Ketika Harapan Hadir di Tengah Gunungan Sampah

Potret gunungan sampah di Bantar Gebang yang mengkhawatirkan. Foto: Forestdigest.com

Gunungan sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang kini menjulang tinggi, bahkan setara dengan gedung 16 lantai di pusat kota. Di balik tumpukan plastik, sisa makanan, dan barang bekas itu, kehidupan terus bergulir. Namun, bagi warga sekitar, hidup berdampingan dengan gunungan sampah bukan sekadar persoalan estetika, tetapi juga soal keselamatan dan kesehatan.

Setiap hari, kekhawatiran akan longsor sampah menjadi bayang-bayang yang tak pernah hilang. Bau menyengat, nyamuk, dan risiko penyakit menjadi bagian dari keseharian. Menurut Jurnal Ekologi, Masyarakat, dan Sains (EMS), warga sekitar TPST Bantar Gebang menghadapi ancaman serius berupa kemungkinan longsor serta penyakit kulit, gangguan pernapasan, hingga demam berdarah. Kondisi ini menegaskan bahwa pengelolaan sampah bukan lagi isu teknis, melainkan persoalan kemanusiaan.

Rencana Pembangkit Listrik dari Sampah: Langkah Kecil, Harapan Besar

Foto: Merdeka.com

Di tengah situasi yang memprihatinkan, muncul kabar yang memberi secercah harapan. Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik. Menurut laporan CNBC Indonesia, pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik berbahan baku limbah di 34 kota dalam waktu dua tahun.

Bagi masyarakat Bantar Gebang, kabar ini ibarat angin segar setelah puluhan tahun hidup di bawah bayang-bayang tumpukan sampah. “Alhamdulillah bila ada keputusan seperti itu, dan ini proyek yang saya tunggu. Semoga berjalan dengan baik dan lancar,” ujar Fauzan (17), warga yang sejak kecil tinggal di sekitar TPST.

Hal serupa disampaikan Nadya (24), warga lainnya yang juga merasakan dampak bau dan kekhawatiran setiap hari. “Aku setuju banget, apalagi sekarang sampahnya makin tinggi dan makin seram lihatnya,” ujarnya.

Dukungan warga menunjukkan adanya keinginan kuat untuk perubahan, dan pada saat yang sama menegaskan bahwa masyarakat siap menjadi bagian dari solusi, bukan hanya objek kebijakan.

Tanggung Jawab yang Tak Bisa Diserahkan Sepenuhnya pada Teknologi

Meski rencana pembangunan pembangkit listrik dari sampah terdengar menjanjikan, kita perlu berhati-hati melihatnya. Teknologi, betapapun canggihnya, tidak bisa menggantikan kesadaran manusia dalam mengelola sampah dari sumbernya. Selama masyarakat masih memandang sampah sebagai “urusan pemerintah”, maka gunungan Bantar Gebang hanyalah satu dari sekian banyak yang akan muncul di masa depan.

Pemerintah memang wajib menghadirkan solusi jangka panjang, tetapi masyarakat pun memiliki peran yang sama pentingnya. Pengurangan sampah sejak dari rumah, perubahan pola konsumsi, dan kebijakan daerah yang memperkuat sistem daur ulang menjadi faktor penentu keberhasilan. Tanpa itu semua, pembangkit listrik berbahan limbah hanya akan menjadi penambal sementara dari masalah yang jauh lebih mendasar.

Kita juga perlu mengawasi agar proyek ini tidak berhenti pada simbol kemajuan, melainkan benar-benar menjawab kebutuhan warga sekitar: perlindungan kesehatan, pengelolaan limbah yang berkelanjutan, serta keadilan bagi mereka yang hidup di tengah dampak lingkungan.

Refleksi Akhir: Titik Terang di Bantar Gebang

Besar dan tumbuh di lingkungan yang mengancam kesehatan bukanlah hal mudah. Namun, semangat warga Bantar Gebang untuk menyambut perubahan menunjukkan keberanian yang patut diapresiasi. Ketika sebagian masyarakat memilih menutup mata terhadap persoalan sampah, warga di sana justru menjadi saksi hidup bahwa sampah bukan sekadar limbah, melainkan cermin dari perilaku sosial kita.

Langkah pemerintah untuk mengubah sampah menjadi energi adalah awal yang baik. Tapi perubahan sejati hanya akan hadir ketika setiap warga turut mengambil bagian—dari memilah sampah di rumah hingga menuntut transparansi kebijakan publik.

Dibalik tumpukan plastik dan bau menyengat itu, ada harapan yang tumbuh. Harapan untuk hidup lebih sehat, untuk melihat langit Bantar Gebang kembali cerah, dan untuk membuktikan bahwa di atas gunungan sampah pun, masa depan bisa dibangun—asal ada kemauan untuk berubah.

Referensi:

Editor: Inesia Dian

Bagikan ke :

2 thoughts on “Ketika Harapan Hadir di Tengah Gunungan Sampah

Comments are closed.