DLH Selidiki Penyebab Kematian Ikan di Setu Citongtut, 21 Perusahaan Masih Didalami

Sejumlah ikan mati berserakan di Setu Citongtut, Kabupaten Bogor, yang kini tengah diselidiki penyebabnya oleh DLH.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor menyelidiki penyebab matinya ikan di Setu Citongtut, Desa Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, yang videonya ramai beredar di media sosial. Hingga kini, DLH belum memastikan apakah peristiwa tersebut disebabkan oleh pencemaran limbah industri atau faktor lingkungan lainnya.

Pelaksana Tugas Kepala DLH Kabupaten Bogor, Teuku Mulya, mengatakan bahwa penyelidikan masih berlangsung karena terdapat sejumlah kemungkinan penyebab. “Apakah ini karena pencemaran air dari perusahaan-perusahaan atau ada fenomena lain, itu masih kami dalami,” kataTeuku Mulya kepada kontributor Greenmind Dziharul Islam, Senin (26/1).

Menurutnya, proses pengawasan di lapangan menghadapi kendala karena aliran anak sungai yang menuju Setu Citongtut berada di bawah kawasan industri. Kondisi tersebut menyulitkan petugas untuk melakukan pemantauan langsung terhadap sumber air.

“Anak air yang mengalir ke situ berada di bawah pabrik-pabrik di kawasan Gunung Putri. Itu yang menyulitkan kami untuk melakukan pengawasan secara menyeluruh,” katanya.

Teuku menyebutkan terdapat sekitar 21 perusahaan di sekitar aliran tersebut. Namun, hingga saat ini DLH belum dapat memastikan sumber pencemaran yang menyebabkan kematian ikan.

Ia juga menegaskan bahwa kewenangan pengelolaan Setu Citongtut berada di tingkat Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Meski demikian, DLH Kabupaten Bogor tetap melakukan pengawasan awal dan koordinasi lintas instansi.

Terkait sanksi, Teuku menjelaskan bahwa penindakan saat ini masih mengacu pada sanksi administratif sesuai dengan peraturan lingkungan hidup. “Perusahaan diwajibkan memperbaiki pengelolaan limbahnya. Jika tidak, dapat dilakukan penyegelan,” ujarnya.

Opsi penegakan hukum pidana, kata dia, masih terbuka apabila hasil penyelidikan menunjukkan adanya dampak lingkungan yang serius dan merugikan masyarakat.

Editor: Inesia Dian

Wartawan kontributor: Dziharul Islam

Bagikan ke :