Sejarah Kelder Air Mancur Bogor, Penghubung Dua Istana yang Kini Jadi Cagar Budaya

Air bukan hanya menjadi kebutuhan dasar manusia, tetapi juga menyimpan makna simbolis sebagai perekat persatuan. Hal ini tercermin dari penetapan Kelder Air Mancur di Kelurahan Sempur, Kota Bogor sebagai cagar budaya oleh Bupati Bogor dan Wali Kota Bogor, sebuah warisan sejarah yang hingga kini masih mengalirkan kehidupan.

Berdiri sejak zaman kolonial Belanda, yaitu tahun 1922, gardu pembagi air ini berfungsi untuk mengatur pendistribusian air bersih dari mata air Ciburial di kaki Gunung Salak ke berbagai wilayah.

Tepat satu hari sebelum hari jadi Indonesia yang ke-80, pemerintah Kabupaten Bogor dan Kota Bogor membuktikan sinerginya dalam menjaga warisan sejarah.

Ia menegaskan bahwa mata air Ciburial sebagai sumber mata air yang dialirkan oleh Kelder Air mancur memiliki ikatan yang erat. Air sebagai sumber kehidupan telah menjadi saksi bisu perjalanan sejarah. Para pemimpin, pahlawan bangsa, serta rakyatnya sama-sama meminum air dari sumber yang sama.

Menghubungkan Dua Istana Negara

Air yang mengalir dari mata air Ciburial kemudian melewati Kelder Air Mancur dan mengalirkan tirtanya hingga ke wilayah Depok, Kabupaten Bogor, dan Jakarta.

Istana Bogor hingga Istana Merdeka, dua istana negara terhubung melalui air yang mengalir dari mata air yang sama. Overloop Kelder Obelisk, atau Pos Air Mancur yang usianya telah lebih dari satu abad tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat pendistribusian air.

Gardu pembagi air bertuliskan 1922 itu tidak hanya sekadar bangunan usang, namun juga simbol sejarah dan persatuan. Ada catatan sejarah tersendiri yang tersimpan dalam air yang terus bergejolak. Dua kota, dua pemerintahan, saling terhubung dan membuktikan sinerginya lewat tetesan air yang mengalir.

Bagikan ke :