Krisis pangan global semakin nyata. Ketegangan geopolitik, perubahan iklim, hingga fluktuasi harga komoditas membuat banyak negara kelimpungan menjaga ketersediaan pangan. Indonesia, yang kerap disebut sebagai negara agraris, ternyata masih menghadapi tantangan serius dalam menjaga ketahanan pangannya.
Di tengah situasi ini, Museum Tanah dan Pertanian Bogor menjadi ruang refleksi yang menarik. Museum yang berdiri sejak 1988 itu bukan hanya menyimpan koleksi peta tanah, artefak, dan peralatan pertanian, tetapi juga menyuguhkan kisah panjang perjalanan bangsa dalam mengelola sektor pangan. Dari alat pertanian tradisional, dokumen kolonial, hingga catatan revolusi hijau, semuanya memberi gambaran bahwa pangan adalah urat nadi kedaulatan bangsa.
Ketergantungan Impor yang Masih Tinggi
Meski memiliki lahan luas dan potensi pertanian besar, Indonesia masih sangat bergantung pada impor. Data Bisnis.com (2025) mencatat, sepanjang tahun ini pemerintah harus mengimpor sekitar 2,05 juta ton kedelai, 485 ribu ton daging ruminansia, serta 587 ribu ton bawang putih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Ketergantungan ini menjadi alarm peringatan. Jika gejolak harga dunia meningkat atau pasokan global terganggu, Indonesia bisa terjebak pada krisis pangan yang lebih serius. “Ketahanan pangan harus dijaga dengan memperkuat produksi dalam negeri. Namun untuk saat ini, impor masih menjadi penyeimbang,” kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dikutip dari Kompas (2025).
Penelitian terbaru pun menunjukkan hal serupa. Yasinta dalam Analisis Dampak Impor Beras terhadap Stabilitas Harga dan Ketahanan Pangan di Indonesia menemukan bahwa impor memang membantu menstabilkan harga dan memastikan ketersediaan beras. Namun, jika dilakukan terus-menerus, impor bisa melemahkan posisi petani lokal serta mengurangi insentif produksi dalam negeri.
Sementara itu, Ibrohim dalam Strategi Indonesia dalam Menekan Ketergantungan Impor Gandum dan Kedelai menegaskan bahwa rendahnya produktivitas dan keterbatasan lahan membuat upaya swasembada pangan belum optimal. Ketergantungan impor bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga membuat Indonesia sangat rentan terhadap perubahan harga global.
Museum sebagai Ruang Edukasi Publik

Di tengah kompleksitas masalah pangan itu, Museum Tanah dan Pertanian hadir bukan sekadar tempat wisata edukasi. Koleksi di dalamnya menyimpan kisah bagaimana bangsa ini pernah berjuang keras mencapai kemandirian pangan.
Pada era 1980-an, misalnya, program revolusi hijau berhasil meningkatkan produksi beras hingga Indonesia sempat mendapat pengakuan dunia karena mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri. Sejarah itu terekam dalam arsip, foto, dan dokumentasi yang kini dipamerkan di museum.
Bagi generasi muda, kunjungan ke museum ini bisa menjadi pengalaman berharga. Ia bukan hanya tentang melihat alat pertanian tempo dulu, melainkan juga ruang untuk menyadari bahwa isu pangan adalah soal kedaulatan, ekonomi, bahkan keberlangsungan hidup bangsa. Museum ini menghubungkan masa lalu dengan tantangan masa kini, sekaligus mengajak masyarakat untuk berpikir tentang masa depan.
Pelajaran dari Krisis Global
Isu krisis pangan global makin menguat sejak pandemi COVID-19 dan berlanjut dengan konflik Rusia-Ukraina yang mengganggu rantai pasok gandum dunia. Studi Sukmawati dkk. menekankan bahwa perubahan iklim, degradasi lahan, dan ketergantungan impor membuat Indonesia perlu membangun strategi berkelanjutan dalam sektor pangan.
Museum Tanah dan Pertanian pun seakan hadir sebagai pengingat. Koleksi dan narasi di dalamnya menegaskan bahwa bangsa ini pernah mampu memperkuat produksi domestik. Dengan riset pertanian yang inovatif, perbaikan distribusi, serta kebijakan yang berpihak pada petani, ketahanan pangan di masa depan bisa lebih kokoh
Krisis pangan global memberi peringatan keras bahwa kedaulatan pangan tidak bisa dibangun hanya dengan mengandalkan impor. Museum Tanah dan Pertanian Bogor mengajarkan bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan bahan bakar untuk menghadapi tantangan ke depan.
Bagi masyarakat, khususnya generasi muda, museum ini adalah ajakan untuk ikut terlibat: menjaga tanah, mendukung petani, dan membangun kesadaran bahwa pangan adalah hak sekaligus tanggung jawab bersama. Karena pada akhirnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya sendiri.
Sumber:
Sukmawati, D. ., Rivaldi, R. ., & Mahmiludin, D. . (2025). ANALISIS KETAHANAN PANGAN INDONESIA: TANTANGAN DAN STRATEGI BERKELANJUTAN DALAM ERA TRANSFORMASI SOSIAL-EKONOMI . Journal of Innovation and Research in Agriculture, 4(1), 23–29. https://doi.org/10.56916/jira.v4i1.1811
Ibrohim, M., Ardiyansyah, F. & Rudyarta, R. (2025). Strategi Indonesia dalam Menekan Ketergantungan Impor Gandum dan Kedelai (2010–2023): Perspektif Ketahanan Ekonomi Nasional. Arus Jurnal Sosial Dan Humaniora, 5(2), 2410–2420. https://doi.org/10.57250/ajsh.v5i2.1513
Yasinta, H., Setyaningrum, I., Cynthia, Y. & Muhammad, B. (2025). ANALISIS DAMPAK IMPOR BERAS TERHADAP STABILITAS HARGA DAN KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA (2019-2023). Jurnal Ilmiah Manajemen, Ekonomi, & Akuntansi (MEA). 9. 796-811. 10.31955/mea.v9i1.5008.
