Setiap hari kita melakukan hal yang tampak sederhana: membuka Instagram, memesan ojek online, menonton film lewat streaming, atau bertanya pada AI. Semua terasa ringan. Tinggal klik. Tidak ada asap, tidak ada suara mesin, tidak ada bau bahan bakar.
Seolah-olah dunia digital itu bersih dan tak berwujud.
Padahal di balik layar, ada bangunan besar berisi ribuan server yang bekerja tanpa henti. Ada mesin pendingin industri yang menyala 24 jam. Ada jaringan listrik yang terus memasok daya agar notifikasi di ponsel kita muncul dalam hitungan detik.
Internet ternyata tidak melayang di awan. Ia berdiri di atas infrastruktur fisik yang sangat nyata.
Dunia Digital yang Haus Listrik
Secara global, pusat data (data center) menjadi jantung ekosistem digital. Di sanalah data diproses, disimpan, dan dikirimkan kembali ke perangkat kita.
Menurut laporan International Energy Agency (IEA) tahun 2024, pusat data di seluruh dunia mengonsumsi sekitar 460–500 terawatt hour (TWh) listrik per tahun. Itu setara dengan sekitar 1–2% konsumsi listrik global. Angkanya terdengar kecil, tetapi dalam sistem energi dunia, ini sudah setara konsumsi listrik satu negara besar.
Lonjakan kebutuhan listrik ini didorong oleh tiga hal utama: komputasi awan (cloud computing), dominasi video streaming, dan perkembangan Artficial Intelligence (AI) generatif.
AI generatif, misalnya, tidak sekadar “menjawab pertanyaan”. Untuk dilatih, model AI membutuhkan ribuan chip pemrosesan grafis (GPU) yang bekerja intensif selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Bahkan setiap interaksi harian pengguna dengan AI membutuhkan daya komputasi lebih besar dibanding pencarian biasa di mesin pencari.
IEA mengingatkan, tanpa peningkatan efisiensi dan pergeseran ke energi bersih, pertumbuhan sektor digital bisa memperberat tekanan pada sistem kelistrikan global.
Jejak yang Tak Terlihat: Energi, Air, dan Limbah
Pusat data bukan hanya soal listrik. Ia juga membutuhkan pendinginan agar server tidak mengalami overheating. Banyak fasilitas menggunakan sistem pendinginan berbasis air.
Laporan keberlanjutan Google 2023 mencatat penggunaan air global lebih dari 20 miliar liter per tahun. Microsoft dalam laporannya menyebut konsumsi air global lebih dari 6 juta meter kubik untuk operasionalnya.
Belum lagi persoalan limbah elektronik. Laporan Global E-waste Monitor 2024 menyebut dunia menghasilkan lebih dari 59 juta ton limbah elektronik per tahun. Sebagian berasal dari siklus pembaruan perangkat keras, termasuk server.
Sektor digital bukan sektor tanpa jejak ekologis. Ia memiliki jejak energi, jejak air, dan jejak material.
Indonesia: Pasar Digital Raksasa yang Terus Tumbuh

Di Indonesia, transformasi digital berlangsung cepat. Berdasarkan survei nasional 2025 yang banyak dikutip media, jumlah pengguna internet mencapai sekitar 229,4 juta orang dengan penetrasi 80,66% populasi.
Lima tahun lalu, angka penetrasi masih di kisaran 73–74%. Artinya, dalam waktu relatif singkat, jutaan orang baru masuk ke ruang digital.
Menurut laporan e-Conomy SEA 2024 dari Google, Temasek, dan Bain & Company, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai sekitar USD 90 miliar pada 2024 dan mendekati USD 100 miliar pada 2025. Indonesia menjadi pasar ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.
Semakin banyak transaksi digital, semakin banyak data diproses. Semakin banyak layanan berbasis cloud, semakin besar kebutuhan pusat data.
Pertanyaannya kemudian sederhana: listriknya dari mana?
