Di tengah dunia yang semakin terhubung, manusia justru semakin jauh dari satu sama lain. Kita sibuk menata taman kecil di dalam kepala, tapi lupa bahwa taman itu seharusnya tumbuh bersama di halaman dunia yang sama. Fenomena ini bukan hanya soal perilaku sosial, tapi juga soal psikologi lingkungan tentang bagaimana cara kita menempatkan diri di antara sesama manusia dan alam yang menaungi.
Manusia modern sering kali merasa cukup dengan dirinya sendiri. Hidup dalam ruang tertutup, dikelilingi dinding kaca, dan percaya bahwa kebahagiaan adalah urusan personal yang tak perlu dibagi. Namun tanpa disadari, mentalitas ini menimbulkan kekosongan: semakin tinggi pagar kita bangun, semakin sempit ruang untuk tumbuh bersama. Lingkungan sosial yang renggang perlahan merembet menjadi lingkungan alam yang diabaikan.
Padahal, manusia adalah bagian dari ekosistem. Rasa kepedulian terhadap bumi berakar dari rasa terhubung terhadap orang lain. Seseorang yang terbiasa menutup diri dari komunitas, pada akhirnya juga menutup diri dari keindahan alam yang kolektif. Ia mungkin menanam tanaman di pot, tapi melupakan taman di luar sana yang menunggu disentuh bersama.
Psikologi lingkungan mengajarkan bahwa kebersamaan bukan hanya kebutuhan emosional, tapi juga ekologis. Saat seseorang merasa memiliki tempat dalam komunitasnya, ia lebih cenderung menjaga ruang hidupnya. Alam menjadi perpanjangan dari rasa memiliki itu. Karena sejatinya, lingkungan yang sehat bukan dibangun oleh individu yang hebat, melainkan oleh banyak hati yang mau saling terhubung.
Mungkin sudah waktunya kita keluar sejenak dari ruang pribadi. Berjalan kaki, menyapa tetangga, ikut menanam pohon bersama, atau sekadar berbagi air dengan tanaman di halaman yang sama. Hal-hal kecil seperti itu bisa menjadi awal penyembuhan, bukan hanya bagi bumi, tapi juga bagi jiwa yang mulai asing dengan makna “bersama”.
Sebab yang membuat bumi rusak sering kali bukan hanya kerakusan manusia, tapi kesepiannya.
