Perubahan iklim bukan lagi ancaman yang samar, melainkan kenyataan yang kita hadapi setiap hari. Cuaca ekstrem semakin sering terjadi, dari banjir besar hingga kekeringan berkepanjangan, membawa dampak serius bagi kehidupan manusia dan keberlangsungan bumi. Indonesia pun tidak terkecuali. Negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia ini berada di garis depan ancaman, dari naiknya permukaan laut hingga krisis pangan.
Dalam kerangka Sustainable Development Goals (SDGs), isu perubahan iklim tertuang jelas pada tujuan ke-13: Climate Action. Namun, perubahan iklim bukan persoalan yang berdiri sendiri. Ia berkaitan erat dengan tujuan lain: pengentasan kemiskinan (SDG 1), ketahanan pangan (SDG 2), kesehatan yang layak (SDG 3), energi bersih (SDG 7), hingga pembangunan berkelanjutan bagi kota dan komunitas (SDG 11). Dengan kata lain, kegagalan mengatasi perubahan iklim berarti kegagalan mencapai agenda pembangunan berkelanjutan secara keseluruhan.
Indonesia telah berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca dan melakukan transisi menuju energi terbarukan. Namun, komitmen tanpa konsistensi hanya akan berakhir sebagai retorika. Pengelolaan energi, transportasi ramah lingkungan, pertanian berkelanjutan, dan pengendalian deforestasi adalah langkah nyata yang tak bisa ditunda lagi.
Masyarakat pun memiliki peran penting. Gaya hidup hijau, dari mengurangi sampah plastik hingga mendukung transportasi publik, adalah bentuk aksi kecil yang jika dilakukan bersama akan memberi dampak besar. Dunia usaha pun dituntut untuk transparan dalam jejak karbon, bertanggung jawab dalam produksi, dan adil dalam distribusi manfaat.
Editorial ini menegaskan: perubahan iklim adalah isu moral sekaligus isu eksistensial. Menunda aksi sama saja dengan menggadaikan masa depan. SDGs telah memberikan peta jalan, namun peta tak berguna bila tidak dilalui.
Saatnya pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat bergerak lebih berani. Indonesia tidak boleh sekadar menjadi penonton dalam drama krisis iklim global. Kita harus menjadi pelaku yang memastikan bumi tetap layak dihuni, bukan hanya untuk generasi kini, tetapi juga bagi generasi mendatang.
