Di bawah bayang kanopi hutan Indonesia, ada suara yang kini semakin jarang terdengar: kepakan berat dan panggilan serak dari burung rangkong.
Selama ribuan tahun, burung-burung megah ini menjadi penanda kehidupan hutan, penyebar benih, sekaligus simbol sakral bagi masyarakat adat. Namun hari ini, mereka menjadi pengingat akan rapuhnya keseimbangan alam Nusantara.
Indonesia, negara yang menyimpan lebih dari separuh hutan hujan Asia, merupakan rumah bagi 13 spesies rangkong jumlah yang menjadikannya salah satu hotspot biodiversitas hornbill terbesar di dunia. Di Sumatra, sembilan spesies hidup berdampingan dalam ritme hutan hujan. Di Kalimantan, delapan spesies menempati bentang alam luas dari rawa gambut hingga perbukitan batu kapur. Di Jawa, Sulawesi, Sumba, hingga Papua, berbagai jenis endemik menjaga hutan-hutan tua yang tersisa.

Tetapi setiap tahun, ruang hidup mereka menyusut. Dan dengan itu, hilang pula harapan hutan untuk tetap sehat.
ANATOMI PENJAGA HUTAN
Rangkong bukan sekadar burung besar dengan paruh aneh. Mereka adalah organisme yang dirancang dengan presisi evolusi jutaan tahun.
Balung: Ikon yang Berubah Menjadi Kutukan
Pada beberapa spesies, seperti rangkong gading (Rhinoplax vigil), balung berubah menjadi struktur padat keratin yang menyerupai gading burung. Dulu, balung ini adalah alat komunikasi dan senjata evolusi. Kini, justru menjadi alasan mereka diburu.
Casque yang mudah diukir menjadi perhiasan membuat spesies ini naik status menjadi Terancam Kritis.
Dalam banyak kasus, penyelundup lebih memilih membunuh burung dewasa untuk satu balung tunggal menghilangkan peluang reproduksi dan mempercepat penurunan populasi.
Leher yang Menguatkan Evolusi
Rangkong adalah satu-satunya burung dengan tulang leher yang menyatu. Ini adalah rahasia di balik kemampuan mereka membawa paruh yang secara visual tampak mustahil ditopang tubuh.
Ahli Ekologi Alami
Dengan daya jelajah mencapai 100 kilometer persegi, rangkong memencarkan benih pohon besar seperti Dysoxylum dan Ficus ke sudut-sudut terdalam hutan. Tanpa mereka, regenerasi hutan hujan—terutama hutan primer berpotensi lumpuh.
DRAMA KEHIDUPAN DI DALAM BATANG POHON
Tidak banyak makhluk di dunia yang menjalani fase reproduksi sedramatis rangkong.
Ketika musim kawin tiba, betina memilih lubang pohon yang dalam, kadang lubang alami, kadang bekas patahan batang. Setelah masuk, jantan menyegel pintu sarang menggunakan campuran lumpur, makanan yang dimuntahkan, dan kotorannya sendiri.
Betina kemudian terperangkap secara sukarela.
Di balik tembok sempit itu, ia mengerami dua telur selama lebih dari 40 hari.
Selama itu pula, hidupnya sepenuhnya bergantung pada sang jantan.
Jika jantan mati karena pemburu, predator, atau kehilangan habitat betina dan calon anakan akan mati bersama dalam ruang gelap itu.
Ketika anak rangkong mendekati waktu keluar sarang, betina meruntuhkan dinding dan meninggalkan lubang. Kemudian anak rangkong menyegel pintu kembali dan menunggu diberi makan hingga akhirnya siap terbang dan memasuki dunia yang tak lagi serimbun dulu.
13 SPESIES RANGKONG INDONESIA: PORTRAIT KEGIGIHAN DI BALIK ANCAMAN
Berikut adalah penjaga hutan Indonesia yang masa depannya kini berada di ujung tajam antara konservasi dan kehancuran:
- Rangkong gading – Terancam Kritis
- Enggang jambul – Terancam
- Julang jambul hitam – Terancam
- Enggang klihingan – Terancam
- Kangkareng Sulawesi – Rentan
- Julang Sulawesi – Rentan
- Julang Sumba – Rentan
- Rangkong badak – Rentan
- Julang emas – Rentan
- Rangkong papan – Rentan
- Kangkareng hitam – Rentan
- Kangkareng perut putih – Wilayah luas Asia, beberapa populasi menurun
Masing-masing memiliki kisah ekologis, distribusi, dan masalah konservasi berbeda namun semuanya menghadapi ancaman yang sama: hilangnya hutan dan perburuan.
ANCAMAN YANG MEMBAYANGI
1. Hilangnya Pohon Besar
Spesies rangkong tidak bisa bersarang di sembarang lubang. Mereka membutuhkan pohon raksasa dengan diameter besar yang hanya ditemukan pada hutan primer. Ketika pohon-pohon tua ditebang, rangkong kehilangan satu-satunya tempat aman untuk berkembang biak.
2. Fragmentasi Habitat
Ketika hutan terpecah menjadi pulau-pulau kecil akibat pertanian dan perkebunan, rangkong yang membutuhkan wilayah jelajah luas kehilangan jalur pergerakan alami.
Beberapa spesies bahkan enggan melintasi area terbuka.
3. Perburuan Kasque dan Dagangan Ilegal
Balung rangkong gading menjadi komoditas gelap bernilai tinggi, terutama di pasar Asia Timur.
Dalam lima tahun terakhir, ribuan balung berhasil disita, namun angka di lapangan jauh lebih besar.
4. Konflik dan Ketidaktahuan
Di beberapa wilayah, rangkong diburu bukan hanya untuk balung, tetapi juga untuk konsumsi atau dijadikan hewan peliharaan eksotis.
WARISAN BUDAYA: RANGKONG DALAM HATI MASYARAKAT DAYAK