Ketika Batu Bara Masih Mendominasi
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan lebih dari 60% pembangkit listrik Indonesia masih berbasis batu bara. Energi terbarukan—gabungan tenaga air, panas bumi, surya, dan angin—baru berkontribusi sekitar 12–15%.
Artinya, tambahan konsumsi listrik dari ekspansi pusat data kemungkinan besar masih ditopang oleh energi fosil.
Di sinilah muncul paradoks yang jarang dibicarakan. Digitalisasi sering dianggap simbol modernitas dan efisiensi. Namun jika listriknya masih berasal dari batu bara, maka pertumbuhan ekonomi digital berpotensi meningkatkan emisi karbon.
Internet mungkin tidak mengeluarkan asap, tetapi pembangkit listrik di belakangnya bisa saja melakukannya.
Peluang yang Sebenarnya Terbuka
Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi terbarukan yang besar: tenaga surya dalam skala ribuan gigawatt, cadangan panas bumi terbesar di dunia, dan potensi tenaga air yang tersebar di berbagai wilayah.
Jika ekspansi pusat data disertai kebijakan penggunaan listrik terbarukan—melalui skema green tariff atau pembelian listrik hijau—sektor digital justru bisa menjadi pendorong transisi energi.
Beberapa negara telah mengembangkan konsep green data center dengan standar efisiensi energi ketat dan komitmen listrik bebas karbon. Pendekatan serupa bukan hal mustahil untuk diterapkan di Indonesia.
Masa Depan Digital yang Rendah Karbon
Indonesia telah berkomitmen menurunkan emisi dan menargetkan net zero emission pada 2060 atau lebih cepat. Sektor energi menjadi kunci karena merupakan penyumbang emisi terbesar.
Jika konsumsi listrik sektor digital meningkat tanpa dekarbonisasi sistem energi, tekanan terhadap target iklim akan semakin besar.
Namun jika kebijakan digital dan kebijakan energi diselaraskan, ekonomi digital bisa menjadi akselerator transisi energi bersih.
Pilihan arah ini akan menentukan apakah pertumbuhan digital Indonesia menjadi bagian dari solusi krisis iklim, atau justru memperbesar tantangannya.
Pada akhirnya, setiap klik yang kita lakukan memang terasa ringan. Tetapi di baliknya, ada jaringan listrik yang bekerja. Ada sumber energi yang menyala. Dan ada keputusan kebijakan yang menentukan apakah energi itu bersih atau tidak.
Dunia digital tidak melayang di udara. Ia berdiri di atas sistem energi yang sangat nyata. Dan masa depan internet Indonesia, pada akhirnya, juga bergantung pada masa depan energi kita.
Sumber:
Google, Temasek, & Bain & Company. (2023). e-Conomy SEA 2023: Reaching new heights. Google. https://business.google.com/en-all/think/consumer-insights/e-conomy-sea-2023/
Google, Temasek, & Bain & Company. (2024). e-Conomy SEA 2024: Profits on the rise, harnessing SEA’s advantage. Temasek. https://www.temasek.com.sg/content/dam/temasek-corporate/news-and-views/resources/reports/google-temasek-bain-e-conomy-sea-2023-report.pdf
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. (2023). Statistik Ketenagalistrikan Indonesia 2023. https://gatrik.esdm.go.id/assets/uploads/download_index/files/e6394-buku-statistik-ketenagalistrikan-2023-esdm-revised.pdf
Microsoft. (2023). Environmental Sustainability Report.https://www.microsoft.com/en-us/corporate-responsibility/sustainability/report/
Bisnis Tekno. (2025). Data APJII: Pengguna Internet di Indonesia Tembus 229,43 Juta Orang pada 2025. https://teknologi.bisnis.com/read/20250806/101/1899997/data-apjii-pengguna-internet-di-indonesia-tembus-22943-juta-orang-pada-2025
United Nations University. (2024). Global E-waste Monitor 2024. https://ewastemonitor.info/wp-content/uploads/2024/12/GEM_2024_EN_11_NOV-web.pdf
Editor: Inesia Dian
