Kemenhut Ajak Dunia Perkuat Kolaborasi untuk Hutan Global Berkelanjutan

Greenmind.id, Bali — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Food and Agriculture Organization (FAO) membuka secara resmi Global Forest Observations Initiative (GFOI) Plenary 2025 di Nusa Dua, Bali (22/8/25). Acara ini dihadiri lebih dari 300 peserta dari berbagai negara, termasuk lembaga internasional, akademisi, dan pakar kehutanan dunia.

Dalam sambutannya, Staf Ahli Menteri Bidang Perubahan Iklim, Haruni Krisnawati, menegaskan bahwa hutan Indonesia memiliki peran strategis bukan hanya sebagai penyimpan karbon terbesar di dunia, tetapi juga penopang ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat.

“Pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan harus berjalan beriringan. Melalui target FOLU Net Sink 2030, Indonesia menunjukkan komitmen menuju pembangunan berkelanjutan,” ujar Haruni.

Kemenhut memperkenalkan dua inovasi utama yang memperkuat sistem monitoring hutan nasional:

SIMONTANA, platform pemantauan tutupan hutan secara real-time.

SIPONGI, sistem deteksi dini kebakaran hutan dan lahan.

Kedua sistem ini terintegrasi dengan teknologi kecerdasan buatan (AI), penginderaan jauh (remote sensing), dan inventarisasi tapak, menjadikan data kehutanan Indonesia semakin transparan, kredibel, dan diakui oleh dunia internasional melalui pedoman IPCC serta pelaporan rutin ke UNFCCC.

Pelaksanaan GFOI Plenary 2025 di Indonesia menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi global dan berbagi inovasi dalam pengelolaan hutan berkelanjutan. Kemenhut menegaskan bahwa pengelolaan hutan masa depan hanya bisa dicapai melalui sinergi antara sains, kebijakan, dan teknologi.

“Kita perlu menjembatani sains dengan kebijakan, teknologi dengan tradisi, dan negara maju dengan negara berkembang. Hanya dengan kolaborasi global, masa depan hutan bisa terjaga,” tutup Haruni Krisnawati.

Selama tiga hari pelaksanaan, forum ini membahas pemantauan hutan, kebakaran hutan, serta produksi komoditas berkelanjutan. Kemenhut juga menggelar side event bertema “Monitoring Indonesia’s Forests Towards FOLU Net Sink 2030”, menegaskan arah Indonesia menuju kehutanan hijau yang adaptif dan berketahanan iklim.

Bagikan ke :