Greenmind.id, Sumatera Utara — Hujan deras yang turun selama dua hari berturut-turut pada awal pekan ini mengubah suasana di empat wilayah Sumatera Utara, Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan menjadi penuh kehati-hatian dan kewaspadaan. Cuaca ekstrem memicu banjir dan tanah longsor, mengganggu aktivitas masyarakat serta meninggalkan jejak kerusakan lingkungan.
Di beberapa titik, air datang tiba-tiba dengan membawa lumpur, batu, kayu, dan material lainnya. Masyarakat yang tinggal di area bantaran sungai hingga lereng bukit menjadi pihak yang paling terdampak, sementara tim gabungan BPBD dan relawan terus bergerak memastikan keselamatan warga.

Sibolga: Air Mengalir Cepat Membawa Material
Di Kota Sibolga, arus banjir terlihat cukup deras dan memasuki permukiman padat. Material seperti batu, kayu, puing bangunan, hingga sampah rumah tangga terbawa aliran sehingga memperparah kondisi.
Sejumlah titik jalan terhambat akibat material lumpur dan longsoran. Beberapa rumah mengalami kerusakan, dan aktivitas warga terpaksa terhenti sambil menunggu normalisasi lingkungan.
Tapanuli Selatan: Dampak Terbesar di Tingkat Kemanusiaan
Dari empat wilayah terdampak, Tapanuli Selatan menjadi daerah dengan dampak paling berat. Bencana banjir dan tanah longsor menyebabkan korban jiwa dan ribuan orang mengungsi. Di sejumlah lokasi, masyarakat kini bertahan di tempat pengungsian darurat dengan fasilitas sementara, sembari menunggu perbaikan akses dan bantuan lanjutan.
Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah: Infrastruktur dan Permukiman Terdampak
Di Tapanuli Utara, akses transportasi terganggu akibat jembatan putus dan rumah yang terdampak. Proses pendataan kerusakan terus dilakukan pemerintah daerah bersama BNPB.
Sementara itu di Tapanuli Tengah, ribuan rumah terendam banjir. Tenda pengungsi telah didirikan, logistik mulai disalurkan, dan layanan darurat diprioritaskan untuk keluarga dengan balita, lansia, dan penyintas dengan kondisi medis tertentu.
BMKG: Dua Sistem Siklon Memicu Cuaca Ekstrem
BMKG mencatat bahwa fenomena ini dipengaruhi oleh dua sistem cuaca signifikan Siklon Tropis KOTO dan bibit siklon 95B. Kedua sistem tersebut memperkuat pertumbuhan awan konvektif, meningkatkan curah hujan ekstrem di wilayah Sumatera bagian utara.
Fenomena ini juga berdampak pada kondisi laut dan gelombang tinggi, sehingga sejumlah wilayah pesisir diminta meningkatkan kewaspadaan.
Waspada Berkelanjutan

Situasi cuaca masih berpotensi berubah, dan data di lapangan terus diperbarui oleh BNPB. Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau untuk tetap siaga, terutama bagi yang tinggal di daerah rawan banjir atau longsor.
Di banyak lokasi, warga kini mulai membersihkan rumah, memperbaiki akses, dan menata kembali barang yang masih bisa diselamatkan. Meski kondisi belum stabil sepenuhnya, upaya pemulihan terus berjalan.
Bencana ini meninggalkan banyak cerita tentang kekuatan alam, tantangan lingkungan, dan ketahanan masyarakat. Di tengah situasi sulit, harapan pada pemulihan tetap menyertai langkah masyarakat Sumatera Utara.

thanks for info.