Di sebuah kebun binatang di Kota Ichikawa, Prefektur Chiba, Jepang, seekor bayi monyet berjalan perlahan sambil memeluk boneka orangutan hampir sebesar tubuhnya. Tangannya kecil, cengkeramannya kuat. Ketika ia duduk, boneka itu ikut duduk. Ketika ia bergerak, boneka itu terseret bersamanya.
Bayi itu bernama Punch. Ia adalah monyet Jepang, secara ilmiah disebut Macaca fuscata—spesies primata yang hidup berkelompok dengan struktur sosial yang rumit dan hirarki yang jelas. Di alam liar, bayi monyet jenis ini hampir tak pernah lepas dari tubuh induknya pada bulan-bulan pertama kehidupan. Mereka belajar tentang dunia melalui pelukan, sentuhan, dan kehangatan.
Punch tidak mendapatkannya.
Sejak lahir pada pertengahan 2025, ia ditolak oleh induknya. Pihak Ichikawa Zoological and Botanical Garden kemudian memperkenalkan boneka berbulu lembut sebagai bentuk dukungan agar ia tetap memiliki sesuatu untuk dicengkeram dan dipeluk. Video Punch bersama bonekanya menyebar luas pada Februari 2026 dan memicu gelombang empati global. Namun di balik adegan yang tampak sederhana itu, ada cerita biologis yang jauh lebih kompleks.
Ketika Pelukan Sang Ibu Tidak Datang
Pada monyet Jepang, hubungan ibu dan anak adalah fondasi perkembangan sosial. Bayi biasanya menempel pada perut atau punggung induk, mempelajari bahasa tubuh kelompok, membaca sinyal dominasi, dan membangun rasa aman.
Penelitian dalam dekade terakhir menunjukkan bahwa gangguan pada hubungan maternal di primata berkorelasi dengan perubahan respons stres dan pola sosial. Studi oleh Feng et al., (2011) menemukan bahwa pemisahan dini dari induk pada primata berhubungan dengan profil hormon stres (kortisol) yang berbeda dibandingkan individu dengan pengasuhan stabil.
Tinjauan terbaru oleh Tromp et al., (2024) juga menunjukkan bahwa pengalaman pengasuhan yang tidak stabil pada primata memengaruhi regulasi emosi dan respons sosial jangka panjang.
Artinya, kehilangan induk bukan sekadar kehilangan figur fisik. Ia mengubah cara sistem saraf berkembang. Dalam konteks ini, Punch bukan hanya “ditinggalkan.” Ia kehilangan sistem regulasi emosional pertamanya.
Boneka sebagai Jangkar Emosional

Ketika pengelola kebun binatang memperkenalkan boneka orangutan berbahan lembut, Punch segera menempelkannya ke tubuhnya. Ia memeluknya saat duduk. Ia membawanya saat berjalan. Ia bersandar padanya ketika diam.
Perilaku ini dapat dijelaskan melalui teori keterikatan dari John Bowlby, yang menyatakan bahwa kedekatan fisik dengan pengasuh adalah mekanisme biologis untuk bertahan hidup. Pada mamalia sosial, termasuk primata, kebutuhan ini terhubung dengan sistem neuroendokrin—terutama regulasi oksitosin dan respons stres.
Eksperimen klasik Harry Harlow memang dilakukan puluhan tahun lalu, tetapi riset modern terus menguatkan temuan dasarnya: bayi primata lebih memilih kenyamanan fisik dibanding sekadar pemenuhan kebutuhan makan. Riset neurobiologi modern menunjukkan bahwa keterikatan sosial pada mamalia melibatkan sistem neuroendokrin yang serupa, termasuk interaksi oksitosin, dopamin, dan vasopresin dalam sirkuit otak yang mendukung hubungan sosial.
Dalam psikologi perkembangan manusia, objek seperti selimut atau boneka disebut transitional object. Studi oleh Ko et al., (2024) menunjukkan bahwa objek semacam ini membantu anak mengelola kecemasan separasi dan membangun rasa konsistensi emosional.
Punch mungkin tidak “memahami” boneka sebagai ibu. Namun secara fisiologis, kontak lembut yang konsisten dapat membantu menurunkan aktivasi stres dan memberi stabilitas sensorik.
Ia menemukan jangkar.
Belajar Sosial Tanpa Kurikulum Awal
Monyet Jepang hidup dalam sistem sosial yang ketat. Grooming yakni kegiatan saling membersihkan bulu adalah bahasa kepercayaan dan aliansi. Tanpa pembelajaran awal dari induk, Punch harus mempelajari dinamika ini dengan cara yang lebih sulit.
Beberapa rekaman awal menunjukkan interaksi yang canggung dengan individu dewasa. Namun laporan terbaru menyebutkan bahwa beberapa monyet mulai melakukan grooming padanya. Dalam studi perilaku primata oleh Jablonski (2021), grooming disebut sebagai indikator kuat penerimaan sosial.
Itu bukan detail kecil. Itu tanda bahwa sistem sosial mulai membuka ruang.
Mengapa Kita Tergerak?
