Aceh, awal Desember 2025, menjadi saksi luka alam yang terasa semakin dalam. Hujan tak kunjung henti selama berminggu-minggu menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor di berbagai wilayah di Sumatra, khususnya Pidie Jaya, Aceh.
Ribuan rumah terendam, ratusan jiwa hilang, dan jaringan infrastruktur yang semula menghubungkan desa–desa kini tenggelam di bawah arus deras dan tumpukan kayu gelondongan yang menghantam apa saja di jalurnya.
Dampaknya tak hanya mengoyak kehidupan manusia, tetapi juga merusak habitat, memperlemah ekosistem, dan menghadirkan sebuah ironi yang tajam bagi satwa yang selama ini kita klaim lindungi.
Gajah Sumatera: Raksasa Lembut di Tengah Puing
Di tengah tumpukan puing dan keheningan yang melelahkan, muncul pemandangan yang nyaris tak terduga: empat gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang jinak, bernama Abu, Mido, Ajis, dan Noni, diturunkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh untuk membantu membersihkan kayu-kayu besar yang menutup akses jalan penduduk.
Dengan belalai kuat mereka menarik batang kayu, membantu membuka jalan sempit yang sulit dijangkau oleh alat berat, dan membawa harapan kecil bagi warga dan relawan yang bekerja tanpa henti.
Di satu sisi, aksi itu tampak hampir seperti simbol solidaritas alam terhadap manusia — seekor raksasa yang dengan sabar membantu mengangkat beban materi, bahkan saat rumahnya sendiri porak-poranda oleh kerusakan ekologis.
Di sisi lain, perhatian kita tertuju pada fenomena yang jauh lebih suram: gajah yang seharusnya hidup bebas di habitatnya tengah berjuang menanggulangi akibat kerusakan yang justru disebabkan oleh aktivitas manusia.
Respon Publik: Antara Kagum dan Kritik Tajam
Kehadiran gajah-gajah pekerja ini menciptakan dualitas respons di publik. Banyak yang merasa terharu melihat gajah bekerja membantu masyarakat di tengah krisis, bahkan sebagai simbol solidaritas alam.
Namun suara lain justru menggarisbawahi kenyataan pahit: mengapa satwa yang terancam punah dijadikan alat bantuan pascabanjir, sementara sumber persoalan justru adalah perusakan lingkungan yang menyebabkan banjir itu sendiri?
Artis dan tokoh publik seperti Sherina Munaf menyuarakan kritik keras di media sosial, mempertanyakan penggunaan gajah sebagai “alat berat” dan menyebut praktik ini tidak etis bagi satwa yang seharusnya dilindungi.
Ia menulis bahwa manusia seharusnya mengutamakan upaya penanganan dengan cara yang menghormati kehidupan, bukan menggunakan makhluk hidup yang habitatnya semakin terkikis.
Begitu pula kritik dari anggota legislatif seperti Daniel Johan dari Komisi IV DPR, yang menilai pengerahan gajah bertentangan dengan prinsip konservasi karena bisa berisiko bagi keselamatan dan kesejahteraan satwa tersebut.
Ia menekankan bahwa alat berat yang sesuai dan peningkatan kapasitas respon manusia seharusnya menjadi fokus utama, bukan mengandalkan hewan yang dilindungi.
Ironi yang Menyayat Hati

Ada sesuatu yang ironis ketika makhluk yang selama ini menjadi simbol hutan dan satwa liar kini justru ikut menanggung beban akibat kerusakan lingkungan yang diperparah oleh ulah manusia.
Habitat gajah yang terus tergerus oleh deforestasi dan perubahan tata guna lahan — dampak dari pembalakan, pertanian, dan perluasan perkebunan kini menyusut drastis, mendekatkan mereka ke pemukiman manusia dan sekaligus meningkatkan risiko konflik serta tekanan akibat bencana alam.
Gajah yang seharusnya bebas berkeliaran sebagai penjaga hutan kini harus membantu manusia membersihkan puing bangunan yang luluh lantak — puing yang sebagian besar berasal dari kegagalan kita menjaga keseimbangan alam.
Ironi ini bukan sekadar judul retoris, tetapi sebuah cermin: bahwa manusia dan alam saling terikat oleh konsekuensi dari pilihan kita sendiri.
Dalam setiap tarikan belalai gajah yang menarik kayu besar, ada sebuah pelajaran besar tentang tanggung jawab.
Alam tidak bisa terus dimanfaatkan tanpa batas; ketika keseimbangan itu runtuh, kita akan berdiri sendiri di tengah kehancuran yang sama-sama harus kita perbaiki.
Penggunaan gajah dalam pembersihan ini bukan sekadar aksi dramatis, ia adalah seruan untuk memikirkan kembali hubungan kita dengan bumi, satwa, dan masa depan yang kita wariskan kepada generasi berikutnya.
Pada akhirnya, yang paling menyentuh dari peristiwa ini bukanlah pemandangan gajah yang menarik kayu, melainkan kenyataan bahwa mereka bekerja di atas luka yang kita sendiri ciptakan.
Setiap belalai yang terangkat seolah mengungkapkan pertanyaan yang tak pernah terucap: sampai kapan mereka harus menanggung beban yang bukan milik mereka?
Sumber:
- ANTARA News: Aceh deploys elephants to clear flood debris in Pidie Jaya https://en.antaranews.com/news/395608/aceh-deploys-elephants-to-clear-flood-debris-in-pidie-jaya
- CNN Indonesia: Gajah-gajah Dikerahkan Bantu Bersihkan Puing Kayu Pascabanjir Aceh. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20251208203338-20-1304297/gajah-gajah-dikerahkan-bantu-bersihkan-puing-kayu-pascabanjir-aceh
- Anggota DPR Kritik BKSDA Aceh Kerahkan Gajah Singkirkan Kayu Sisa Banjir — detikNews: https://news.detik.com/berita/d-8253887/anggota-dpr-kritik-bksda-aceh-kerahkan-gajah-singkirkan-kayu-sisa-banjir
- The Jakarta Post: Critically endangered Sumatran elephant found dead in flood-hit Aceh. https://www.thejakartapost.com/indonesia/2025/12/03/critically-endangered-sumatran-elephant-found-dead-in-flood-hit-aceh.html

Building a personal library of digital books is a hobby for many of us. If you focus on fiction, an archive of romance novels is an indispensable resource. Being able to download a PDF allows for offline reading, which is perfect for those times when you do not have internet access. https://anarchiveofromancepdf.top/ An Archive Of Romance Ava Reid Read Online