Dari Bencana Menjadi Aksi : Pandawara Ajak Rakyat Indonesia Donasi Membeli Hutan

Dahsyatnya bencana yang terjadi di Indonesia tiga pekan terakhir, menegaskan bahwasnya deforestasi memiliki dampak nyata dalam memperparah kondisi alam Indonesia. Ketika tutupan hutan mulai mengecil, tanah kehilangan kemampuan untuk menyerap air, aliran sungai menjadi tak terkendali, dan kawasan rawan bencana makin sulit dilindungi. Hutan Indonesia yang dulu sebagai paru-paru kehidupan kini berubah menjadi ladang keegoisan satu belah pihak.

Ditengah kondisi yang memilukan ini, sebuah inisiasi cermalang hadir oleh sekelompok pahlawan lingkungan yang bernama PANDAWARA GROUP. Mereka berinisiasi untuk mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk berdonasi membeli hutan sebagai upaya menyelamatkan bumi dari kehancuran akibat deforestasi.

Dalam laporan CNBC Indonesia, Komisi IV DPR RI menjelaskan bahwa tingkat deforestasi atau penggundulan hutan di Indonesia meningkat tajam dalam lima tahun terakhir. Terutama di tiga wilayah bencana longsor dan banjir yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Lonjakan deforestasi ini tidak hanya sebuah laporan berwujud angka melainkan berwujud musibah yang merenggut rumah warga, mata pencaharian, bahkan ratusan nyawa melayang.

Indonesia Krisis Hutan Rimbun

Sebagai negara yang dikenal sebagai salah satu negara hutan tropis terbesar di dunia, kini kondisi Indonesia menujukkan hal yang sebaliknya. Banyak wilayah yang dulunya diselimuti hutan rimbun kini berubah drastis menjadi area terbuka, gersang, atau dipenuhi perkebunan monokultur seperti sawit

Salah satu konten kreator dengan nama pengguna @nindya_rianita mengunggah sebuah konten yang menujukkan beberapa wilayah di Indonesia yang telah dipenuhi oleh tanaman kelapa sawit.  Dalam kontennya wilayah yang banyak terdapat tanaman sawit diantaranya Medan, Aceh, Sumatera Barat, dan Riau. Dari unggahan konten tersebut menjadikan masyarakat memahami transformasi perkebunan yang begitu cepat sehingga dapat menggantikan hutan asli.

Aksi Masyarakat

Melihat kondisi lingkungan yang semakin memprihatinkan, butuh langkah nyata yang dilakukan secara kolektif untuk mencegah pengalihan lahan yang menimbulkan bencana. Langkah tersebut dapat berupa gerakan yang melibatkan banyak pihak mulai dari komunitas lokal, penggiat lingkungan, hingga masyarakat umum yang tersentuh oleh kondisi alam Indonesia. Sebuah inisiasi penggiat lingkungan Pandawara Group sudah cukup kolektif, namun terdapat hal lain yang dapat dipertimbangkan kembali untuk merealisasikan gerakan tersebut.

Dalam mewujudkan gerakan yang kolektif, perlu diimbangi dengan gerakan yang realistis. Hal ini disampaikan oleh Adit, mahasiswa FISIP UGM. Ia mengatakan “Bagi saya, hal itu kurang realistis. Karena dalam implementasinya sangat rumit. Ini bukanya hanya sekedar diatas meja, hitam diatas putih. Banyak kompleksitas dalam realisasinya.”. Ia juga menyarakan bahwa hal yang dianggap realistis untuk mengatasi deforestasi yang meningkat di Indonesia ialah belajar terkait pendidikan politik lingkungan. Dengan adanya hal tersebut  masyarakat tidak hanya melakukan gerakan kolektif melainkan memahami bagaimana kebijakan bekerja, siapa aktor yang berperan dalam pengelolaan hutan, serta bagaimana mekanisme advokasi dapat dijalankan secara strategis.

Pemahaman politik lingkungan membuat gerakan tidak berhenti pada aksi simbolis saja, tetapi mampu menembus akar persoalan, menekan pemerintah dan memperjuangkan regulasi yang lebih kuat untuk melindungi hutan

Bagikan ke :