Respons publik terhadap Punch mencerminkan sesuatu tentang manusia. Penelitian tahun 2022 dalam jurnal National Library of Medicine menunjukkan bahwa manusia lebih mudah berempati pada hewan ketika perilaku mereka menyerupai ekspresi emosional manusia—terutama perilaku yang berkaitan dengan keterikatan.
Kita melihat Punch memeluk boneka, dan kita mengenali kebutuhan itu. Bukan karena ia “seperti manusia,” tetapi karena kebutuhan akan rasa aman memang merupakan mekanisme biologis yang serupa pada mamalia sosial.
Empati kita bukan ilusi. Namun tanpa konteks ilmiah, ia bisa menjadi penyederhanaan.
Bahasa Purba Bernama Keterikatan

Punch hanyalah satu individu kecil di dalam sistem sosial primata yang kompleks. Namun kisahnya memperlihatkan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri: bagaimana sistem biologis bekerja ketika jalur awalnya terganggu.
Ilmu pengetahuan dalam satu dekade terakhir konsisten menunjukkan bahwa pengalaman awal membentuk regulasi stres, respons sosial, bahkan pola relasi jangka panjang pada mamalia sosial. Hubungan ibu dan anak bukan sekadar fase sentimental, melainkan fondasi neurobiologis. Ketika fondasi itu retak, organisme akan mencari kompensasi.
Punch tidak memiliki pelukan pertama yang stabil. Tetapi sistem tubuhnya tetap bekerja sebagaimana mestinya: mencari kontak, mencari konsistensi, mencari rasa aman. Dalam bentuk boneka berbulu lembut itu, ia menemukan jangkar sementara untuk menenangkan sistem sarafnya dan bertahan dalam dinamika sosial yang menantangnya.
Kita mungkin melihatnya sebagai momen yang menyentuh. Namun di baliknya, yang sedang berlangsung adalah mekanisme purba yang melintasi spesies—mekanisme yang memastikan makhluk sosial tidak runtuh ketika keterikatan terganggu.
Keterikatan bukan milik manusia semata. Ia adalah bahasa biologis yang lebih tua dari kebudayaan, lebih tua dari media sosial, bahkan lebih tua dari nama “Punch” itu sendiri.
Dan di kebun binatang kecil di Chiba, bahasa itu sedang bekerja—pelan, senyap, tetapi nyata.
Sumber referensi
- The Guardian. (2026, February 23). Punch the monkey: Why do mother animals abandon their offspring? https://www.theguardian.com/world/2026/feb/23/punch-monkey-japan-macaque-why-do-mother-animals-abandon-offspring
- BBC News. (2026, February). Japan zoo baby monkey finds comfort in stuffed toy [Video]. https://www.bbc.com/news/videos/c1d6ell32weo
NHK World. (2026, February 19). Baby macaque gains attention for clinging to plush toy at Ichikawa zoo. https://www3.nhk.or.jp/nhkworld/en/news/20260219_19/
Rolling Stone. (2026, February). Punch the monkey and the internet’s emotional response. https://www.rollingstone.com/culture/culture-commentary/punch-monkey-japan-zoo-1235519631/ - Feng, X.*, Wang, L., Yang, S., Qin, D., Li, C., Lv, L., Ma, Y., & Hu, X. (2011). Maternal separation produces lasting changes in cortisol and behavior in rhesus monkeys. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America, 108(34), 14312–14317. https://doi.org/10.1073/pnas.1010943108
- Tromp DPM, Fox AS, Riedel MK, Oler JA, Zhou X, Roseboom PH, Alexander AL, Kalin NH. Early life adversity in primates: Behavioral, endocrine, and neural effects. Psychoneuroendocrinology. 2024
- Feldman, R. (2017). The neurobiology of human attachments. Trends in Cognitive Sciences, 21(2), 80–99.
https://doi.org/10.1016/j.tics.2016.11.007 - Hostinar, C. E., Sullivan, R. M., & Gunnar, M. R. (2019). Psychobiological mechanisms underlying the social buffering of the hypothalamic–pituitary–adrenocortical axis: A review of animal models and human studies. Psychological Bulletin, 145(5), 403–442.
- Kendrick, K. M. (2020). Oxytocin, motherhood and bonding. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 112, 1–17.
- Berendzen, K. M., Bales, K. L., & Manoli, D. S. (2023). Attachment across the lifespan: Examining the intersection of pair bonding neurobiology and healthy aging. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 153,
- Ko, C.-H., Liang, Y.-T., Liao, Y.-C., & Chen, H.-F. (2024). Exploring the relationship between transitional object attachment and emotion regulation in college students. Healthcare, 13(1), 39. https://doi.org/10.3390/healthcare13010039
- Jablonski, N. G. (2021). Social and affective touch in primates and its role in the evolution of social cohesion. Neuroscience, 464, 117–125.
- Prato-Previde, E., Basso Ricci, E., & Irvine, L. (2022). The complexity of the human–animal bond: Empathy, attachment and anthropomorphism in human–animal relationships and animal hoarding. Animals, 12(1), 39
