Di tepian Bengkulu, di antara rimba yang dulu bergema oleh langkah raksasa abu-abu, kini hanya tersisa jejak lumpur yang mengering.
Hutan Seblat, rumah bagi Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), perlahan berubah wajah. Pohon-pohon tinggi yang dahulu menjadi peneduh kini tergantikan oleh barisan kelapa sawit muda yang tumbuh seragam rapi, tapi sunyi.
Selama dua tahun terakhir, 1.585 hektare hutan di bentang alam Seblat lenyap, dibuka dan ditanami sawit.
Angka itu bukan sekadar statistik: ia adalah ukuran dari ruang hidup yang menghilang, dari langkah-langkah gajah yang kini tak tahu harus ke mana.
Jejak yang Dihapus Mesin
Koalisi Selamatkan Bentang Seblat melaporkan pembukaan lahan ini terjadi di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dan Mukomuko di dalam konsesi dua perusahaan kehutanan, PT Anugerah Pratama Inspirasi (API) dan PT Bentara Arga Timber (BAT).
Perambahan terjadi menggunakan alat berat di kawasan Hutan Produksi Air Rami dan Hutan Produksi Terbatas Lebong Kandis, yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
“Perubahan tutupan hutan di habitat kunci Gajah sumatera sangat masif dalam dua tahun terakhir,” ungkap Supintri Yohar dari Yayasan Auriga. Dikutip dari CNN Indonesia.
Citra satelit menunjukkan pembukaan besar-besaran bahkan telah menembus kawasan konservasi TNKS tempat yang seharusnya paling aman bagi satwa langka ini.
Ketika Pengawasan Tak Lagi Tajam
Koalisi telah berkali-kali mendesak pemerintah untuk meninjau izin usaha kehutanan dua perusahaan tersebut, namun hingga kini, langkah tegas belum tampak.
“Ini menunjukkan pemerintah tidak sanggup mengamankan hutan dan populasi gajah yang tersisa,” ujar Ali Akbar dari Kanopi Hijau Indonesia. Dikutip dari CNN Indonesia.
Bentang Seblat sesungguhnya adalah Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) dengan luas hampir 81 ribu hektare, jalur jelajah alami bagi Gajah sumatera di Bengkulu. Namun kini, populasi mereka diperkirakan tak lebih dari 50 ekor angka yang menandakan krisis ekologis yang nyata.
Lebih dari Sekadar Satwa

Gajah bukan sekadar simbol megah dari alam Sumatera. Mereka adalah “arsitek hutan” menjaga keseimbangan ekosistem dengan menyebarkan biji, membuka jalur, dan memberi ruang bagi tumbuhnya kehidupan lain.
Saat mereka kehilangan rumah, hutan kehilangan denyutnya, dan manusia kehilangan penjaga alam yang paling setia.
Di antara suara mesin dan aroma minyak sawit yang menyengat, kita mungkin lupa: setiap hektare yang hilang, adalah satu langkah mundur dari masa depan hijau yang kita impikan.
Menjaga Seblat bukan hanya menyelamatkan gajah, tapi juga menjaga kesadaran kita sebagai bagian dari bumi.
Karena rumah mereka, sejatinya, adalah rumah kita juga.

Sangat disayangkan jika pemerintah abay atau acuh terhadap isu tersebut