Di Kalimantan, rangkong tidak hanya hidup di pepohonan mereka hidup dalam hati masyarakat adat.
Simbol rangkong tergambar pada ukiran rumah adat, perisai, hingga ritual penguburan.
Bagi suku Dayak, rangkong adalah penjaga kehidupan. Suaranya dianggap sebagai pertanda, dan perilakunya dianggap sebagai pesan dari alam.
Kepercayaan ini menjadi kekuatan besar dalam konservasi tradisional. Banyak wilayah adat yang secara tidak resmi menjaga habitat rangkong lebih baik daripada kawasan konservasi formal.
HARAPAN TERAKHIR DI RER DAN HUTAN YANG TERSISA
Delapan dari sembilan spesies rangkong Sumatra tercatat hidup di kawasan Restorasi Ekosistem Riau (RER) sebuah lanskap yang kini menjadi laboratorium hidup bagi upaya pemulihan hutan gambut seluas 150.000 hektare.
Di tempat-tempat seperti ini, rangkong menemukan sedikit ruang lega untuk terus berkembang.
Tetapi jumlah kawasan lindung masih terlalu kecil untuk menjamin kelangsungan mereka dalam jangka panjang.
JIKA RANGKONG HILANG…

Maka hilanglah salah satu penyebar biji terbesar Asia.
Hilang pula penjaga regenerasi pohon-pohon hutan primer.
Hilang suara yang selama ribuan tahun menjadi musik pagi di hutan tropis Indonesia.
Dan lebih dalam dari itu hilang pula satu bagian dari jiwa Nusantara.
MENJAGA PENJAGA
Konservasi rangkong bukan hanya tugas ilmuwan atau aktivis.
Ia adalah tanggung jawab moral seluruh bangsa.
Karena ketika rangkong terbang untuk terakhir kalinya, yang hilang bukan hanya seekor burung.
Yang hilang adalah masa depan hutan dan masa depan kita sendiri.
