Selama beberapa artikel terakhir kita membahas satu masalah yang sama: gedung komersial butuh udara segar dari luar untuk menjaga kualitas udara dalam ruangan, tapi proses memasukkan dan mendinginkan udara itulah yang membuat tagihan listrik membengkak.
Solusinya bukan mengurangi ventilasi. Bukan juga membiarkan HVAC terus bekerja lebih keras dari yang seharusnya.
Jawabannya ada di cara udara dalam gedung dikelola sejak awal. Dan di sinilah ONNEX Air Scrubber masuk sebagai bagian dari solusi itu.
Bukan Filter Biasa
ONNEX bukan filter udara konvensional yang sekadar menangkap debu dan partikel fisik.
Produk ini menggunakan material sorbent, yaitu bahan yang menyerap kontaminan gas secara kimiawi langsung dari udara yang sudah beredar di dalam gedung. Formaldehida dari cat dan furnitur, VOC dari produk pembersih, benzena, toluena — semuanya diserap sebelum udara diedarkan kembali ke ruangan.
Filter sorbent juga bisa diregenerasi secara berkala. Kontaminan yang sudah terserap dilepaskan dan dibuang keluar, sehingga filter bisa terus digunakan tanpa perlu sering diganti.
Karena udara dalam gedung terus dibersihkan dari kontaminannya, kebutuhan untuk menyedot udara segar dari luar jadi jauh lebih kecil. Dan lebih sedikit udara luar yang masuk berarti lebih sedikit udara panas dan lembap yang harus didinginkan oleh sistem. Di situlah penghematan energinya benar-benar terjadi.
Tapi pengurangan udara luar itu tidak dilakukan sembarangan. Ada metodologi yang mengaturnya
Dihitung dengan IAQP

IAQP atau Indoor Air Quality Procedure adalah metode perhitungan ventilasi dalam standar ASHRAE 62.1 yang bekerja berdasarkan kondisi nyata sebuah ruangan, bukan asumsi umum.
Metode konvensional sebelumnya — VRP atau Ventilation Rate Procedure hanya menghitung kebutuhan udara segar berdasarkan tiga variabel: jenis ruangan, jumlah penghuni, dan luas lantai. Sederhana, tapi tidak akurat karena mengabaikan apa yang sebenarnya ada di udara.
IAQP bekerja jauh lebih mendetail. Perhitungannya mempertimbangkan jenis dan konsentrasi kontaminan di udara luar, laju emisi kontaminan yang dihasilkan di dalam ruangan, target konsentrasi kontaminan yang aman bagi penghuni, hingga efisiensi sistem pembersih udara yang digunakan.
Hasilnya lebih presisi: gedung hanya memasukkan udara luar sebanyak yang benar-benar dibutuhkan, tidak lebih. Dan ONNEX adalah perangkat yang memungkinkan perhitungan IAQP ini bisa dijalankan secara nyata di lapangan.
Cara Kerjanya di Sistem HVAC
ONNEX tidak menggantikan sistem HVAC yang sudah terpasang. Perangkat ini dipasang sebagai komponen tambahan yang terintegrasi langsung dengan Air Handling Unit (AHU), unit pengolah udara utama dalam gedung komersial.
Udara yang sudah beredar di ruangan dialirkan melalui modul ONNEX. Sorbent menyerap kontaminannya. Udara yang keluar lebih bersih dari yang masuk, dan karena sudah bersih, kebutuhan udara luar yang perlu ditambahkan ke dalam sistem berkurang drastis.
Ini yang membuat ONNEX kompatibel dengan gedung lama maupun baru. Tidak perlu merombak sistem yang sudah ada, cukup mengintegrasikan perangkat ini ke dalam alur yang sudah berjalan.
Sudah Diuji Standar Internasional
Efisiensi removal kontaminan ONNEX diuji berdasarkan ASHRAE 145.2, standar internasional khusus untuk sistem pembersih udara gaseous. Ini bukan detail kecil.
Metodologi IAQP dalam ASHRAE 62.1 mensyaratkan bahwa sistem pembersih udara yang digunakan harus memiliki data efisiensi yang terverifikasi. Tanpa pengujian yang diakui, klaim efisiensi tidak bisa dijadikan dasar perhitungan ventilasi yang sah. ONNEX memenuhi persyaratan itu.
Angkanya di Lapangan
Teknologi ini sudah digunakan di lebih dari 1.000 gedung sejak 2020, dari Harvard University hingga gedung perkantoran kelas A di New York.
Di Harvard, kebutuhan udara luar terpotong 68% dan seluruh parameter kualitas udara tetap memenuhi standar ASHRAE. Di New York, sebuah gedung 44 lantai yang diteliti oleh National Renewable Energy Laboratory mencatat penurunan konsumsi energi HVAC sekitar 60% setelah penerapan sistem ini.
Yang paling relevan untuk konteks Asia Tenggara: CW Tower Bangkok memasang 41 unit pada akhir 2024. Kebutuhan udara luar turun 72%, konsumsi HVAC turun 21%, dan sertifikasi gedung naik dari LEED Gold ke LEED Platinum.
Semua angka itu bukan klaim produsen. Semuanya berasal dari laporan verifikasi pihak ketiga yang independen.
Relevan untuk Iklim Tropis
Satu hal yang perlu dicatat: efisiensi teknologi ini justru lebih besar di iklim panas dan lembap.
Semakin berat beban pendinginan udara luar yang harus ditanggung sistem HVAC, semakin besar potensi penghematan ketika volume udara luar itu berkurang. Untuk gedung di Indonesia, di mana udara luar masuk dengan suhu 35–40°C dan kelembapan hingga 90% sepanjang tahun, angka penghematannya bisa lebih signifikan dari yang tercatat di kasus-kasus di negara beriklim sedang.
Itulah mengapa teknologi seperti ini punya relevansi yang sangat konkret untuk pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Artikel sebelumnya: Efisiensi HVAC: Kunci Green Building di Era Tuntutan ESG
