Serat Plastik Terdeteksi di Air Ketuban Ibu Hamil, Studi di Gresik Ungkap Fakta Mengkhawatirkan

Partikel plastik berukuran sangat kecil ini berasal dari degradasi sampah plastik dan berpotensi mencemari lingkungan serta masuk ke rantai makanan dan tubuh manusia. Sumber: SivStockMedia

Sampah plastik biasanya kita bayangkan mengapung di sungai atau menumpuk di TPA. Tapi penelitian terbaru menunjukkan, jejaknya tidak berhenti di sana.

Peneliti dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menemukan mikroplastik dalam air ketuban ibu yang melahirkan di Gresik, Jawa Timur. Hasil riset ini telah dipublikasikan di jurnal ilmiah Environmental Pollution.

Yang mengejutkan, seluruh sampel yang diuji mengandung partikel mikroplastik.

Dalam penelitian tersebut, rata-rata ditemukan sekitar 11 partikel mikroplastik di setiap sampel air ketuban. Bentuk yang paling banyak terdeteksi adalah serat halus atau fiber, yang umumnya berasal dari pakaian berbahan sintetis, debu rumah tangga, hingga pembakaran sampah plastik. Pada sampel darah ibu, peneliti juga menemukan polyethylene, bahan yang biasa digunakan untuk kantong plastik dan kemasan makanan.

Bagaimana Plastik Bisa Masuk ke Air Ketuban?

Mikroplastik berukuran sangat kecil, bahkan ada yang berskala nano. Ukuran ini membuatnya bisa masuk ke tubuh manusia melalui udara yang dihirup atau makanan dan minuman yang terkontaminasi. Setelah berada dalam tubuh, partikel tersebut dapat masuk ke aliran darah dan berpotensi melewati plasenta.

Air ketuban selama ini dipahami sebagai lingkungan pelindung bagi janin. Temuan ini menunjukkan bahwa partikel plastik mampu mencapai ruang tersebut.

Sejumlah penelitian global sebelumnya telah menemukan mikroplastik di darah, plasenta, hingga urin manusia. Beberapa studi mengaitkannya dengan stres oksidatif, peradangan, dan gangguan sistem hormonal. Meski dampak langsung terhadap perkembangan janin masih terus diteliti, para ilmuwan menilai temuan ini sebagai sinyal peringatan serius.

Bukan Sekadar Masalah Sampah

Gresik dikenal sebagai kawasan industri dan permukiman padat. Aktivitas industri, penggunaan plastik sekali pakai, serta praktik pembakaran sampah terbuka berpotensi menjadi sumber paparan partikel halus di udara.

Mikroplastik tidak terlihat dan tidak terasa. Justru karena itulah ia sulit disadari. Ia bisa berasal dari pakaian yang dicuci, debu di dalam rumah, hingga kemasan makanan yang digunakan setiap hari.

Temuan ini memperluas cara kita memandang krisis plastik. Isunya tidak lagi sebatas pencemaran sungai atau laut, tetapi sudah masuk ke ranah kesehatan manusia, bahkan sejak masa kehamilan.

Jika partikel plastik sudah ditemukan di air ketuban, ruang yang selama ini dianggap terlindungi, maka pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mengurangi paparannya. Pengelolaan sampah, pembatasan plastik sekali pakai, dan pengawasan bahan kimia dalam produk plastik menjadi semakin relevan, bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga untuk kesehatan generasi berikutnya.

Plastik mungkin praktis. Tapi penelitian ini menunjukkan, dampaknya bisa jauh lebih dekat dari yang kita kira.

Sumber:

Ecoton. (2026, February 24). Research report: Alarm from microplastics in amniotic fluids of women in Gresik, Indonesia. Ecoton. https://ecoton.or.id/research-report-alarm-from-microplastics-in-amniotic-fluids-of-women-in-gresik-indonesia/

Bagikan ke :

Leave a Reply