Greenmind, Jakarta — Rachmat Kaimuddin menegaskan bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang dihadapi bersama. Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya peran nyata generasi muda dalam mempercepat transisi menuju energi bersih dan gaya hidup berkelanjutan.
Rachmat menyampaikan, perubahan iklim disebabkan oleh meningkatnya gas rumah kaca akibat pembakaran bahan bakar fosil. Ia menilai bahwa upaya mengurangi dampaknya tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja, tetapi membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk keterlibatan aktif anak muda.
“Kalau kita ingin menghentikan atau mengurangi dampak climate change, artinya kita harus mengurangi pembakaran bahan bakar fosil. Itu kata kuncinya. Dan itu tidak bisa dilakukan sendiri,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Rachmat juga mengisahkan pengalamannya berdialog dengan pelaku bisnis yang masih ragu beralih ke produk ramah lingkungan, meski secara teknologi dan biaya sudah memungkinkan. Menurutnya, keraguan pasar dan ketakutan terhadap minat konsumen menjadi tantangan tersendiri dalam mendorong inovasi hijau.
Selain sektor bisnis, ia menyoroti kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia yang dinilai belum tepat sasaran karena lebih banyak dinikmati oleh kelompok masyarakat mampu. Rachmat mengungkapkan, pemerintah menghadapi dilema dalam mengubah kebijakan tersebut karena berisiko menimbulkan gejolak sosial.
Di akhir pidatonya, Rachmat mengajak generasi muda untuk menyadari kekuatan mereka sebagai mayoritas penduduk Indonesia yang berpengaruh besar terhadap arah kebijakan dan pasar.
“Pilihan konsumsi kalian penting, suara kalian juga penting. Kalian bukan hanya penonton, tapi agen perubahan. Your choice, your voice, and your consumption matter,” tegasnya.
Ia menutup dengan pesan optimistis bahwa masa depan bumi ada di tangan generasi muda yang berani mengambil langkah nyata menuju energi bersih dan kehidupan berkelanjutan.
