Kabut pagi di jalanan kota selalu bercampur dengan asap kendaraan yang menyusup pelan ke paru-paru. Suara mesin tak pernah reda, seakan menjadi musik latar dari keseharian masyarakat urban. Namun, di balik hiruk pikuk itu, ada kesadaran yang mulai tumbuh: bumi tak lagi bisa menanggung cara lama. Indonesia pun perlahan menapaki jalan baru yang disebut ekonomi hijau.
Ekonomi hijau bukan sekadar istilah. Ia adalah strategi pertumbuhan yang mengikat pembangunan dengan kelestarian. Bukan hanya menjaga alam dari kerusakan, tetapi juga memastikan manusia berhak atas udara bersih, kesehatan, dan masa depan yang lebih sejahtera. Konsep ini menempatkan kesejahteraan dan keberlanjutan di jalur yang sama, bukan dua kutub yang berlawanan.
Langkah transisi itu sudah berjalan. Energi fosil perlahan digantikan oleh energi terbarukan. Panel surya mulai menghiasi atap rumah dan sekolah, kincir angin berputar di tepi pantai, sementara limbah pertanian diproses menjadi energi biomassa. Semua bergerak dalam satu tujuan: membebaskan diri dari ketergantungan pada minyak dan batu bara yang kian membebani bumi.
Di jalan raya, tanda-tanda perubahan pun terasa. Ekosistem kendaraan listrik perlahan tumbuh, dari sepeda motor hingga mobil yang melaju tanpa meninggalkan jejak asap. Kehadirannya bukan sekadar simbol kemajuan teknologi, tetapi cermin kesadaran baru untuk menekan polusi udara perkotaan.

Sementara itu, pengelolaan limbah bertransformasi melalui ekonomi sirkular. Dengan prinsip 9R — Refuse, Rethink, Reduce, Reuse, Repair, Refurbish, Remanufacture, Recycle, hingga Recover — sampah diberi kehidupan kedua. Benda yang biasanya berakhir di tempat pembuangan kini dipandang sebagai sumber daya, bukan beban.
Dunia usaha juga menapaki arah serupa. Perusahaan mulai dinilai bukan hanya dari seberapa besar keuntungan yang diraih, tetapi dari tanggung jawab mereka terhadap lingkungan. Standar seperti B Corp mendorong bisnis untuk transparan dalam jejak karbon, bijak dalam mengelola limbah, dan konsisten menggunakan energi bersih.
Semua ini menjadi bagian dari suara yang terus menggema: ekonomi hijau hanya mungkin terwujud jika semua pihak berjalan bersama. Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat perlu saling melengkapi dalam menjaga bumi.
Ekonomi hijau adalah janji. Janji kepada anak-anak yang berlari di halaman sekolah agar kelak bisa menghirup udara bersih tanpa rasa was-was. Janji kepada petani agar tanahnya tetap subur dan sungainya tidak tercemar. Janji kepada generasi mendatang bahwa mereka tidak hanya mewarisi masalah, tetapi juga kesempatan untuk hidup lebih baik.
Dalam setiap langkah kecil menuju perubahan, ada suara yang perlu terus digaungkan. Sebab hanya dengan tetap bersuara, ekonomi hijau bisa menjadi kenyataan, bukan sekadar wacana.
