Sumatera kembali menghadapi babak getir bencana hidrometeorologi di penghujung 2025. Banjir dan tanah longsor menerjang Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat, menyisakan jejak kerusakan yang bukan hanya material, tetapi juga menunjukkan rapuhnya tata kelola lingkungan di tengah cuaca ekstrem yang makin intens terjadi.
Fenomena ini tak berdiri sendiri. Para pakar meteorologi menyebutkan pergantian musim dengan curah hujan ekstrem serta degradasi lingkungan akibat alih fungsi lahan memperburuk bencana alam di wilayah-wilayah rawan seperti sepanjang Bukit Barisan.
Jembatan Roboh, Jalan Terputus, Air Bersih Hilang
Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum menyebut sedikitnya empat jembatan rusak setelah diterjang banjir dan longsor. Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana Kusumawati, menegaskan dampak kerusakan infrastruktur sangat luas.
“Air bersih mungkin tidak dapat berfungsi lagi. Kami sedang mengidentifikasi semuanya,” ujarnya.
Di Sumatera Utara, skala kerusakan tampak lebih mencengangkan. Pemerintah mencatat 20 titik longsor, namun di lapangan laporan mencapai lebih dari 57 titik, terutama di wilayah Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Beberapa jalur vital seperti Tarutung–Sibolga dan akses Humbang Hasundutan–Barus lumpuh total.
Di beberapa lokasi, kondisi semakin memburuk bukan hanya karena jalan tersumbat material longsor, tetapi juga karena jembatan yang menghubungkan desa dan kota runtuh terbawa arus sungai yang meluap.
“Jaringan komunikasi, internet, hingga listrik terputus. Tapanuli Tengah sedang dalam kondisi terisolir,” kata Bupati Masinton Pasaribu.
Aceh Gelap dan Terputus dari Dunia Luar
Aceh turut mengalami dampak besar. Sedikitnya 9 kabupaten dan kota terdampak banjir parah, termasuk Langsa, Aceh Timur, dan Aceh Utara.
Pemadaman listrik dan terputusnya telekomunikasi semakin menyulitkan warga mengakses bantuan. Banyak keluarga tercerabut dari komunikasi dengan kerabat, termasuk Teuku Zulman, warga Aceh yang kini tinggal di Jakarta.
“Sejak Rabu siang, saya tidak bisa lagi menghubungi keluarga di Langsa,” ujarnya dengan nada cemas.
BPBA membenarkan kondisi ini.
“Lumpuh total. Akses listrik dan internet padam,” kata petugas Pusdalops, Fauzan.
Korban Jiwa Meningkat, Ribuan Mengungsi
Seiring upaya pencarian dan evakuasi, angka korban kian bertambah. Di Sumatera Utara alone, polisi mencatat 34 orang meninggal, sementara 52 warga masih hilang dan diduga tertimbun longsor.
Sementara itu di Sumatera Barat, Wakil Gubernur Vasco Ruseimy menyebut 12 ribu jiwa terdampak bencana dan 12 meninggal dunia.
Alarm Krisis Iklim Semakin Jelas

Serangkaian bencana ini kembali menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan lagi wacana akademik tetapi kenyataan yang menyentuh hidup warga.
Banjir bandang dan longsor bukan semata kejadian alamiah, melainkan sinyal intensif dari:
- Deforestasi yang masih terjadi di lereng pegunungan Sumatera,
- Pengelolaan tata ruang yang tidak berkelanjutan,
- serta cuaca ekstrem akibat pemanasan global.
Dalam kondisi ini, masyarakat menjadi pihak paling rentan, terutama mereka yang hidup di bantaran sungai, perbukitan, dan wilayah hutan yang berubah fungsi menjadi kebun dan permukiman.
Harapan di Tengah Krisis
Di berbagai desa, warga kini saling bergandengan tangan: membuka dapur umum, mengevakuasi manula, hingga menjaga sungai agar arus air tidak kembali meluap.
Bencana ini menjadi cermin, bahwa adaptasi perubahan iklim kini bukan pilihan—melainkan kebutuhan mendesak.
Karena di balik angka dan infrastruktur yang runtuh, selalu ada rumah yang kosong, telepon yang tak lagi berdering, dan keluarga yang menunggu kabar orang terkasih.

One thought on “Sumatera dalam Darurat Ekologis: Jembatan Putus, Listrik Padam, dan Puluhan Nyawa Melayang”
Comments are closed.