Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Awal, BMKG Ingatkan Risiko Kekeringan

BMKG memperkirakan musim kemarau 2026 akan datang lebih awal di hampir separuh wilayah Indonesia. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus dengan kondisi yang cenderung lebih kering dari normal. Sumber: Siaran Pers BMKG

JAKARTA, Greenmind — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau 2026 lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologinya. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan pergeseran musim ini berkaitan dengan berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari 2026. Saat ini kondisi iklim global berada pada fase netral dan berpotensi bergerak menuju El Niño pada pertengahan tahun.

“Indeks ENSO saat ini berada pada fase netral dan diperkirakan bertahan hingga Juni 2026, namun peluang munculnya El Niño kategori lemah hingga moderat pada semester kedua tahun ini perlu diwaspadai,” ujar Faisal dalam konferensi pers prakiraan awal musim kemarau 2026 di Jakarta, Rabu (4/3).

BMKG mencatat sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Wilayah tersebut meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian kecil wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

Kemarau kemudian diperkirakan meluas pada Mei di 184 ZOM atau 26,3 persen wilayah Indonesia, serta pada Juni di 163 ZOM atau 23,3 persen wilayah lainnya.

Jika dibandingkan dengan kondisi normalnya, BMKG memperkirakan awal musim kemarau akan datang lebih cepat di 325 ZOM atau sekitar 46,5 persen wilayah Indonesia. Sementara 173 ZOM diprediksi mengalami awal kemarau yang sama dengan normal, dan 72 ZOM lainnya diperkirakan mundur.

Wilayah yang diprediksi mengalami kemarau lebih awal mencakup sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua.

BMKG juga memperkirakan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia terjadi pada Agustus 2026, yang mencakup sekitar 429 ZOM atau 61,4 persen wilayah. Sebagian wilayah lainnya diperkirakan mencapai puncak kemarau pada Juli dan September.

Selain datang lebih awal, sifat musim kemarau tahun ini juga diperkirakan lebih kering. Sebanyak 451 ZOM atau sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami kemarau di bawah normal, sementara 245 ZOM berada pada kondisi normal.

Dengan kondisi tersebut, BMKG memperkirakan durasi musim kemarau di sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia akan berlangsung lebih panjang dari biasanya.

BMKG mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengantisipasi berbagai dampak yang mungkin terjadi, seperti kekeringan, gangguan produksi pangan, krisis air bersih, hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Di sektor pertanian, petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan dan membutuhkan air lebih sedikit. Sementara pemerintah didorong memperkuat pengelolaan sumber daya air melalui optimalisasi waduk dan jaringan distribusi air.

BMKG menegaskan bahwa informasi prakiraan musim ini merupakan bentuk peringatan dini agar berbagai pihak dapat mengambil langkah antisipasi sejak awal untuk meminimalkan risiko bencana akibat kekeringan.

Sumber:

Siaran Pers BMKG pada Rabu, 4 Maret 2026 https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/bmkg-musim-kemarau-2026-datang-lebih-awal-puncak-terjadi-agustus-mendatang

Bagikan ke :

Leave a Reply