menerapkan prosedur Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) dengan benar.

Editor: Inesia Dian

Sumber

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023/2026). Surat Edaran No. HK.02.02/C/4022/2023 tentang Kewaspadaan Penyakit Virus Nipah [Surat edaran]. Kementerian Kesehatan RI. Diakses dari https://www.kemkes.go.id/id/se-kewaspadaan-penyakit-virus-nipah

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Belum Ada Kasus Virus Nipah, Pemerintah Tingkatkan Kewaspadaan. Kemenkes RI. Diakses dari https://kemkes.go.id/id/belum-ada-kasus-virus-nipah-pemerintah-tingkatkan-kewaspadaan

Infeksi Emerging Kemenkes. (2026). Frequently Asked Questions (FAQ) Penyakit Virus Nipah. Kementerian Kesehatan RI. Diakses dari https://infeksiemerging.kemkes.go.id/faq-penyakit-virus-nipah/frequently-asked-questions-faq-penyakit-virus-nipah

BB Labkesmas Makassar. (2026). Virus Nipah: Ancaman Zoonotik dengan Risiko Tinggi — Fakta, Gejala, Penularan, dan Pencegahan. BB Labkesmas Makassar. Diakses dari https://bblabkesmasmakassar.go.id/virus-nipah-gejala-penularan-pencegahan

Ayosehat – Kementerian Kesehatan RI. (2023). Mengenal Virus Nipah dan Gejalanya. Ayosehat Kemenkes. Diakses dari https://ayosehat.kemkes.go.id/mengenal-virus-nipah-dan-gejalanya

Reuters. (2026, January 30). WHO says Nipah virus risk low in India with no sign of spread. Reuters. Diakses dari https://www.reuters.com/business/healthcare-pharmaceuticals/who-says-nipah-virus-risk-low-india-with-no-sign-spread-2026-01-30/

Associated Press. (2026, January 28). India says it has contained Nipah virus outbreak as some Asian countries ramp up health screenings. AP News. Diakses dari https://apnews.com/article/166df6c637780b99ede380bf4ddccfcc

Kompas.id. (2026, Februari). Kemenkes keluarkan surat kewaspadaan Nipah: Seluruh pelaku perjalanan luar negeri wajib diawasi. Kompas.id. Diakses dari https://www.kompas.id/artikel/kemenkes-keluarkan-surat-kewaspadaan-nipah-seluruh-pelaku-perjalanan-luar-negeri-wajib-diawasi

Rahmadania, S. R. (2026, 1 Februari). Kemenkes RI keluarkan edaran waspadai virus Nipah usai mewabah di India. Detik Health. Diakses dari https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8335156/kemenkes-ri-keluarkan-edaran-waspadai-virus-nipah-usai-mewabah-di-india

CNBC Indonesia. (2026, Februari 3). Virus Nipah merebak, negara-negara Asia perketat perbatasan. CNBC Indonesia. Diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260203111725-33-707684/virus-nipah-merebak-negara-negara-asia-perketat-perbatasan

Bagikan ke :

Leave a Reply